Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 26.4


__ADS_3

Hati Aira langsung menjadi dingin. Kelopak matanya terangkat lebar tak dapat mempercayai apa yang baru saja dia tonton. Kenapa dia tidak tahu bahwa orang yang dia kira sebagai habib Khalid ternyata Nadira?


Kenapa dia tidak menyadari itu dan berbicara tinggi di depan banyak orang, bahkan di depan keluarganya sendiri?


Lalu semalam dengan amat sangat percaya diri dia mengudara di depan Gisel, mengatakan bahwa dia adalah seorang korban dari sang habib. Mengatakan dengan suara keras kepala bahwa sang habib harus menikahnya. Pantas ekspresi Gisel ketika melihatnya semalam terlihat sedikit aneh. Dia pikir itu karena cemburu, namun rupanya itu karena Gisel sedang menertawakan sandiwara yang dia lakukan. Jadi di depan Gisel ataupun orang-orang di pondok pesantren dia tidak ada bedanya dengan monyet yang tengah membuat atraksi di pinggir jalan.


Apa-apaan ini!


"Nak," Panggil Bunda tak percaya.


Aira diam tidak menyahut. Lidahnya serasa kelu tak dapat berbicara.


"Tentang apa semua ini, Nak? Bukankah habitat ingin menyentuh kamu?" Tanya Bunda tak mengerti.


Anaknya jelas-jelas dikirim ke rumah sakit, dia mengaku bahwa hampir saja disentuh oleh seorang habib. Dan dengan bodohnya Bunda percaya begitu saja apa yang dikatakan oleh Aira. Lalu lihatlah sekarang. Bukti kuat dan tak terbantahkan sekarang terpampang nyata di depan hadapannya. Jika begini, apalagi yang bisa dia katakan?


"Aira, katakan sesuatu, Nak? Apakah habib Thalib ingin menyentuh kamu atau sebenarnya tidak?" Ayah menarik pundak Aira sehingga berhadapan langsung dengannya. Mungkin karena emosi Ayah tak dapat menahan kekuatan tangannya ketika memegang pundak Aira.


Rasanya sakit hingga membuat Aira memejamkan mata.


"Mas anak kita kesakitan, tolong lepaskan dia." Bunda kasihan melihat putrinya dan buru-buru meminta belas kasih kepada sang suami.


Tapi ayah tak mendengar permohonan Bunda. Bukannya mengendurkan remasan, Ayah justru semakin meremasnya kuat seakan-akan dengan begitu akhirnya dapat mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Ayah... Aku, aku tidak tahu. Seingat ku habib Thalib masuk ke dalam kamar dan menyentuh ku." Dengan terbata-bata Aira menjawab pertanyaan Ayah dengan jawaban yang sama seperti semalam.


Ayah menyipitkan matanya,"Lalu bagaimana dengan video yang kita tonton tadi?" Tanya Ayah tak percaya.

__ADS_1


Aira menggelengkan kepalanya bingung. Air mata kembali membanjiri wajahnya yang pucat. Dia terlihat sangat menyedihkan. Tapi saat ini tidak ada yang mau menghargai ataupun mengasihi betapa menyedihkannya Aira. Mereka justru geram karena Aira terus berbohong.


"Itulah yang membuatku bingung, Ayah. Aku sungguh... Sungguh yakin kalau orang yang ingin menyentuhku kemarin adalah habib Thalib. Kalau tidak, bagaimana mungkin aku merasa sehina ini karena tubuhku dinodai? Ayah... Bunda, Abah... Tolong percayai apa yang aku katakan. Aku sama sekali tidak berbohong. Bisa saja video ini dibuat-buat oleh habib Thalib agar dia lepas dari jeratan hukum. Dia mungkin tidak mau bertanggung jawab kepada ku... Aku bisa mengerti ini. Tapi rasanya sangat kejam sampai-sampai dia masih terus memfitnahku setelah menodai ku. Aku... Aku tak tahu harus mengatakan apa lagi, hidupku rasanya hancur sekarang...hiks.." Katanya sambil menangis keras berusaha menarik simpati banyak orang.


Aira sungguh tidak berbohong. Di dalam ingatannya, dia yakin bahwa orang yang menyentuhnya kemarin adalah habib Thalib. Itulah alasan kenapa dia begitu percaya diri hari ini untuk datang menghadiri sidang. Namun dia tidak menyangka sama sekali bahwa Nadira merusak rencananya. Padahal sisanya sudah berjalan lancar, dan harusnya habib Khalid masuk ke dalam kamar itu jika Nadira tidak ikut campur.


"Kamu.." Hati Ayah luluh.


Tapi sayang sekali Nadira tidak membiarkan keluarga itu membuat sandiwara lagi.


Di bawah kurang pengawasan banyak orang, dia berjalan ke tengah ruangan. Berdiri lurus dengan ekspresi wajah yang sangat serius.


"Apakah kamu lupa bahwa saat terjadinya kejadian itu ada banyak saksi yang melihat. Abah dan Umi ada di tempat kejadian, selain itu aku yang berhubungan langsung denganmu juga ada di sana. Bila kamu berpikir bahwa video ini dibuat-buat, maka panggil saja ahli atau polisi yang bekerja di bidang ini agar kita semua tahu bahwa video ini benar-benar dibuat atau memang terjadi. Untuk masalah yang sangat serius, kami pihak pondok pesantren tidak akan meremehkannya karena ini menyangkut nama baik pondok pesantren dan orang-orang yang terlibat di dalam masalah ini. Jika sampai bocor dan menyebar luas kemana-mana, takutnya itu akan mempertanyakan akreditasi pondok pesantren. Inilah alasan kenapa sidang ini dilakukan. Kita ingin menemukan kebenaran di balik kejadian ini dan tentunya keadilan untuk habib Thalib atas nama baiknya yang dirugikan. Tentunya jika kamu tidak bersalah atau dengan kata lain kamu adalah korban di dalam masalah ini juga, kami akan berusaha menegakkan keadilan kepada mu. Namun dengan premis berhentilah meragukan kebenaran yang sudah ada dan hilangkan tuduhan kejam kamu kepada habib Thalib, jika tidak, kami curiga bahwa kamu sebenarnya sengaja melakukan ini untuk menjebak habib Thalib." Dengan berani Nadira menyerang titik lemah Aira. Dia sama sekali tidak menutupi kecurigaan di dalam hati bahwa mungkin saja Aira yang sengaja membuat masalah ini. Hanya saja...


Sayang sekali, rencana kamu meleset. Batin Nadira.


"Ini adalah rekaman ponselku. Jika kalian meragukan keaslian di dalam video itu, maka aku bersedia melibatkan polisi atau orang-orang yang ahli di dalam bidang ini. Toh, hasilnya juga akan sama karena video ini asli. Selain itu ada juga banyak saksi saat kejadian kemarin. Kalian akan tahu seberapa banyak saksi itu bila video ini diteruskan." Habib Khalid menimpali, menyatakan kesediaannya untuk memverifikasi kebenaran di balik video itu. Nyatanya dia sama sekali tidak bersalah dan semuanya sudah terungkap di dalam video, jadi dia tidak takut.


Mendengar mereka berdua berbicara mau tak mau Aira langsung menjadi ciut. Dia tahu bahwa habib Khalid tidak mungkin memalsukan video itu. Tapi karena ego dirinya menolak untuk melepaskan habib Khalid. Sekarang semuanya sudah seperti ini dan mereka juga ingin melibatkan polisi, Aira tak mau. Dia tidak ingin berakhir di dalam penjara.


"Mungkin... mungkin saja keponakan kami sedang bingung kemarin. Seperti yang kalian lihat dia terus memanggil nama habib Thalib dalam keadaan tidak sadar. Mungkin karena efek obat membuatnya kebingungan. Tolong...tolong maafkan Aira kami. Dia mungkin tidak bermaksud jahat dan hanya merasa dirinya dirugikan." Melihat situasi berjalan ke arah yang salah, bibi langsung berbicara meminta maaf kepada mereka.


Sekilas dia tahu bahwa keponakannya sangat terkejut ketika melihat video itu. Mungkin saja keponakan juga tidak tahu dan menganggap Nadira sebagai habib Khalid. Karena halusinasinya membuat dia merasa tertekan dan kotor, jadi dia bersikeras menuntut keadilan kepada sang habib.


"Aku..." Aira menggigit bibirnya pasrah,"Maaf... Mungkin aku salah paham." Ucapnya tak rela.


"Menurut dokter akhirnya memang mengalami gejala halusinasi dan kebingungan setelah meminum dosis besar obat-obatan terlarang. Dan seperti yang kita semua lihat di dalam video, dia mengigau dan menuduh putriku sebagai seorang laki-laki. Padahal nyatanya apa yang dia halusinasi kan tidak pernah terjadi." Saat berbicara, Abah tidak lupa menunjukkan laporan medis dari rumah sakit semalam mengenai kondisi Aira dan habib Khalid.

__ADS_1


Keluarga Aira tidak buta ataupun bodoh. Kebenaran sudah terpampang jelas disertai dengan video dan penjelasan dokter, jadi mana mungkin dia terus menuntut dosa yang tidak dilakukan oleh habib Khalid.


Tiba-tiba Ayah dan Bunda merasa malu karena telah lancang berteriak kepada sang habib. Mereka menuduh habib Khalid melakukan yang tidak-tidak kepada Aira, menuntutnya untuk bertanggung jawab pada dosa yang tidak dilakukan, dan memintanya memberikan pernikahan yang layak kepada Aira, padahal sang habib tak pernah menyentuh putri mereka. Dan yang paling malu adalah Bunda. Dia mengatakan dengan berani bahwa habib Khalid memiliki perasaan kepada Aira sehingga berani melakukan dosa itu, padahal sekali lagi itu adalah angan-angannya saja. Tapi bagaimana jika habib Khalid benar-benar jatuh hati kepada Aira, namun karena masalah hari ini habib Khalid menjadi ilfil dan menghilangkan niatnya kepada Aira?


"Habib...habib Thalib, tolong maafkan apa yang kami lakukan hari ini. Kami sungguh tidak sengaja mengatakan itu. Kami hanya terbawa emosi melihat putri kami dianiaya, jika kami tahu apa yang sebenarnya terjadi, kami tidak akan berbicara lancang kepadamu." Bunda berbicara dengan nada hati-hati kepada sang habib sambil memperhatikan perubahan ekspresi di wajah tampan itu.


Aira menggigit bibirnya malu. Air mata di matanya tak pernah berhenti mengalir. Ada rasa malu di dalam hatinya. Rencana yang telah disusun dengan hati-hati gagal, tidak sampai di sana saja, tapi juga dia mendapatkan cemoohan dari banyak orang. Dia dipermalukan oleh orang-orang di pondok pesantren. Setelah kejadian ini, mana mungkin dia terus bertahan di pondok pesantren?


Dia tidak akan pernah memiliki wajah untuk bertemu lagi dengan sang habib ataupun orang-orang di pondok pesantren. Ah, ingin sekali dia menenggelamkan dirinya ke dalam tanah dan menghapus semua memori memalukan ini di dalam kepala.


"Tentu saja aku mengerti perasaan kalian sebagai orang tuanya. Namun aku tidak bisa berdamai dengan masalah ini sekalipun hatiku sudah memaafkan. Karena bila aku ceroboh sedikit saja, aku akan masuk ke dalam jebakan putri kalian."


Wajah Ayah dan Bunda langsung berubah drastis. Jebakan Aira?


"Habib Thalib, tolong pikirkan lagi apa yang telah kamu katakan kepada putri kami. Abah sendiri mengatakan bahwa dia sedang bingung dan tidak bisa berpikir jernih ketika kejadian terjadi, jadi mana mungkin ini menjadi jebakan putri kami disaat dia sendiri tidak dapat mengenali orang yang dia peluk?" Ayah marah dengan tuduhan sang habib kepada Aira.


Dia memang malu dengan kejadian ini. Menuduh orang yang salah dan bahkan berteriak-teriak demi membela Aira, tapi meskipun Aira telah melakukan kecerobohan kali ini, dia tidak akan membiarkan orang lain menuduh Aira melakukan kejahatan apalagi sampai merendahkannya. Dia adalah seorang Ayah, dia tidak akan pernah rela melihat putrinya diinjak-injak.


Habib Khalid tersenyum,"Itulah yang aku herankan. Dia meminum obat yang salah tapi kenapa juga masuk ke dalam kamar yang salah? Ngomong-ngomong itu adalah kamar tempatku beristirahat kemarin. Tidak ada yang masuk ke sana kecuali diriku, tapi kenapa dia bisa masuk dan bahkan sampai menyebut namaku padahal dia bertemu dengan Nadira? Otaknya memang tidak bisa berpikir jernih atau bahkan mengenali orang lain, namun kenapa di antara semua nama ataupun laki-laki di pondok pesantren, dia hanya memanggil namaku seorang? Tolong jelaskan ini, jika bukan rencana dari putrimu yang ingin menjebak ku, lalu apa penjelasan dari semua ini? Dan ngomong-ngomong...ini kebetulan sekali. Hari itu aku juga minum obat-obatan terlarang yang sama dengan putri kalian, tidakkah ini terdengar aneh? Kami minum obat yang sama dan dia berada di dalam kamar tempatku beristirahat, seolah-olah semuanya telah direncanakan. Pada saat itu tubuhku bereaksi salah dan aku tidak punya tempat beristirahat selain kamar itu, bila... Bila aku ceroboh dan langsung masuk ke dalam kamar itu, maka ceritanya akan berbeda. Dengan kata lain, apa yang diinginkan putri kalian akan terwujud. Ceritanya akan berakhir seperti ini'kan?" Setiap kata yang dikatakan oleh sang habib membuat detak jantung Aira kian melambat seiring rasa dingin yang mulai merambat ke punggungnya.


Apa yang dikatakan oleh sang habib sama persis dengan apa yang diinginkan, bagaimana mungkin sang habib bisa berpikir sejauh ini?


Memikirkannya saja membuat Aira ketakutan. Tidak, tidak ada CCTV di dalam dapur dapur. Aira yakin melihat dengan jelas bahwa tidak ada CCTV di dalam dapur. Dengan begini kecurangan yang tidak akan diketahui oleh siapapun.


"Habib Thalib... Aku memang tidak sengaja menyebut namamu hari itu karena kepalaku sangat pusing. Aku tidak tahu kemana kakiku melangkah karena badanku sangat panas dan haus, aku harus mencari tempat atau air untuk meredakan perasaan itu. Jadi aku masuk begitu saja ke ruangan yang bisa dimasuki. Dan memang... Masalah Nadira membuatku salah paham. Kupikir itu habib Thalib karena kamar itu memiliki wangi habib Thalib... Maka wajar saja jika aku salah paham dan menganggap Nadira sebagai habib Thalib. Dan sungguh... Sungguh aku tidak pernah berniat jahat ataupun membuat rencana untuk menjebak habib Thalib karena aku juga merupakan korban di dalam situasi ini. Aku..hiks..." Mengusap wajahnya kasar, dia berusaha berbicara untuk membela diri.


"Aira... Aira, tenang. Jangan berbicara terlalu cepat, nafas kamu tidak stabil sekarang." Bunda membujuk putrinya agar lebih tenang.

__ADS_1


__ADS_2