Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 13.11


__ADS_3

Makan malam berjalan dengan lancar dan menyenangkan seperti malam-malam biasanya di pondok pesantren. Terutama untuk Nadira sendiri yang baru pertama kali ikut bergabung. Dia sangat menikmati suasana pondok pesantren dan bahkan lebih senang lagi dengan teman-teman barunya. Tidak seperti di Mesir yang jauh dari tanah air, di sana dia kesulitan mendapatkan teman karena orang Indonesia tidak terlalu banyak di sekolahnya. Selain itu orang-orang Indonesia tidak memperlakukannya dengan istimewa seperti yang dilakukan orang-orang ini sekarang. Benar, baru saja pindah ke sini dia sudah dikelilingi banyak orang yang ingin menjalin hubungan pertemanan dengannya. Kemanapun dia pergi langkahnya selalu dikawal oleh orang-orang dan mereka bahkan memujinya dengan berbagai macam ungkapan menyenangkan. Nadira terharu dan sangat senang, sudah lama sekali dia tidak sebahagia ini.


Dan kebahagiaannya kian berlipat ganda saat ada yang dia kagumi di sini. Senang rasanya menghirup udara yang sama dengan orang itu.


"Nadira, lihat gadis berkerudung abu-abu itu." Salah satu santriwati mengangkat tangannya menunjuk seorang gadis berjilbab abu-abu.


Gadis itu sangat cantik. Senyumnya begitu indah bahkan meskipun hanya menarik gadis tipis saja. Untuk sementara Nadira dibuatnya terpana. Sungguh, dia belum pernah melihat gadis secantik ini. Tidak, bukannya dia tidak pernah melihat seorang wanita cantik. Malah dia sudah sering melihatnya. Tapi jujur saja, jarang baginya melihat gadis yang cantik lagi menarik, menurutnya ini langka dan gadis berjilbab abu-abu itu adalah salah satunya.


"Siapa dia?" Tanya Nadira setelah menenangkan hatinya.


Temannya tersenyum dengan ekspresi gosip,"Namanya Aish, kamu sekarang sekelas dengannya. Dia adalah pindahan dari kota dan baru menetap di sini satu bulan yang lalu. Menurut kamu apakah dia cantik?"


Nadira mengangguk jujur.

__ADS_1


"Cantik." Bahkan sangat cantik malah.


Temannya berdecak heran.


"Benar, dia memang cantik. Tapi apakah kamu masih menganggapnya cantik saat tahu dia adalah saingan cinta mu?"


Nadira terkejut. Hatinya berdegup kencang namun sebisa mungkin dia tidak menunjukkan di depan orang lain.


"Maksud kamu?" Tanyanya tidak yakin.


"Gadis itu suka sama habib Thalib. Sejak masuk ke pondok pesantren dia sangat suka membuat masalah bersama teman-temannya agar bisa menarik perhatian habib Thalib. Dan salah satu korbannya adalah Khalisa. Gara-gara dia dan teman-temannya, Khalisa jadi dimarahin habib Thalib dan bahkan sampai dikeluarkan dari staf kedisiplinan asrama putri. Astagfirullah, aku kasian banget sama Khalisa karena semua jerih payahnya di pondok langsung terhapus dalam waktu yang sangat singkat." Cerita temannya melebih-lebihkan cerita.


Siapapun yang mendengar pasti bisa menebak jika gadis ini sepertinya tidak terlalu menyukai Aish dan teman-temannya.

__ADS_1


Nadira marah mendengarnya, tapi masih bisa bersikap tenang.


"Astagfirullah, jangan berbicara omong kosong. Kamu tahu enggak kata-kata kamu dapat merusak nama baik orang lain?" Tanya Nadira tidak langsung mempercayainya.


Dia tidak percaya ada orang senakal itu di pondok pesantren.


Temannya cemberut.


"Aku enggak bohong, Nadira. Kalau kamu enggak percaya, tanya aja anak-anak yang lain atau kalau mau lebih meyakinkan, langsung tanya Khalisa aja biar kamu semakin percaya."


Nadira jadi ragu. Jika mungkin maka Aish dan teman-temannya pasti berbahaya. Hanya saja, kenapa habib Thalib masih mendengarkan Aish jika benar apa yang dikatakan oleh temannya?


Bersambung...

__ADS_1


Pusing


__ADS_2