Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 21.13


__ADS_3

Setelah selesai sarapan di kantin Aira segera pergi ke kantor staf pondok pesantren untuk menelpon kedua orang tuanya yang ada di kota. Pasalnya dia tidak jadi pulang kemarin karena habib Khalid telah kembali ke pondok pesantren. Selain itu dia juga ingin memberitahu kedua orang tuanya apa yang dikatakan oleh wanita asing yang dirumorkan sebagai calon istri habib Khalid. Dia sendiri sebagai seorang gadis tidak mempercayai rumor itu karena meskipun wanita itu cantik bila diperhatikan dengan baik semua orang akan menemukan bahwa wanita ini jauh lebih tua daripada habib Khalid. Sekilas Aira mengetahui bahwa wanita ini pasti telah menikah dan memiliki anak karena postur badannya tidak seperti wanita yang masih lajang atau belum pernah menikah.


Sesampainya di depan kantor staf pondok pesantren telah dia dapati banyak sekali para santri dan santriwati yang mengantri untuk pendataan. Mereka kemarin tidak bisa pulang ke rumah karena waktu sudah menjelang malam, pondok pesantren tidak mengizinkan anak buahnya pulang di malam hari dan menunda hingga pagi ini. Mereka semua banyak tapi tidak sebanyak kemarin jadi Aira tidak terlalu menunggu lama hingga gilirannya masuk ke dalam bilik telepon.


"Assalamualaikum, Bun. Ini aku, Aira. Maafin Aira ya Bun, karena kemarin Aira nggak jadi pulang ke kota. Aira berubah pikiran dan memutuskan untuk tetap tinggal di pondok pesantren hingga nilai keluar. "


Begitu telepon diangkat dia langsung berbicara dengan orang yang ada di seberang sana. Suara Bunda terdengar kesal karena Aira tidak menepati janjinya pulang ke rumah. Padahal semua orang telah menunggu kepulangannya. Dan karena Aira akan pulang ke rumah, mereka semua menyiapkan banyak hal yang disukai oleh Aira. Mulai dari membuatkannya masakan yang lezat hingga membeli banyak makanan ringan kesukaannya. Mereka tahu betul kehidupan di pondok pesantren sangat ketat. Aira tidak bisa makan cukup dan tidak bisa makan apapun yang disukai sepuasnya. Jadi begitu mendengar kabar Aira akan kembali ke rumah, mereka segera mencurahkan sehingga mereka dengan hal-hal itu. Tapi mengecewakan adalah Aira tidak pulang ke rumah dan hanya mengirim pesan singkat bahwa dia akan tetap tinggal di pondok pesantren hingga nilai keluar. Semua orang kecewa tapi tidak bisa berbuat apa-apa hanya menunggu Aira menghubungi mereka lagi.

__ADS_1


"Jangan sedih Bunda. Aku juga kangen kok sama kalian semua yang ada di rumah. Aku pengen banget ketemu sama kalian. Dan sebenarnya kemarin aku juga sudah bersiap-siap pulang ke rumah. Tapi semuanya gagal ketika aku mendengar kabar habib Thalib pulang ke pondok pesantren. Bunda tahu sendiri kan kalau aku menyukai habib Thalib? Aku pasti lebih milih tinggal di sini untuk memperjuangkannya daripada pulang ke rumah dan membiarkan habib Thalib didekati oleh wanita lain. Aku nggak rela Bunda." Di tengah-tengah kekesalan Bundanya, Aira menyela dan mengungkapkan apa yang dia pikirkan.


"Aira tahu. Bunda tenang aja, ada pasti langsung pulang ke rumah ketika hasil nilai akhir kami keluar. Bunda juga nggak perlu khawatir dengan nilai aku. Meskipun pelajaran di sini sulit tapi bukan berarti aku nggak bisa. Percaya deh kalau aku di sini tetap fokus belajar dan tidak teralihkan meskipun habib Thalib tidak ada di pondok pesantren. Yang harusnya Bunda dan Ayah khawatirkan itu kak Aish. Aku perhatikan selama tinggal di pondok pesantren dia lebih banyak keluyuran sama Dira dan Gisel. Padahal ini kan nilai dari ujian akhir yang menentukan apakah kami bisa lulus atau tidak. Pondok pesantren jauh lebih ketat dan sulit daripada sekolah umum di kota. Kalau di sekolah umum meskipun nilai kita jelek sekolah masih bisa memberi keringanan, tapi kalau di pondok pesantren aku dengar tidak ada yang berbelas kasih dalam hal nilai. Semuanya tertulis apa adanya sesuai dengan kemampuan siswa yang belajar." Aira benar-benar meremehkan saudaranya itu.


Dia tahu betul kapasitas kepala Aish. Saudaranya itu malas dan bodoh. Nilainya di sekolah selalu anjlok yang membuat keluarga malu. Jadi dia tidak percaya bila Aish memiliki nilai yang bagus di sekolah pondok pesantren karena sekolah di sini berbeda dengan sekolah yang ada di kota.


Mengambil kembali nasab yang terputus. Nasab?

__ADS_1


Artinya garis keturunan. Tapi siapa yang dia maksud?


"Oh... Bunda juga nggak tahu, yah? Mungkin wanita itu berpikir omong kosong kepada aku. Baiklah... Bunda jangan terlalu memikirkannya. Daripada memikirkan omong kosong wanita itu, lebih baik sekarang Bunda ceritakan saja semua yang terjadi di rumah saat aku tidak ada di sana. Aku yakin rumah pasti jauh lebih sepi tanpa diriku. Tapi aku juga yakin kalau kedua bibiku pasti sering membuat masalah di rumah. Mereka berdua sebenarnya tidak memiliki kerjaan apa-apa selain menganggur dan bergosip di rumah. Padahal mereka berdua sudah tua, tapi mereka masih bersikap seperti anak kecil yang manja."


Tapi di seberang sana Bunda mengatakan bahwa dia tidak tahu dan tidak mengerti apa yang dia katakan oleh wanita itu kepada Aira. Jika Bunda saja tidak mendapatkan jawabannya, maka apalah daya Aira yang tidak mengenal wanita itu. Masalah ini sepele dan tidak perlu terlalu dipikirkan. Jadi dia langsung melewatkannya dan mengalihkan topik untuk membicarakan hal-hal yang terjadi di pondok pesantren dan di rumah beberapa waktu ini. Bunda tidak terlalu menyukai topik tentang keluarga apalagi kalau menyebut soal kedua adik iparnya yang pemalas, Bunda kesal tapi hanya bisa memendamnya dalam diam.


Dia berbicara cukup lama dengan Bunda. Jika dia tidak ditegur oleh staf pondok pesantren untuk segera mengakhiri telepon, maka dia pasti akan terus berbicara dengan Bunda.

__ADS_1


__ADS_2