
"Oh, yah? Kalian harus bersabar kalau begitu. Tinggal di sini memiliki manfaat besar untuk kehidupan kalian kedepannya. Oh ya, namamu Aisha, kan?" Tiba-tiba dokter Ira mengganti topik pembicaraan.
Aish tetap menunduk.
"Ya, Aish." Koreksi Aish.
Aish segera menarik tangannya setelah dokter Ira menyelesaikan prosedur pengobatan.
"Terima kasih." Ucap Aish seraya bangun dari duduknya.
Setelah mengucapkan terima kasih, dia mengajak Dira dan Gisel kembali ke asrama karena mereka harus segera keluar untuk membeli gamis dan perlengkapan lainnya. Mereka tidak bisa menggunakan pakaian yang itu-itu saja. Di samping itu Aish juga ingin segera beristirahat untuk mengistirahatkan badannya yang pegal di asrama. Oleh karena itu dia ingin kembali ke asrama.
"Tunggu." Tahan dokter Ira.
Aish baru saja menyentuh gagang pintu klinik.
"Ya?" Aish tahu dokter Ira ingin berbicara dengannya.
Dokter Ira tersenyum.
"Apakah kamu mengenal habib Thalib sebelumnya?" Tanyanya.
Aish mengernyit. Dia tidak tahu apa maksud dokter Ira menanyakan ini kepadanya, akan tetapi intuisinya mengatakan jika ini bukanlah hal yang baik.
"Tidak. Aku baru mengenalnya di sini." Bohong Aish.
Samar, ekspresi dokter Ira menunjukkan kelegaan. Dia masih tersenyum, tapi kali ini senyumnya jauh lebih halus dibandingkan tadi.
__ADS_1
"Yah, ini jauh lebih masuk akal." Katanya terdengar aneh.
Aish bingung tapi tidak mau bertanya. Setelah mengangguk ringan kepada dokter Ira, dia langsung menarik gagang pintu klinik, kemudian keluar dengan Dira dan Gisel.
Di jalan setapak pondok pesantren menuju asrama, mereka bertiga sempat mengobrol ringan. Topik yang mereka bicarakan tidak jauh dari masalah Khalisa sebelum beralih membicarakan keanehan dokter Ira.
"Dokter Ira kok aneh banget yah?" Gumam Dira.
Gisel juga berpikir begitu.
"Aku kok ngerasa dia agak gimana gitu sama Aish."
Aish langsung menimpali.
"Bukan orang penting, jadi jangan dipusingin." Toh, mereka jarang bertemu dan mungkin tidak akan pernah lagi karena Aish ogah masuk klinik lagi di masa depan.
Asrama sangat ramai hari ini karena para santriwati relatif memanfaatkan kesempatan hari libur ini untuk bersantai-santai. Ada yang rebahan, baca kitab, mengobrol, atau makan di dalam kamar. Suasana santai ini sangat mempengaruhi hati mereka bertiga. Dan mungkin karena kejadian tadi pagi, orang-orang sekarang memiliki pandangan baru terhadap mereka bertiga. Terbukti dengan beberapa pasang mata yang iseng mengintip ke arah mereka bertiga.
"Aish, Gisel, Dira, kalian akhirnya kembali." Gadis datang menghampiri mereka begitu masuk ke dalam kamar. Kemudian dia melihat tangan Aish yang sudah diperban dengan baik sambil bertanya,"Bagaimana keadaan tanganmu, Aish? Aku dengar kamu sempat berselisih dengan kak Khalisa di depan kamar mandi?"
Aish meliriknya santai, tersenyum lembut,"Tidak apa-apa, hanya perselisihan sepele." Jawab Aish dengan nada hambar.
Gadis mengangguk pengertian. Kemudian dia tiba-tiba teringat dengan ajakan Aish kemarin.
"Lalu bisakah kita pergi sekarang?" Tanyanya lembut.
"Kemana?" Ini Gisel yang bertanya.
__ADS_1
"Katanya kalian mau pergi beli gamis hari ini?"
Gisel langsung teringat dengan rencana mereka kemarin. Dia ingin menjawab Gadis tapi suara Aish lebih dulu menginterupsi ucapannya.
"Jadi. Tapi kamu sepertinya sedang sibuk makanya aku tadi pagi minta Siti buat temenin kami keluar nanti." Ucap Aish sambil tersenyum.
Tanpa memperdulikan ekspresi malu di wajah Gadis, dia langsung menghampiri Siti yang sedang serius merapikan lemari pakaiannya.
"Ayo pergi. Temani kami keluar beli pakaian."
Siti tercengang melihat kedatangan Aish yang tiba-tiba. Dia sebenarnya tidak akrab bahkan lebih tidak terlalu senang dekat dengan Aish karena kesan yang Aish ciptakan sebagai anak kota sangat buruk.
Aish sama sekali tidak tersinggung dengan ekspresi sembelit Siti dan segera menarik tangannya agar ikut dengannya.
"Aku belum ngomong-"
"Tadi pagi kamu udah janji temenin kami." Potong Aish terdengar sangat tidak masuk akal ditelinga Siti.
Hei, kapan dia pernah berjanji untuk jadi pemandu mereka?
Dia tidak sebaik itu untuk dibodohi oleh ketiga anak kota pemberontak ini.
"Aish, Aish...aku bisa menemani kalian pergi dan tak perlu merepotkan Siti. Lagipula aku sudah tidak sibuk lagi." Kata Gadis malu-malu.
Tidak hanya Gadis yang heran melihat sikap Aish, namun Gisel dan Dira juga sama herannya. Seingat mereka, Siti belum pernah membuat janji apalagi berbicara beberapa patah kata kepada mereka tadi. Makanya mereka bingung ketika melihat sikap Aish.
Aish masih tersenyum, tipis, lalu berkata,"Kamu sangat sibuk, aku tidak berani mengganggumu. Ayo pergi."
__ADS_1