
Aira pulang ke rumah dan mendapati tidak ada siapapun di sana. Dia bingung dan sedang terburu-buru. Mencari ke sana kemari, tak ada satupun orang yang yang ditemukan. Kecuali kakek tentunya, tapi dia sama sekali tidak ingin berbicara dengan kakek untuk saat ini. Berbicara dengan kakek tidak memberikan solusi apa-apa, sungguh, bukannya dapat solusi tapi ia malah akan semakin pusing. Mengerti lah, Aira sudah tidak mood lagi dengan kakek semenjak kakek mempermalukannya hari itu.
Ugh, tidak heran Aish menyebalkan karena sifat itu turunnya langsung dari kakek dan dari mendiang Mama Aish tentu saja.
Bingung harus mencari kemana, Aira lalu menghempaskan tubuh lelahnya di atas sofa. Dia termenung menatap langit-langit ruang tamu. Berpikir tentang pertemuannya hari ini dengan Aish dan habib Khalid. Untuk sementara waktu, kecemburuan dihatinya di redupkan oleh pemikiran beraninya.
Tangannya yang ramping lalu terangkat menyentuh kain cadarnya, bertanya-tanya apa reaksi sang habib saat melihatnya tanpa menggunakan cadar suara hari nanti?
Aira bisa membayangkan nya. Reaksinya mungkin sama seperti laki-laki yang sering dia temui selama ini. Mungkin takjub?
Em, mungkin saja.
"Cadar ini... mungkinkah sudah saatnya aku melepaskannya?" Gumamnya pada diri sendiri.
"Enggak apa-apa, kan? Soalnya pengaruh kak Aish juga sudah hilang dari semua orang di sini." Gumam Aira menimbang lagi.
Sejujurnya alasan Aira menggunakan cadar adalah karena ingin menghilangkan pengaruh Aish terhadap semua orang. Pasalnya Aish adalah gadis yang terlahir cantik dan menawan, semua orang yang Aira temui akan memuji kecantikan Aish yang luar biasa. Aira merasa cemburu dan sedih. Tiba-tiba dia jadi minder sendiri bertemu dengan banyak orang. Untungnya saat itu tren menggunakan cadar mulai booming dimana-mana. Aira sangat terbantu dengan tren itu dan tanpa berpikir dua kali dia langsung berikrar untuk menggunakan cadar. Awalnya sulit, tapi setelah terbiasa dia jadi nyaman sendiri meskipun terkadang agak ribet.
Tapi bagi Aira semuanya bukan masalah besar selama opini banyak orang berubah tentang dirinya. Dan yah, pandangan semua orang langsung berubah tentang Aish. Mereka kerap kali membanding-bandingkan Aish dan dirinya, berbicara bila Aish adalah anak yang sulit diatur dan pemberontak sedangkan Aira gadis yang sangat patuh lagi berhati lembut.
Aira bahagia, sepanjang hari dia tidak pernah berhenti tersenyum dan bersuka cita atas kemalangan kakaknya itu.
Yah, dan sejak saat itu pula dia tidak pernah berpikir untuk membuka cadarnya. Tapi sekarang...
Aira merasa bila alasan mengapa habib Khalid mengabaikannya tadi karena wajahnya belum terekspos. Hem, sudah lama sekali dia menggunakan cadar dan selama itu pula dia merawat wajahnya dengan baik. Menurut Bunda, penampilannya sekarang jauh lebih cantik daripada dulu.
"Mungkin....aku sudah tidak sabar memikirkannya-"
Terd
Terd
Terd
__ADS_1
Dering ponselnya terdengar. Aira terbangun dari pikirannya. Dia memperbaiki duduknya sembari mencari ponsel di dalam tas sekolah.
"Hallo, assalamualaikum, bibi?" Salam Aira sopan nan hangat pada orang di seberang sana.
Penelpon adalah bibi, orang yang paling tidak menyukai Aish di rumah ini.
"Waalaikumussalam, apa kamu sudah di rumah, nak?"
Aira kembali merebahkan dirinya di sofa.
"Iya, bi. Aku baru saja pulang dan tidak menemukan siapapun di rumah." Jawab Aira dengan nada keluhan.
Padahal dia pulang dengan tergesa-gesa karena ingin berbicara dengan kedua orang tuanya mengenai pindah ke pondok pesantren. Dia kira orang tuanya ada di rumah seperti biasa, taunya mereka semua pergi menghilang entah kemana.
"Jangan marah, Aira. Ayah dan Bunda mu tadi pergi ke rumah sakit untuk menjenguk kerabat yang sedang sakit. Sebelum pergi mereka sudah menyiapkan makanan untukmu di dapur." Kata bibi menghibur.
Aira juga tahu ini. Bunda tak mungkin pergi jika tidak ada masalah mendesak.
Kemarahan Aira langsung surut. Dia tersenyum lembut, merasa hangat dengan perhatian orang tuanya. Kemanapun mereka pergi, Aira pasti sudah disiapkan makanan di dapur sehingga Aira tidak akan pernah kelaparan.
"Syukurlah. Bibi akan menutup telepon yah, nikmati waktumu di rumah dan jangan terlalu keras belajar." Pesan bibi dari seberang sana.
Senyum Aira semakin lebar mendengar perhatian bibinya. Lihat, bibi pun sangat memperhatikan dirinya dan selalu menatap rendah Aish. Jelas saja, baik cinta Ayah ataupun keluarga Ayah selalu memihak dirinya. Mereka selalu bias terhadap Aish.
"Bibi tidak perlu khawatir." Kata Aira menenangkan.
Bibi lalu menutup sambungan telepon. Aira menarik ponselmu di atas meja dengan keputusan yang sudah bulat di dalam hatinya.
...****...
Malam harinya semua orang kembali berkumpul di dalam rumah. Mereka makan malam bersama-sama dengan suasana yang harmonis dan damai seperti malam-malam sebelumnya. Kakek juga tidak terlalu acuh lagi di dalam keluarga sejak kemarin. Tidak ada yang tahu alasannya namun yang pasti, mereka senang dengan suasana hati kakek yang kembali membaik.
Setelah semua orang selesai makan malam, mereka berkumpul sebentar di ruang tamu untuk mengobrol dan berbagi cerita. Lalu, satu atau dua jam kemudian, mereka kembali ke kamar masing-masing. Tepat saat semua orang bubar, Aira buru-buru keluar dari kamarnya dan berjalan ke ruang kerja Ayah.
__ADS_1
Tok
Tok
Tok
"Ayah, ini Aira."
Sedetik kemudian,"Masuk." Aira diizinkan masuk.
Begitu Aira masuk ke dalam ruangan kerja, Bunda dan Ayah langsung melihat Aira aneh. Pasalnya Aira malam ini tiba-tiba membuka cadarnya di rumah. Bukan masalah sebenarnya, apalagi ini di rumah. Tapi aneh saja rasanya melihat Aira tiba-tiba melepas cadar.
Tidak hanya melepasnya, namun Aira juga menggunakan produk makeup walaupun tipis dan agak samar, namun Ayah ataupun Bunda masih bisa membedakannya.
"Aira?" Panggil Bunda aneh.
Aira tersenyum lebar, dia menatap malu kedua orang tuanya yang terlihat agak shock.
"Aira cantik enggak Bun, Yah?" Tanya Aira masih malu.
"Cantik." Jawab Ayah dan Bunda bersamaan.
Aira memang cantik meskipun tidak semenawan Aish, pikir Ayah.
Aira langsung senang mendengarnya. Senyumnya langsung mengembang lebar. Tangan ramping nan terawatnya menyentuh sisi wajahnya yang menghangat.
"Bunda, Ayah. Aira mau ngomong sesuatu sama kalian." Kata Aira dengan nada yang hangat.
Bunda kemudian duduk di samping Ayah. Sepertinya putri mereka ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting.
"Mau ngomong apa?" Tanya Bunda lembut khas seorang Ibu.
Aira meremat tangannya malu. Sikapnya yang pemalu dan salah tingkah membuat orang tuanya bertanya-tanya apa yang terjadi dengan Aira?
__ADS_1
"Ini... Aira mau pindah sekolah ke pondok pesantren. Aira mau pindah ke pondok pesantren tempat kak Aish belajar." Kata Aira dengan harapan yang bersinar terang di dalam matanya.