
Sekarang suaminya sudah memberikan, mana mungkin dia tidak memahami apa yang diinginkan oleh suaminya. Selain itu pada dasarnya dia tumbuh berani di kota dan dia juga bukan santriwati tulen yang tumbuh di pondok pesantren. Maka permintaan suaminya, sungguh tidak sulit selama dia mau melakukannya.
"Tahu...mas Khalid. Mas, aku telah membaca banyak buku tentang pernikahan selama melewati hari-hari persiapan minggu ini. Aku telah membaca banyak analisa dari beberapa penulis. Dari semua yang ku baca aku menyimpulkan bahwa suami adalah ladang pahala untuk istrinya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah mengatakan bahwa seorang istri sangat mudah memasuki surga." Dia terdiam sejenak, memikirkan penggalan hadits yang dia baca semalam bersama kedua sahabatnya.
Pasalnya hadis itu membawa kabar gembira untuk mereka kaum para wanita yang akan berakhir menjadi seorang istri.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ
__ADS_1
“Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), menjaga *********** (dari perbuatan zina) dan taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita tersebut, “Masuklah ke surga melalui pintu manapun yang engkau suka.” (HR. Ahmad; shahih)
Berita gembira ini sungguh membahagiakan bila ditelaah dengan baik dan dipahami, lalu di aplikasikan ke dalam kehidupan rumah tangga.
Namun,
"Kami para wanita yang berakhir menjadi seorang istri diberikan jalan yang mudah untuk memasuki surga Allah subhanahu wa ta'ala. Akan tetapi hal yang paling menakutkan adalah saat aku membaca bahwa kebanyakan penghuni neraka diambil dari para wanita. Dan salah satu kesalahan yang membuat mereka masuk ke dalam rangka adalah karena gelar istri yang mereka pegang selama berada di dunia ini. Karena kami adalah seorang istri yang bertugas menjaga rumah, merawat dan membersihkan, lalu memberikan yang terbaik untuk suami sampai-sampai mengorbankan banyak hal membuat kami para istri terkadang merasa superior. Tanpa sadar kelelahan yang kami rasakan memupuk kami menjadi istri dan Ibu yang pembangkang. Sebab Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah mengatakan bahwa dikala seorang istri ataupun seorang Ibu dikuasai emosi ataupun kemarahan, mereka akan menumpahkan apa yang mereka rasakan dan mengeluarkan kata-kata superior seperti kebaikan suami tidak dihitung selama pernikahan hanya karena satu kesalahan, berbicara kata-kata kasar kepada suami dan anak-anak, lalu mendoakan hal-hal buruk terjadi kepada anak-anaknya. Mas Khalid, setelah mengetahui hal ini tiba-tiba aku merasa bahwa menjadi wanita sungguh sangat berat di dunia ini. Aku sangat takut, sungguh diriku sangat takut. Aku tidak ingin menjadi wanita seperti itu. Wanita yang pembangkang kepada suaminya dan mendoakan kata-kata buruk kepada anak-anaknya, ya Allah, aku sangat takut menjadi wanita seperti itu. Wanita ditakdirkan menjadi penghuni neraka, nauzubillah... Aku tidak mau berakhir menjadi wanita ini, mas. Maka dari itu sebelum acara akad dimulai aku berpikir keras dan memutuskan untuk menjadi pelayan bagimu suamiku. Selama aku mampu, diri ini akan memberikan semua yang kamu inginkan dariku. Selama aku mampu melakukannya. Dan aku mohon kepadamu wahai suamiku. Ketika diri ini lepas kendali melangkah ke arah yang salah dan tidak diridhoi oleh Allah subhanahu wa ta'ala, tolong hentikan aku suamiku. Tolong bantu aku kembali ke jalan yang seharusnya. Karena aku berharap pernikahan kita diridhoi oleh Allah subhanahu wa ta'ala, alasannya karena aku tidak ingin dipisahkan darimu ketika kita di akhirat nanti. Aku mendengar bahwa para suami di dunia ini akan dipertemukan dengan wanita yang lebih baik lagi di akhirat nanti. Dengan wanita yang cantik, gemulai dan diciptakan indah oleh Allah subhanahu wa ta'ala, sungguh hatiku sangat cemburu. Aku tidak mau membayangkan hal itu terjadi kepadamu wahai suamiku. Aku tidak menginginkan hal ini karena bagiku, kamu adalah duniaku. Kemanapun dirimu pergi diri ini akan selalu mengikuti, oleh karena itu tolong jangan tinggalkan aku wahai suamiku. Diri ini memang kekurangan ilmu, sulit memahami ilmu, dan selalu diliputi oleh kekurangannya yang menjengkelkan hati. Oleh sebab itu, tolong ajari aku dan bimbing aku di dalam pernikahan ini agar aku menjadi istri yang kamu ridhoi wahai suamiku, dan begitupun Allah meridhoi nya. Bagi seorang istri, seorang suami adalah ladang pahala untuk dirinya. Jadi sebagai istri, apapun aku lakukan untuk menyenangkan kamu wahai suamiku. Demi mendapatkan ridho dari mu, dan mendapatkan ridho dari Allah subhanahu wa ta'ala hingga aku tak terpisahkan darimu di akhirat kelak. Jadi, sekali lagi aku memohon kepadamu wahai suamiku. Jangan pernah lepaskan tanganmu dariku dan jangan pernah tinggalkan aku dalam langkahmu, sungguh tiada lagi yang kuinginkan di dunia ini selain menjadi istrimu di dunia ini dan istrimu pula di akhirat nanti."
Melihat ketakutan di mata istrinya, sang Habib refleks membawa istrinya ke dalam pelukan. Dia memeluk erat istrinya, seerat mungkin untuk menunjukkan bahwa dia juga merasakan perasaan takut itu. Dipisahkan dari wanita yang dicintai, belahan jiwa yang telah terukir dalam jauh di dalam hati, rasa sakitnya sungguh tak terkira. Dia tak mampu membayangkan semua itu, tidak, dia sungguh sangat tidak mampu membayangkan semua kesakitan itu terjadi kepada istrinya, sebab dia juga merasakan sakit.
__ADS_1
"Demi Allah, istriku, selama sisa hidupku di dunia ini, selama sisa waktuku di dunia ini, aku tidak akan pernah membiarkan kamu mengambil langkah yang salah. Aku tidak akan pernah membiarkan kamu melangkah jauh dari ridho Allah subhanahu wa ta'ala. Karena harapan tertinggi ku di dunia ini adalah menjadikan kamu sebagai wanita surga untuk diriku sendiri, menjadikan kamu sebagai istri pertama dan terakhir ku di dunia maupun di akhirat. Selepas dari permohonan ini, sisanya aku serahkan kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Aku menyerahkan semuanya sembari berdoa bahwa Allah subhanahu wa ta'ala membuka hatimu untuk kebaikan dan menjaga rumah tangga kita hingga titik kita kembali ke tempat yang seharusnya. Jadi jangan khawatir. Aku akan selalu memegang tangan kamu apapun yang terjadi dan aku akan selalu berjalan bersamamu meniti jalan yang lurus, mengharapkan ridho Allah. Istriku," Sang Habib melepaskan pelukan mereka. Ketika melihat wajah basah istrinya yang tengah menangis dalam diam, hatinya langsung sakit. Dengan lembut dia mengusap cairan hangat yang telah lancang melewati pipi istrinya.
"Tahukah kamu bahwa sepanjang jalan meraih dirimu, ada banyak sekali orang yang rela dijadikan kedua, ketiga ataupun keempat di dalam rumah tangga kita. Mereka adalah wanita baik-baik, dengan penampilan yang baik pula serta luas akan ilmu. Dengan kelebihan ini aku masih saja menolak mereka. Sungguh, Allah lebih tahu isi hatiku daripada diriku sendiri. Ketegasanku dalam menolak suara-suara mereka bukan karena janjiku kepada Mama, tidak, meskipun aku memang berjanji kepadanya untuk tidak menduakan kamu tapi alasanku menolak mereka sungguh bukan karena ini."
Aish memegang tangan suaminya yang ada di pipi, menariknya dan mengecup tangan sang suami dengan kesungguhan di dalam hati.
"Lalu apa alasan suamiku menolak mereka semua jika bukan karena permintaan dari Mama?" Tanyanya dengan perasaan antisipasi.
Sang suami lalu tersenyum lembut. Malam ini tak terhitung jumlahnya berapa kali sang suami menatapnya dengan kelembutan- ah, mungkin sepanjang waktu sang suami selalu melihat dirinya dengan mata penuh kelembutan ini. Lembut, sungguh sangat lembut. Dia tidak bisa menghitung seberapa dalam kelembutan di dalam sorot mata itu. Nama yang pasti selalu ada dirinya seorang di dalam mata itu. Tak pernah dia melihat bila suaminya memberikan kelembutan kepada wanita lain, sungguh hatinya sangat bersyukur.
__ADS_1
Hati sang suami berdebar kencang melihat tindakan penurut istrinya yang pemalu,"Alasannya murni karena aku tidak menginginkan wanita lain ada di antara kita berdua. Istriku, kamu memang sebuah amanah di dalam hidupku. Satu amanah yang memiliki banyak sekali amanah sehingga butuh seumur hidup untuk menyelesaikan dirimu saja. Namun bukan ini poinnya. Poinnya adalah," Menatap dalam wajah merah istrinya yang basah, sorot mata ini sekali lagi membuat jantung sang istri menjadi kacau.
"Bahwa aku tidak rela, sungguh tidak rela bila ada wanita lain di dalam hubungan kita. Kamu pasti merasa sakit melihat wanita lain menginginkan diriku, tapi ketahuilah istriku, sesungguhnya aku juga merasa sakit untuk rasa sakit yang kamu rasakan itu. Melihatmu menangis karena sakit hati juga cemburu merupakan pukulan menyakitkan di dalam hatiku. Aku tidak mau, sungguh tidak mau melihatmu bersedih sebab aku yang paling sakit jika kamu bersedih. Oleh karena itu selama mengejar dirimu, aku telah bersumpah kepada diriku sendiri bahwa aku tidak akan pernah melihat atau berpaling kepada wanita lain untuk menjaga hatimu dan menjamin kebahagiaan diriku. Bila kamu bahagia maka aku akan lebih bahagia, namun bila kamu bersedih maka aku akan lebih bersedih. Dan tahukah kamu wahai istriku bila nama dirimu tak pernah lupa aku sebutkan di dalam sujud sujudku. Berdoa agar Allah membuka hatimu untuk diriku seorang, berdoa agar pernikahan kita selalu dilindungi oleh-Nya, dan berdoa agar hatiku selalu terbuka untuk dirimu seorang, tiga doa ini tak pernah lelah ku lambungkan ke langit. Tidak pernah lelah karena aku tahu bahwa Allah selalu mendengarkan orang-orang yang berserah diri kepada-Nya. Istriku, ibadah ini amat sangat panjang jadi untuk menuntaskannya kita harus bekerja sama. Melalui semua kesulitan bersama, melewati kebahagiaan bersama, suka ataupun duka, kita akan selalu bersama. Apakah kamu mau istriku?"