
Dia masih meninggalkan sepatunya di sana sebagai tanda dia masuk lewat sini.
Dira kesal diabaikan.
"Kamu mau kemana? Kita belum selesai belajar." Kata Dira ingin menghentikannya.
Laki-laki itu menoleh ke Dira dengan ekspresi aneh.
"Apa kamu gila?" Dia sudah ketahuan dan normalnya harus melarikan diri.
Memangnya pelaku kejahatan mana yang tidak ingin melarikan diri.
"Apa? Kamu bilang aku gila?! Aku bakal teriak sekarang biar orang-orang tahu kamu menyusup ke sini. Setelah kamu ditangkap dan digiring ke kantor untuk dihukum, aku ingin tahu apakah kamu bisa bilang aku orang gila!" Dira langsung naik darah berbicara dengannya.
Laki-laki itu merasa Dira memiliki kelainan pada kepalanya. Kalau tidak, bagaimana mungkin dia masih berbicara lantang seperti ini untuk mengancam dirinya.
Mengalungkan sepatunya di leher, laki-laki itu melihat Dira dengan tatapan mengejek.
"Jangan lupa minum obat sebelum keluar ya, kak." Nasihatnya ramah sebelum memanjat tembok untuk melarikan diri.
Dira tercengang di tempat. Kedua tangannya mengepal erat tidak terima dianggap gila dan bahkan diminta untuk minum obat oleh anak ingusan yang lebih muda darinya. Dia merasa terhina juga kesal, tapi tidak bisa melampiaskan kemarahannya.
"Kamu...kamu.." Dira menunjuk punggung laki-laki itu.
Laki-laki itu sama sekali tidak perduli dengan kemarahan Dira. Setelah berhasil memanjat tembok, dia langsung terjun ke bawah untuk kabur. Meninggalkan Dira dengan kemarahannya yang belum surut.
"Awas aja yah, lain kali kita bertemu aku akan menyentil lambungmu! Dasar anak ingusan!" Sungutnya marah-marah.
Dia menghentakkan kakinya kesal dan pergi melanjutkan perjalanannya kembali ke kelas.
"Kamu kenapa?" Tanya Aish heran melihat sahabatnya balik dari toilet dengan wajah gondok.
Biasanya Dira seperti ini kalau lagi marah atau badmood, tapi siapa yang membuatnya marah di sini?
Perasaannya Dira baik-baik saja sebelum keluar dari kelas.
Dira mendengus murka mengingat wajah monyet nakal yang tidak sengaja dia pergoki sedang mengintip di jendela kelas ini tadi.
"Bukan apa-apa. Tadi apes aja ketemu sama monyet nyasar di belakang." Katanya kejam.
Aish langsung meringis mendengarnya. Monyet enggak mungkin ada di pondok, kan?
Lagipula hutan sangat jauh dari pondok pesantren dan menurut jaraknya, monyet enggak mungkin mampir ke sini kalau turun gunung.
__ADS_1
"Masa sih di sini ada monyet?" Aish ragu.
Dira tertawa dingin. Giginya gemeretak kesal membayangkan wajah laki-laki menyebalkan itu.
"Ada, tapi jangan khawatir. Lain kali aku ketemu sama monyet itu, dia akan langsung aku pepes jadi adonan. Kamu enggak perlu khawatir." Katanya penuh dendam membara.
Aish merasa ada sesuatu yang salah di sini. Mungkinkah yang Dira maksud adalah manusia?
Sepertinya masuk akal. Kalau itu beneran monyet asli, Dira pasti udah kabur duluan sebelum disapa oleh monyet.
Hem, tapi siapa yang Dira maksud.
"Oh ya, jendelanya mulai sekarang ditutup aja biar hama enggak masuk." Kata Dira teringat dengan kelakuan laki-laki tadi.
Hatinya bertanya-tanya, siapakah santriwati yang dilihat oleh laki-laki ingusan itu?
Dia harap itu bukan Aish ataupun Gisel karena dia sama sekali tidak bisa menerimanya jika itu benar-benar terjadi.
"Ih, kelas gelap tahu kalau semuanya ditutup."
Dira menggelengkan kepalanya tidak setuju.
"Nyalain aja lampu gampang, kan?" Dira sudah bertekad kuat untuk menghalangi laki-laki itu mengintip ke kelasnya lagi!
Dengan begitu dia bisa melampiaskan dendamnya kepada laki-laki itu!
...*****...
Waktu istirahat telah tiba. Teman-teman kelas yang lain keluar ke kantin sekolah untuk membeli makanan ringan sebagai pengganjal perut.
Sejujurnya pondok pesantren ini tidak terlalu ketat karena santri ataupun santriwati masih bisa berbelanja di dalam pondok pesantren. Dan yang lebih penting lagi, mereka juga bisa berbelanja keluar pondok setiap hari minggu untuk membeli keperluan yang tidak bisa dibeli di dalam pondok.
"Tumben enggak belanja, biasanya paling cepat banget kalau udah keluar main." Goda Dira saat melihat Dira duduk lemas di dalam kelas.
Gisel tersenyum tipis.
"Aku lagi enggak lapar." Dia tidak merasa lapar setiap kali memikirkan uang nya yang hilang semalam.
Aish duduk di sampingnya.
"Masih enggak enak badan?" Tanyanya khawatir.
"Enggak kok, aku udah enakan." Sanggahnya.
__ADS_1
Tiba-tiba Gadis masuk dengan beberapa teman kamar yang lain. Dia membawa sekantong kresek hitam makanan ringan yang dibeli dari kantin. Makanannya sengaja dibeli banyak untuk dibagi-bagikan ke teman-teman yang lain.
Dia bahkan menghampiri Aish dengan beberapa bungkus makanan ringan.
"Aish mau?"
Aish melirik semua makanan yang dia beli, agak kaget sejujurnya. Sebab Gadis terkenal paling irit belanja di kamar mereka dan jarang berbelanja.
"Terima kasih. Aku lagi enggak lapar." Tolaknya rendah hati.
Gadis masih tersenyum lembut. Setelah ditolak Aish, dia menawarkan makanan yang sama kepada Gisel dan Dira dengan murah hati, namun tetap ditolak.
Setelah ditolak tiga kali berturut-turut, Gadis lalu membawa kembali makanannya ikut bergabung dengan teman-teman yang lain.
"Dia punya banyak uang." Kata Gisel ragu.
Dira tidak terlalu memikirkannya,"Aku dengar dia baru dikirimin sama orang tuanya."
Gisel merendahkan kelopak matanya sedih.
"Oh." Mungkin bukan dia.
"Keluar, yuk. Kali aja ada monyet yang lewat." Ajak Dira kepada mereka berdua.
Aish tidak bisa berkomentar apa-apa. Sahabatnya ini mungkin sangat membenci 'monyet' nyasar yang mengganggunya tadi.
Meskipun Gisel bingung tapi dia tetap mengikuti kedua sahabatnya keluar kelas. Lagipula di dalam kelas terlalu membosankan dan ada baiknya dia menghirup udara segar di luar untuk menenangkan suasana hatinya.
Melihat mereka bertiga keluar dari kelas, ekspresi Gadis langsung berubah. Dia menatap kepergian mereka bertiga dengan sedih. Teman-teman yang sedang makan bersamanya langsung menangkap ekspresi sedih Gadis.
"Gadis, kamu kenapa?" Tanya salah satu teman.
Gadis tersenyum kecut. Tangan kecil meremat kuat bungkusan makanan ringan yang sedang dia makan. Dengan kepala tertunduk menghindari tatapan teman-temannya, Gadis terlihat sangat pemalu saat ini.
"Apa...apa karena aku miskin dan makanan ku tidak mahal makanya mereka menolak untuk menerima pemberian ku?" Tanyanya sedih.
"Gadis, jangan merendahkan diri sendiri. Aish, Dira dan Gisel bukan orang yang seperti itu, kok. Mereka pasti beneran enggak lapar makanya enggak mau nerima pemberian kamu." Salah teman menghiburnya.
Setelah satu bulan tinggal bersama, mereka mulai mengenal Aish dan kedua sahabatnya dengan baik. Menurut teman-teman yang lain, Aish dan kedua sahabatnya bukan orang yang sombong juga jahat. Aish dan kedua sahabatnya sangat baik, kok, dan sangat suka berbagi. Kecuali sikap Aish yang agak cuek dan pemalu, semua orang menyukainya.
Kelopak mata Gadis bergetar samar, mengangkat kepalanya, dia tersenyum lembut kepada teman-teman kamarnya.
"Yah, aku harap juga begitu."
__ADS_1
Bersambung...
Lanjutannya jam 3 pagi besok 😀