Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 20.1


__ADS_3

Aira langsung menyingkirkan senyumnya setelah masuk ke dalam bilik telepon. Di luar tadi dia sempat berpapasan dengan Dira. Untuk mempertahankan citranya, Aira berusaha tersenyum di depan wajah jutek Dira. Setidaknya dia akan membalas senyumannya di hadapan banyak orang, tapi hasil akhirnya sangat menyebalkan. Biar sama sekali tidak peduli dengan citra diri sendiri di hadapan banyak orang dan malah mengabaikan senyumannya. Dia sangat malu dan berusaha mempertahankan senyumnya untuk membuktikan bahwa dia adalah gadis yang rendah hati. Tidak seperti Dira, sombong dan sulit diatur.


Aira mengambil telepon dan mulai menekan nomor telepon rumah, lalu telepon pun tersambung. Beberapa detik kemudian orang rumah mengangkat teleponnya.


"Halo, assalamualaikum?" Suaranya semanis mungkin.


"Waalaikumsalam. Aira? Kamu, yang menelepon?" Itu adalah suara Bunda terdengar sangat excited.


Hati Aira langsung menghangat dibuatnya. Di pondok pesantren dia tidak punya siapapun untuk mengeluh dan mengadu, hidupnya pun tidak semudah yang dia bayangkan dulu. Ini membuatnya sangat merindukan rumah, terutama Bunda. Ada banyak hal yang ingin dia bicarakan dengan Bunda karena satu-satunya orang yang paling mendengarkan di rumah adalah Bunda. Selain itu dia tidak berani berbicara banyak kepada yang lain karena tidak ingin membuat mereka memandangnya aneh.


"Iya Bunda, aku kangen banget sama Bunda. Hidup aku sulit banget di pondok pesantren, Bun. Beberapa hari ini aku terpikir untuk kembali ke rumah." Suaranya mulai menceritakan ketidaknyamanannya di pondok pesantren.


Gara-gara Aish mengungkit identitasnya yang terlahir dari seorang Ibu tiri, Aira mencoba menahan diri untuk menemui Aish lagi. Selain itu Aish juga telah mempengaruhi teman-teman kamarnya sehingga dia tidak punya waktu untuk mencari Aish. Dia harus memulihkan pendapat teman-teman kamar kepada dirinya agar mereka kembali mempercayainya.


"Bunda tahu kamu tidak akan mudah nyaman di sana. Soalnya kamu belum pernah jauh dari rumah apalagi sampai menginap lama di rumah orang lain. Bunda juga beberapa hari ini kepikiran kamu, Nak. Bunda kangen banget sama kamu dan ingin menelpon kamu. Tapi Bunda ingat kalau pondok pesantren tidak mengizinkan kamu membawa ponsel jadi terpaksa Bunda menunggu kamu yang menelepon sendiri." Bunda terdengar tidak bersemangat di seberang sana.

__ADS_1


Bunda pasti sangat merindukannya. Apalagi ini pertama kali mereka berpisah lama dan tinggal berjauhan. Aira jadi sedih karena tidak ada di samping Bunda beberapa waktu ini. Tapi mau bagaimana lagi, dia sudah resmi tinggal di sini dan akan lucu bila dia kembali tanpa hasil.


"Mendengar apa yang Bunda bilang, Aira jadi makin kangen dan semakin bertekad untuk tinggal di pondok pesantren agar bisa membuat Bunda serta semua orang di rumah bangga. Memang sih butuh banyak waktu agar bisa nyaman di sini, apalagi teman-teman kamarku sekarang agak sulit bergaul karena diprovokasi sama kak Aish. Padahal awal masuk pondok pesantren aku punya banyak teman, tapi setelah kak Aish berbicara dengan teman-teman kamar, beberapa orang mulai menjauhiku."


Apa yang Aira katakan langsung membuat hati Bunda sakit serta khawatir. Dia cemaskan putrinya yang sedang berjuang di luar kota sana tapi masih diganggu oleh saudaranya sendiri. Inilah yang membuat Bunda sempat menolak keinginan Aira untuk tinggal di pondok pesantren. Tidak apa-apa jika tinggal di pondok pesantren yang lain asal jangan di satu tempat dengan Aish. Karena dia tahu jika anak tirinya itu tidak akan menyukai Aira dan suka mengganggunya.


Tapi Aira bersikeras tetap pindah ke sana. Maka dia tidak bisa melakukan apa-apa meskipun menolak.


"Ya Allah, Nak. Bunda kan udah bilang kamu nggak usah pindah ke sana tapi kamu tetap ngeyel. Sekarang lihat kan apa yang terjadi? Kamu diganggu terus sama dia." Bunda mengomel dari seberang sana.


"Jangan khawatir, Bun. Allah nggak bakal tinggal diam kok melihat aku disakiti sama kak Aish. Suatu hari nanti kejahatan ini pasti dibalas. Oh ya, Bun. Aku lagi sedih nih karena tidak pernah melihat habib Thalib di pondok pesantren. Katanya dia pergi untuk urusan lain di luar kota, tapi kenapa hampir dua minggu dia belum balik-balik juga?" Inilah yang membuat Aira beberapa hari ini bingung dan tidak bersemangat.


Dia berusaha mencari kemana-mana keberadaan habib Khalid, tapi tidak menemukan. Hingga akhirnya dia mendengar kabar dari teman-teman kamar bahwa sang habib sedang melakukan perjalanan ke luar kota. Dia sangat kesal setelah tahu. Jika dia tahu dari awal, maka kenapa repot-repot mencari muka kesana kemari?


"Jangan terlalu terburu-buru. Kalau sudah waktunya pasti kalian bertemu juga. Selain itu kamu harus belajar mengerti kalau habib Thalib orangnya sibuk. Bunda sudah mendengar dari Abah juga Umi kalau habib Thalib ini punya banyak sekali kesibukan di luar maupun di dalam pondok pesantren jadi dia jarang muncul. Ini memang bukan berita baik buat kamu tapi kuncinya di sini adalah bersabar. Ingat ya, orang bersabar dekat dengan Allah. Biarkan Allah melihat kesabaran kamu, Nak, agar hati habib Thalib dibalikkan hanya untukmu. Ngerti?" Nasehat Bunda kepada putrinya.

__ADS_1


Dia tahu betapa tidak nyaman putrinya di sana dan karena itulah dia berusaha mengatakan hal-hal baik untuk menenangkan hati putrinya yang gundah.


"Bunda benar, aku seharusnya tidak terlalu terburu-buru lagi pula ini tentang perasaan. Oh ya Bunda, bagaimana kabar Ayah dan yang lainnya? Apakah mereka semua merindukan aku?" Rumah pasti sangat sepi tanpanya, dan Aira sangat bangga karena hal itu.


Terutama untuk Nenek. Aira adalah cucu kesayangannya dan pasti sangat merindukannya di rumah.


"Semua orang jelas merindukan kamu, Nak. Tapi akhir-akhir ini..." Bunda ragu mengatakannya.


Aira merasa ada sesuatu yang salah dengan nada bicara Bunda.


"Ada apa, Bunda? Apakah rumah baik-baik saja?" Dia menghawatirkan kesehatan keluarganya.


Terutama kesehatan Ayah dan Nenek, dia tidak ingin terjadi sesuatu kepada mereka.


"Yah... Terjadi sesuatu dengan perusahaan kita. Beberapa waktu yang lalu setelah mengirim kamu ke pondok pesantren perusahaan kita mengalami masalah. Perusahaan yang akan bekerja sama dengan perusahaan kita tiba-tiba membatalkan perjanjian kerjasama. Tindakan mereka membuat perusahaan kita mengalami kerugian besar dan membutuhkan banyak dana untuk segera menutupinya. Karena ini Paman dan Ayahmu berusaha mencari bantuan kepada beberapa pengusaha yang kami kenal. Tapi sudah berhari-hari berlalu namun mereka masih belum kunjung mendapatkan bantuan. Memang dana yang dibutuhkan cukup besar... Ditambah lagi kerugian perusahaan kita membuatnya terancam bangkrut sehingga membuat mereka skeptis memberikan pinjaman dana." Kata Bunda pusing.

__ADS_1


Beberapa hari ini rumah tidak damai. Karena masalah kekurangan dana dan perusahaan terancam bangkrut membuat orang-orang mudah tersinggung. Kesal sedikit saja akan meledak-ledak dan menimbulkan banyak perdebatan yang tiada habisnya. Saling menyalahkan dan saling menuduh, kedamaian yang mereka miliki dulu menguap entah kemana.


__ADS_2