
"Bagaimana, cantik bukan?" Tanya bibi masih dengan senyuman lembut menghangatkan di wajah tuanya.
Tersihir olehnya, Aish yang belum pernah merasakan bagaimana kasih sayang seorang Ibu dan telah lama merindukannya tanpa sadar menarik garis senyuman. Mereka baru bertemu hari ini namun bibi memberikan kesan yang sangat dalam kepadanya dalam waktu yang sangat singkat.
"Cantik sekali, bibi. Bunga-bunganya mekar dengan indah dan memiliki warna yang sangat sehat. Bibi tahu tidak, toko bunga yang sering ku kunjungi dulu mungkin tidak memiliki warna secantik ini." Kata Aish serius.
Membuat bibi lantas tertawa. Menantunya memiliki bibir yang manis.
__ADS_1
"Tentu saja, apa yang suami kamu tanam jauh lebih baik daripada milik orang-orang itu. Karena suami kamu menanamnya dengan cinta dan kasih sayang yang ditujukan untuk kamu, sementara mereka menanamnya hanya untuk berbisnis, jadi kualitas mereka tidak sebaik milik Khalid." Bibi membanggakan habib Khalid di depan Aish, seolah-olah habib Khalid adalah anak laki-laki yang lahir dari rahimnya sendiri.
"Um...bibi benar." Ketika sampai pada topik pembicaraan tentang dirinya, Aish langsung berubah menjadi gadis pemalu di depan bibi.
Bibi gemas melihatnya. Tapi dia tidak bisa terus menunda karena habib Khalid mungkin akan mengeluh lagi. Jadi dia segera membawa Aish menuju kamar pengantin yang berada di ujung lorong lantai dua. Rumah ini terdiri dua lantai dengan tiga ruangan saja di lantai dua dan ruangan lainnya dibangun di lantai satu.
Di lantai dua ada perpustakaan, ruang santai dan kamar habib Khalid. Kamar habib Khalid cukup luas karena di dalamnya juga ada meja kerja tempat sang habib bekerja bila sedang lembur.
__ADS_1
Saat membawa langkah kakinya masuk ke dalam kamar pengantin, Aish langsung kaget melihat betapa indahnya kamar ini. Tidak, lebih tepatnya mempesona dengan sentuhan ambiguitas. Seperti kamar pengantin pada umumnya, kamar ini juga dipenuhi oleh kelopak mawar merah dimana-mana yang membuat hati langsung berdebar kencang. Ini sangat merah sampai-sampai Aish tidak tahan terus menatapnya. Kemudian dia memalingkan wajahnya melihat sudut-sudut kamar ini. Ada lemari kayu, rak buku, meja kerja dan yah...bunga mawar merah dimana-mana. Aish hampir dibutakan olehnya.
"Kemari, duduklah di sini." Bibi menarik Aish dari mata yang terus-menerus berkedip memandangi gambar ini karena penasaran.
Reaksinya sangat lucu dan menggelikan.
Bibi membawa Aish ke depan udah mendudukkannya di tepi kasur. Lalu dia juga duduk di sampingnya, meraih tangan Aish dengan rasa ke Ibuan. Habib Khalid adalah keponakannya tapi sudah menjadi anak nya. Tepatnya semenjak orang tua habib Khalid meninggal, habib Khalid otomatis dibesarkan olehnya dan menjadi tanggung jawabnya bersama suami.
__ADS_1
Sekarang putranya sudah menikah dengan gadis yang dia cintai. Maka sudah sewajarnya dia sebagai seorang Ibu memberikan beberapa patah kata nasehat untuk kebahagiaan rumah tangga mereka di masa depan nanti.
"Nak, tanggung jawab orang tuamu terhadap kamu sekarang telah berpindah kepada Khalid, suami kamu. Ridho Allah subhanahu wa ta'ala kini terletak pada ridho suami kamu. Bila Khalid ridho terhadap kamu, maka Allah pun ridho terhadap kamu pula. Dan bila Khalid murka kepadamu, maka Allah tidak akan ridho kepadamu, Nak. Maka dari itu ingatlah ini baik-baik di dalam hatimu. Perlakukan Khalid dengan baik dan berusahalah menjadi istri yang soleha untuknya. Istri yang mendengarkan apa yang dia perintahkan, istri yang menuruti apa yang dia inginkan, istri yang pandai membuatnya tersenyum, istri yang selalu ada dalam duka dan citanya, istri yang bersedia menanggung kesulitan ataupun kemudahan bersamanya, dan menjadi istri yang selalu ada untuknya. Nak..."