Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 17.12


__ADS_3

Wajah kedua bibi Aira langsung menjadi muram. Hati mereka gatal ingin menjangkau Dira dan meremas mulutnya yang kurang ajar itu. Jujur saja selama hidup ini mereka belum pernah bertemu dengan seorang gadis yang sangat kurang ajar dan bermulut pedas seperti Dira. Yah, itu wajar saja karena Dira dan Gisel adalah teman main Aish, jika itu teman main Aira maka mungkin perilaku mereka tidak akan sekurang ajar ini. Dengan sangat amat terpaksa mereka memaklumi sikap kasar itu.


Selain itu di sini juga ada habib Khalid calon suami dari keponakan tercinta mereka berdua. Mereka tidak ingin merusak citra baik keponakan tercinta mereka hanya untuk meladeni Aish.


"Nak, berbicaralah dengan sopan kepada orang yang lebih tua darimu. Bukankah ini adalah pelajaran yang paling dasar setelah kamu masuk ke dalam pondok pesantren ini?" Dengan menahan marah bibi berbicara selembut mungkin kepada Dira, bersikap seolah-olah orang yang berbicara kasar kepada Aish sebelumnya bukanlah dirinya.


Gisel tertawa dingin melihat pergantian wajah bibi. Sesungguhnya itu tidak mengejutkan karena Aira sendiri seperti itu.


Dia lalu menimpali,"Bibi, kami memang diajarkan untuk menghormati orang yang lebih tua daripada diri kami sendiri akan tetapi aturan ini berlaku jika lawan bicara kami juga menghormati kami. Namun bibi tidak menghormati kami sejak awal bertemu tadi dan langsung menuduh kami telah mengganggu keponakan tercinta bibi, padahal faktanya keponakan tercinta bibi lah yang mengganggu kami pertama kali. Dan sejujurnya kami sangat muak hanya dengan melihat wajahnya saja." Tukas Gisel sinis.


Nada bicaranya sama buruk dengan ekspresi di wajah, seolah-olah matanya sedang melihat kotoran yang menjijikan. Itu sama sekali tidak tersamarkan dan akan bodoh jika bibi dan Aira tidak bisa melihatnya. Mereka melihatnya dan langsung memahaminya, itu bisa terlihat dari perubahan warna di wajah mereka.


Ekspresi di wajah bibi terlihat sembelit.


"Berteman dengan Aish membuat kalian menjadi anak yang sangat kurang ajar. Jauhi Aish dengan begitu hidup kalian akan selamat di dunia ini dan tidak tumbuh menjadi anak yang durhaka." Pesan bibi muram.


Aira sangat marah di dalam hatinya tapi dia sekuat tenaga mengendalikan kemarahan itu. Dia selalu mewanti-wanti dirinya bahwa dia sekarang ada di pondok pesantren dan bukan di rumah.

__ADS_1


Hatinya sesak dan sakit dipermalukan oleh orang-orang yang pernah dikendalikan sebelumnya. Dan dia semakin sakit ketika mendengar penghinaan mereka terhadap Ibunya, wanita yang telah melahirkannya di dunia ini.


"Nenek lampir oh nenek lampir, orang yang seharusnya kami jauhi adalah keponakan tercinta kalian dan bukan Aish. Keponakan kalian itu sok suci, sok alim, dan sok paling tersakiti. Tapi faktanya dia adalah orang yang berhati hitam dan selalu mempermainkan perasaan orang. Lihat saja wajah bermuka duanya sekarang, kemana cadarnya dan kenapa dia tidak menggunakan cadarnya ke sini? padahal cadar itu selalu dia bangga-banggakan di kota dulu. Huh, dasar palsu." Dira menimpali dengan berbicara blak-blakan bahwa Aira adalah gadis yang sangat licik dan berhati hitam. Semua yang dia miliki adalah kepalsuan karena nyatanya Aira tidak sebaik yang terlihat.


Wajah Aira sangat merah karena malu dan marah. Mata coklatnya mulai beriak tampak menyedihkan. Kedua bibi itu langsung jadi cemas saat melihat keponakan tercinta mereka dijelek-jelekkan oleh orang lain.


Mereka membuka mulut untuk membalas tapi tangan Aira lebih dulu menghalangi mereka untuk berbicara. Dia harus memerankan perannya dengan baik saat ini.


"Aku tidak tahu apa yang kak Aish katakan tentang ku kepada kalian berdua. Tapi yang pasti aku ingin mengatakan bahwa aku sangat menyesal dengan masa lalu dan aku ingin meminta maaf, terutama kepada Gisel. Aku penuh akan kekurangan tapi saat itu aku sama sekali tidak bermaksud untuk membodohimu. Aku hanya ingin memberikan bantuan sedikit saja untuk masalah saat itu, aku tidak pernah menyangka jika akhirnya akan begini. Untuk masa lalu aku juga ingin meminta maaf kepada kak Aish. Gara-gara menjahili ku hingga masuk rumah sakit, kak Aish terpaksa dikirim ke sini. Karena itulah aku datang ke tempat ini. Aku ingin memperbaiki hubungan kami berdua sebagai keluarga, sama seperti dulu lagi." Aira berbicara dengan kepala tertunduk, tampak bersungguh-sungguh tapi memiliki sentuhan rasa iba saat melihat ekspresi sendu diwajahnya.


Kedua bibinya yang berdiri di samping pun ikut merasakan sakit melihat Aira seperti ini. Mereka merangkul punggung tipis Aira, mengelusnya lembut untuk menghiburnya.


"Masih saja bersandiwara, kamu memang orang yang tidak tahu malu." Ucap Dira jijik.


Mereka masih ingin berdebat lagi tapi Aish buru-buru memanggil Gisel dan Dira sebelum perdebatan terjadi lebih jauh lagi. Selain itu Aish juga ingin segera pergi dari sini karena dia tidak ingin bertemu dengan Ayah. Akan sangat canggung bila mereka bertemu nanti. Apalagi dia sudah terlanjur mengatakan bahwa dia tidak ingin berhubungan lagi dengan keluarga ini, jadi untuk sementara lebih baik menjaga jarak hingga hatinya menjadi jauh lebih tenang.


"Gisel, Dira, ayo ke sini." Panggil Aish enggan membawa kakinya ke tempat mereka.

__ADS_1


Dira dan Gisel tidak berbicara lagi, mereka langsung berbalik menghampiri Aish. Mereka tidak pernah memperhatikan habib Khalid karena terlalu asik berdebat dan mereka juga tidak tahu sejak kapan habib Khalid pergi meninggalkan Aish sendiri.


"Kamu makan apa?" Tanya Gisel iseng.


Mulut sahabatnya bergerak-gerak seperti sedang mengulum sesuatu.


Aish merasakan manis dari permen di dalam mulutnya, rasa manis itu menyebar hingga ke dalam hatinya dan dia pun tersenyum lembut.


"Permen, ini pemberian dari kak Khalid. Kalian nggak bakal kebagian, yah." Aish pamer kepada kedua sahabatnya.


Dira dan Gisel menatap iri kepada Aish. Meskipun hanya secuil permen tapi tetap saja itu pemberian dari orang yang kamu suka dan posisinya pasti sangat mahal.


"Cih, pamer." Sindir Dira.


Aish mengangkat bahunya tidak perduli dan malah bersukacita melihat mata-mata penuh cemburu kedua sahabatnya.


"Terus, balik ke asrama?" Tanya Dira.

__ADS_1


Aish tersenyum lebar tanpa memperdulikan bibi dan Aira yang masih berdiri canggung jauh di sana. Saat ini ketiga orang itu sedang memperhatikannya. Dia menggelengkan kepalanya geli tanpa menyembunyikan antusiasme di wajahnya.


"Kita nggak balik ke asrama tapi kita akan pergi sama kak Khalid ke pasar. Karena besok kita akan mulai bekerja jadi hari ini kita akan pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan yang akan kita gunakan di sawah besok." Ujar Aish menjelaskan.


__ADS_2