Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 13.3


__ADS_3

Ia tahu dan masih berpura-pura meragukannya itu karena Aish merasakan perasaan dimusuhi oleh dokter Ira. Orang ini memiliki rasa permusuhan yang sangat kuat kepadanya. Seakan Aish berhutang 1 milyar kepadanya yang tidak kunjung dibayar.


Aish merasa aneh, kan?


Bertemu saja hanya beberapa kali tanpa banyak omong apalagi bersikap akrab, ia tak sedekat itu dengan dokter Ira.


Lalu mengapa dokter Ira memusuhinya sedemikan rupa?


Aish juga tidak tahu.


"Tidak perlu ke rumah sakit, santriwati atas nama Gisel memang diberikan izin untuk menyimpan coklat oleh pondok pesantren sebelum masuk ke sini." Suara rendah habib Khalid menginterupsi perdebatan mereka.


Aish tersadar dan kembali teringat jika sang habib masih di sini. Malu, ia langsung mundur ke samping untuk bersembunyi. Bodohnya, ia sedang mengejar cinta sang habib jadi tak seharusnya ia bersikap ceroboh di depannya. Tapi... jika ia tidak berdebat tadi maka hal sahabatnya tidak akan tersampaikan.


Ugh, ia jadi serba salah.


"Nasha, tolong kembalikan coklatnya." Instruksi sang habib kepada Nasha.


"Baik, habib." Nasha akhirnya bisa menghela nafas lega setelah beberapa menit tegang melihat perdebatan Aish dan dokter Ira.


Sebagai ketua harusnya dia turun tangan untuk menengahi tapi dia tidak bisa karena dokter Ira adalah seorang dokter dan Aish adalah orang yang memperjuangkan hak temannya, sekilas masalah ini sebenarnya sangat serius. Dia harus ikut campur tapi tidak bisa.


Nasha lalu mengambil coklat-coklat itu dari dalam ember dan mengembalikannya kepada Gisel.


Gisel buru-buru mengambilnya, mengucapkan terima kasih dan memeluk coklat-coklat itu dengan erat. Dia benar-benar membutuhkan coklat ini.


Aish sangat senang, terlepas dari masa lalunya terhadap sang habib, dia tidak bisa menutupi ekspresi kemenangannya di depan dokter Ira karena daripada mendengarkannya sebagai dokter, habib Khalid justru lebih mendengarkannya sebagai orang awam.


"Maaf, habib. Aku tidak tahu bila dia sudah mendapatkan izin dari pondok pesantren." Wajah dokter Ira sangat merah karena menahan malu juga amarah.


Habib Khalid tidak mengatakan apa-apa. Kepalanya masih tertunduk enggan mengangkat kepalanya. Sementara itu orang-orang di belakangnya berjalan bolak balik mengeluarkan ember demi ember dari kamar ini dan membariskan nya di lorong. Selain mereka, ada juga dua kelompok lain yang menggeledah kamar santriwati lainnya. Mereka sibuk mengeluarkan beberapa ember makanan dan membariskan nya di lorong. Ada juga beberapa ember yang berisi buku terlarang dan surat cinta yang disita dari sebuah kamar yang sontak membuat banyak keributan.


"Jika sudah selesai, ayo lanjutkan ke kamar lainnya." Kata sang habib memberikan instruksi.


Aish rasanya tidak rela. Ia melihat punggung sang habib yang akan meninggalkan kamar ini. Panik, otaknya langsung berpikir cepat. Ia melihat coklat yang dipeluk oleh Gisel dengan mata yang sangat cemerlang.

__ADS_1


"Gis, pinjam coklat mu satu. Aku janji bakal beliin kamu satu paket coklat yang sama." Janji Aish buru-buru.


Gisel tidak keberatan. Meminjamkan coklat kepada Aish maka berarti menjamin pasokan coklatnya di masa depan.


"Okay. Sebenarnya sih enggak perlu." Katanya malu.


Dia memberikan Aish satu coklat yang menurutnya paling lezat. Dia kira coklat ini akan Aish makan sendiri tapi tahunya untuk seseorang.


"Terima kasih." Aish langsung melarikan diri mengejar sang habib.


"Kak-" Aish menelan suaranya yang akan berteriak.


Jika ia memanggil nama habib Khalid di sini, mungkinkah dirinya akan diganyang ramai-ramai oleh para santriwati? Pasalnya semua orang sedang emosi sekarang jadi tak seharusnya ia membuat masalah, kan?


"Habib Thalib!" Panggil Aish mengejutkan banyak orang.


Langkah habib Khalid berhenti tapi dia sama sekali tidak menoleh ke belakang.


Aish menggenggam coklatnya seerat mungkin dan berlari kecil menghampiri sang habib.


Habib Khalid meliriknya dingin,"Apa?"


Langkah Aish langsung berhenti. Tenggorokan tiba-tiba tercekat. Ia masih ingat- tidak akan pernah lupa bahkan bila sang habib sangat tidak suka dipanggil dengan sebutan ini.


Menelan suaranya yang hampir berbicara lagi, ia langsung memutar otaknya untuk membuat keputusan.


"Kak...kak Khalid." Panggil Aish tidak bersuara kecil.


Panggilannya lagi-lagi menarik perhatian banyak orang. Terutama untuk dokter Ira sendiri yang masih marah dengan Aish.


Mata habib Khalid segera melunak.


"Ada apa?" Tanyanya lembut.


Aish langsung menghela nafas lega. Ia berjalan ke depan, melewati beberapa staf asrama putri dan berjalan ke depan tanpa memperhatikan ekspresi muram dokter Ira yang baru saja ia lewati.

__ADS_1


"Kak Khalid, terima kasih karena telah membantu kami." Kata Aish malu sekaligus bangga karena dapat berbicara dengan sang habib.


"Tidak perlu berterimakasih, itu adalah tugas ku." Katanya terkekeh.


Aish juga tahu. Tapi sekarang ia sedang menjalankan proyek pengejarannya kepada sang habib sehingga ia harus lebih aktif dan jangan terlalu pasif!


"Aku tahu. Tapi aku sangat berterima kasih. Dan ini untuk kak Khalid." Aish menyerahkan coklatnya kepada sang habib.


Habib Khalid tanpa sadar merendahkan matanya untuk melihat coklat batangan di tangan Aish. Coklat ini tampaknya sedikit familiar.


Sang habib lalu mengangkat kepalanya menatap Aish,"Ini coklat temanmu?" Tanyanya heran.


Aish meneguk ludahnya gugup.


Wajahnya langsung tersipu malu dihadapan sang habib. Ia tidak berani mengangkat kepalanya menatap habib Khalid.


"Aku...aku meminjamnya, kak. Dan aku sudah berjanji akan membelikannya coklat yang baru." Kata Aish mengakui.


Ia sudah janji kok jadi coklat ini sudah menjadi miliknya.


Habib Khalid tersenyum geli, dia lalu mengambil coklat itu dari tangan Aish dan memasukkannya ke dalam kantong pakaiannya.


"Aku mengambilnya, terima kasih untuk coklatnya."


Aish sangat senang. Kedua tangannya mengepal senang karena habib Khalid menerima hadiah darinya. Ia tadi sempat ragu bila habib Khalid menolak pemberiannya dan sempat gugup saat habib Khalid mempertanyakan darimana sumber coklatnya berasal.


"Sama-sama, kak. Kalau begitu aku akan kembali ke kamar dulu. Assalamualaikum." Aish berlari kembali ke dalam kamarnya, sekali lagi mengabaikan ekspresi aneh wajah para santriwati dan staf kedisiplinan asrama putri yang menonton pertunjukan Aish.


"Waalaikumussalam." Bisik habib Khalid menjawab salam.


Padahal tadi mereka mengira habib Khalid akan menolak pemberian Aish karena orang yang memberikan hadiah kepada sang habib tidak hanya satu orang dan orang yang ingin memberikan sang habib coklat juga tidak hanya satu orang namun tak ada satupun hadiah dari orang-orang itu diterima oleh habib Khalid. Tidak sampai Aish datang, gadis pertama yang hadiahnya diterima oleh sang habib.


"Ayo pergi." Sang habib melanjutkan penjelajahan lagi, mengabaikan diskusi yang sedang hidup dibelakangnya.


"Kak Nasha, mengapa habib Thalib menerima hadiah gadis itu?" Tanya seorang santriwati kepada Nasha.

__ADS_1


Nasha juga bingung. Kedekatan Aish dan habib Khalid bukan sekali ini saja terlihat di matanya, dan dia tidak tahu bagaimana menggambarkan perasaannya saat itu. Mungkin tidak percaya dan kecemburuan, jelas setiap orang merasakannya. Mereka tidak percaya bila sang habib menjatuhkan hati kepada Aish.


__ADS_2