Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 17.8


__ADS_3

"Ini adalah hukuman untuk orang yang memfitnah, jadi jangan heran. Kita semua tahu betapa kejamnya fitnah itu. Tidak merusak fisik, namun dapat merusak batin maupun mental orang yang mendapatkan fitnah. Dampak ini sangat merugikan siapapun korban dari lidah tajam. Itulah mengapa Allah sangat tidak menyukai perbuatan ini. Terlihat ringan memang, tetapi faktanya perbuatan ini amatlah berat." Orang yang memahami betapa kejamnya perbuatan fitnah tentu tidak keberatan dengan hukuman yang diberikan oleh Abah sebab menurutnya hukuman ini sangat rumit ringan dibandingkan mendapatkan teguran langsung dari Allah SWT.


Jadi, daripada ditegur oleh Sang Kuasa, ada baiknya ditegur manusia karena sesungguhnya teguran manusia adalah isyarat ringan dari Allah SWT. Logikanya, bila Allah yang menegur langsung maka malu dan sakitnya tiada tara. Tapi jika melalui perantara manusia, maka Allah SWT masih memberikan kesempatan untuk berubah dan bertaubat.


"Iya, kamu benar. Tapi aku tidak bisa membayangkan 30 kali cambuk menghantam kulitku. Ini pasti sakit sekali."


Suara-suara itu begitu hidup di dalam ruangan ini. Karena ruangan tertutup dan orang yang berbicara tidak hanya satu atau dua, maka bisikan-bisikan itu terkadang terdengar jelas di telinga semua orang.


Bahkan Khalif, wajahnya langsung menjadi pucat pasi setelah mendengar vonis yang dijatuhkan oleh Abah. Tak pernah terpikirkan dalam hidup ini bahwa akan ada waktu dimana dia akan merasakan betapa sakitnya hukuman cambuk.


"Abah... kenapa?" Tanyanya dengan suara tercekat.


Abah menghela nafas panjang. Khalif adalah putra dari sahabatnya di kota. Karena kepercayaan sahabatnya terhadap dirinya, Khalif lalu diserahkan kepadanya untuk di didik dengan baik. Bahkan sahabatnya sangat mendukung perjodohan antara Khalif dan Nadira, karena itulah Khalif dikirim ke pondok pesantren.


Sekarang putra sahabatnya telah membuat kesalahan yang fatal, maka sudah seharusnya dia membuat keputusan yang tegas. Meskipun rasanya menyakitkan melihat Khalif yang sudah dia anggap sebagai putra dihukum berat nantinya.


"Habib Thalib membawa bukti cctv mobil dari kejadian kemarin dan rekaman cctv sekolah saat kamu bergegas menyelundup ke dalam. Dari rekaman cctv mobil itu aku tahu bahwa kamu sudah berbohong. Pertama, motor itu digunakan oleh kamu sebelumnya dan tiba-tiba melepaskannya saat berbicara dengan salah satu santriwati ini. Aku tidak mengerti mengapa kamu melepaskan motor itu dan malah menuduh mereka mengambil motor orang? Ini jelas sebuah tuduhan yang disengaja dan sekilas, kita tahu bahwa kamu memiliki niat buruk. Anakku Khalif, kamu membuat tuduhan palsu untuk ketiga santriwati yang tidak bersalah ini. Karena tuduhan mu, nama baik mereka dipertanyakan dan batin mereka sudah pasti terganggu, kamu dianggap bersalah. Selain itu, aku juga membaca file identitas pemilik motor ini. Motor ini dibeli dari pengepul motor bekas di daerah ini. Mulai dari tanggal pembelian, harga pembelian, dan tempat pembelian, semuanya lengkap di sini. Bahkan identitas dirimu yang masih dibawah umur pun ditulis dengan jelas di file ini-"


"Astagfirullah!"


"Jadi motornya milik Khalif dari awal?"


Yang lain berseru kaget,"Mustahil. Seorang sayid..." Dia tak mampu mengucapkan kata-katanya.


Segala macam seruan terdengar di dalam ruangan ini namun Abah tidak berniat menghentikan ucapannya.


"Khalif, kedua bukti ini sungguh sangat memberatkan masalah ini karena itulah aku memutuskan untuk menghukum mu 30 kali cambuk. Jika bukan atas nama kepercayaan orang tuamu, maka mungkin 70 cambuk seharusnya kamu dapatkan. Tapi aku mempertimbangkan kepercayaan orang tuamu dan usiamu yang masih 15 tahun. Hukuman 30 kali cambuk adalah hukuman yang tepat untuknya. Kemudian masalah lainnya, rekaman cctv sekolah memperlihatkan saat kamu pergi ke wilayah terlarang. Bukankah pondok pesantren sudah tegas mengatakan bahwa santri maupun santriwati tidak boleh mengunjungi tempat-tempat pribadi seperti sekolah, asrama, dan perpustakaan? Bukankah pondok pesantren sudah memberikan kalian masing-masing tempat ini? Maka tak seharusnya kalian berjalan ke tempat yang berlawanan. Karena perbuatan kamu ini, aku menghukum mu membantu pondok membajak sawah selama dua hari tanpa penundaan. Kedua masalah ini akan ku ceritakan kepada orang tuamu nanti."


"Abah, jangan!" Mohon Khalid panik.

__ADS_1


Dia tak mau orang tuanya tahu kelakuannya di sini dan dia juga tidak mau melihat Uminya sedih mendengar hukuman yang akan dia jalani. Dia malu, sangat malu tapi tidak bisa membuat pembelaan apapun karena apa yang dikatakan Abah semuanya benar. Ada bukti yang jelas di depan mata. Dan Khalif juga tidak mungkin mengatakan bahwa dia ke sekolah santriwati untuk mengintip Nadira, jika Abah tahu, hati Abah pasti akan sangat kecewa kepadanya. Khalif tidak mau merusak namanya di depan Abah.


Abah menutup matanya menahan kecewa.


"Nak, mereka harus tahu karena mereka adalah orang tuamu. Mereka berhak mengetahuinya. Di samping itu pondok pesantren tidak ingin membuat kesalahpahaman untuk mereka jadi ada baiknya mengetahui masalah ini." Jelas Abah.


Khalif langsung bungkam. Dia mengerti tapi masih tidak setuju. Tapi ketidaksetujuannya ditekan sedalam-dalamnya di hati. Dia mengerti ini untuk kebaikan semua orang.


"Aku mengerti." Bisiknya lemah.


Sementara itu, orang-orang yang sering pergi menyelinap ke sekolah santriwati diam-diam mengecilkan keberadaan mereka. Perbuatan ini bukan rahasia umum lagi di asrama santri sebab yang melakukan tidak hanya satu atau dua, dan tidak ada yang memperdulikannya.


Selanjutnya Abah mulai mengalihkan perhatiannya kepada ketiga santriwati tersebut. Mereka bertiga diam membisu menunggu vonis dengan ekspresi harap-harap cemas di masing-masing wajah. Ini sangat lucu, yah, jika suasananya tidak terlalu tegang.


"Untuk kalian bertiga, meskipun kalian tidak berniat kabur dari pondok pesantren tapi langkah kalian menggunakan motor Khalif dan keluar jauh dari pondok pesantren tanpa izin sudah sangat salah. Namun karena kejadian ini kalian juga terluka, jadi aku memutuskan menghukum kalian ikut membajak sawah pondok pesantren selama satu hari tanpa penundaan. Hukuman ini terbilang ringan mengingat kesalahan kalian dan jika kalian mengulanginya lagi suatu hari nanti, pondok pesantren tidak akan memberikan keringanan apapun kepada kalian bertiga. Apakah sudah jelas?"


Ini sangat berat. Hukuman ini cukup berat, mereka bertiga juga tahu tidak adanya menolak. Toh, yang salah juga mereka bertiga jadi tidak ada salahnya menerima hukuman ini. Walaupun agak berat, mereka hanya melaksanakannya satu hari yang jauh lebih baik daripada Khalif. Dua hari plus cambuk, betapa mengerikannya itu.


"Terima kasih, Abah. Kami sudah jelas." Aish dan yang lainnya menjawab.


Setelah mendengar vonis, batu berat di hati mereka langsung terangkat. Rasanya sangat melegakan.


Abah menghela nafas panjang. Padahal pekerjaannya hanya duduk di kursi dan memberikan beberapa patah komentar, tapi mengapa hanya dalam beberapa menit saja wajah tuanya tampak 10 tahun lebih tua dari usianya?


"Baiklah, silakan keluar dan membuat laporan di masing-masing ketua kedisiplinan asrama. Aku akan menyerahkan tugas pengawasan kepada masing-masing ketua kedisiplinan asrama." Kata Abah mengusir mereka dari ruangan.


Aish, Gisel, Dira mengucapkan salam dengan sopan sebelum berjalan keluar dari ruangan. Sedangkan Khalif masih berdiri di tempat ingin berbicara dengan Abah. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi yang pasti semua penonton tidak bisa mendengarnya karena diminta keluar oleh Abah juga.


Aish, Gisel, dan Dira tidak langsung mencari Nasha karena ini masih jam sekolah. Mereka memutuskan untuk menemuinya nanti setelah selesai makan siang. Dan mereka juga tidak langsung kembali ke kamar asrama. Mereka ingin berterima kasih dengan sang habib atas bantuannya hari ini.

__ADS_1


"Alhamdulillah, habib Thalib orangnya baik banget. Tanpa bantuan darinya, orang yang dihukum cambuk pasti bukan Khalif, melainkan kita bertiga." Ucap Gisel bersyukur tidak lagi segugup tadi.


Dira juga jauh lebih tenang.


"Iya, untung aja habib Thalib mencari bukti untuk kita, kalau enggak, bocah labil itu pasti bakal lolos. Tapi aku masih gedek banget sama Khalif. Dosa apa coba sampai buat dia sedendam ini sama kita? Masa iya gara-gara aku pergoki? Itukan masalah sepele tapi dibawa serius. Asli itu anak benar-benar bocah." Gerutu Dira masih tidak habis pikir dengan Khalif.


Aish juga kesal dengan Khalif karena gara-gara dia, mereka hampir saja menabrak pohon kemarin. Untungnya Allah masih ngasih kesempatan sehingga motor mereka miring ke sawah. Kalau enggak, bisa dibayangkan betapa naasnya mereka hari itu.


"Jangan dipikirin lagi. Dia sudah mendapatkan hukuman yang berat dari Abah. Dan kalau anak itu kembali membuat masalah ke kita, huh...lihat betapa ramahnya kita saat itu!" Dengus Aish tak puas.


"Iya, kita harus lebih ramah kalau ketemu nanti." Dukung Gisel sangat tak puas dengan perbuatan Khalif kepada mereka bertiga.


"Eh, habib Thalib keluar!" Dira menyela pikiran mereka bertiga.


Mereka bertiga kompak melihat ke arah pintu masuk sidang. Habib Khalid baru saja keluar dengan Abah dan rombongannya. Entah apa yang mereka bicarakan, namun yang pasti wajah Abah yang semula suram kini jauh lebih santai dan baik daripada sebelumnya.


Aish merasa gembira. Jantungnya berdegup kencang memacu adrenalin di dalam hatinya. Dia memberanikan diri untuk memanggil,"Kak Khalid-"


"Kak Aish?" Suara lembut nan rapuh itu bagaikan mimpi buruk untuk Aish.


Bersambung...


Assalamualaikum, semuanya. Maaf beberapa hari ini up cuma satu bab, dan itu 500 kata. Mau ngomong juga merasa cari pembelaan tapi enggak dijelasin juga salah. Okay, saya ngomong aja walaupun agak terlambat. Iya, beberapa waktu ini ada acara keluarga- tepatnya masalah keluarga. Kakak saya cerai dan perebutan harta apalah yang membuat suasana rumah cukup tegang, bahkan saya yang suka menulis jadi enggak mood, serius. Selain itu saya juga sakit, iya, radang amandel kambuh tiga harian dan badan saya meriang terus jadi mau nulis apa kalau kondisi begini.


Iya, kesannya berbelit-belit karena satu masalah enggak kelar-kelar setelah beberapa bab. Maaf banget, ini benar-benar enggak disengaja karena satu bab cuma 500 kata beberapa waktu ini, jadi masalahnya agak...yah... begitulah.


Okay, ini aja. Terima kasih atas perhatiannya.


PS: 1 bab lagi🤭

__ADS_1


__ADS_2