Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 13.8


__ADS_3

Setelah sholat isya, semua orang kembali ke asrama untuk menaruh alat sholat dan Al-Qur'an yang dibawa ke masjid tadi. Mereka semua beristirahat sejenak untuk meluruskan kaki yang kaku karena terlalu banyak duduk di masjid sebelum pergi berbondong-bondong ke kantin pondok pesantren untuk makan malam. Semua orang sangat excited pergi ke kantin karena mengidam-idamkan makanan yang dirazia pondok pesantren. Entah buah atau jajan yang didapatkan, mereka semua jelas menantikannya.


"Moga aja malam ini kita enggak makan tempe." Harap Dira sudah bosan.


Bukannya tidak mensyukuri apa yang ada tapi Dira sudah bosan makan lauk tempe sejak awal masuk hingga hari ini. Tempenya emang dibuat macam-macam tapi tetap saja rasanya masih tempe, lama-lama lidahnya jadi mati rasa karena selalu makan makanan yang sama dalam waktu satu bulan ini.


"Enggak usah ngarep, tempe adalah asupan protein yang wajib di atas piring anak pondok." Gisel tidak berbicara omong kosong.


Tempe dan tahu adalah makanan yang wajib, hampir setiap waktu makan mereka melihatnya di atas piring. Awalnya bosan tapi seiring waktu berjalan dia jadi enggak perduli selama bisa makan.

__ADS_1


"Pergi, yuk. Yang lain udah pada berangkat tuh." Ajak Aish seraya bangun dari kasurnya.


Dira dan Gisel mengangguk. Mereka kemudian pergi bersama-sama ke kantin. Di jalan mereka bertemu dengan banyak santriwati dari kamar yang berbeda dan kelas yang berbeda. Aish ataupun Dira dan Gisel tidak mengenal mereka tapi masih mengingat wajah-wajah terkenal di asrama ini. Seperti Khalisa yang masih bersikap lembut dan rapuh, dia sama sekali tidak segan saat berpapasan dengan kelompok Aish. Lalu ada Nasha dan teman-temannya. Dia adalah senior di sini dan punya banyak pengagum langkahnya tak pernah sepi karena selalu dikerumuni banyak santriwati.


Selain itu, mereka tidak tahu namanya lagi dan sejujurnya, mereka tidak terlalu perduli.


Sesampai di kantin, sudah ada banyak orang yang duduk di kursi masing-masing. Kebetulan Aish dan kedua sahabatnya menemukan kursi kosong di pojokan. Beruntungnya lagi kursi itu berbatasan langsung dengan gorden pembatas kantin laki-laki dan perempuan. Sejujurnya ini adalah spot yang bagus karena di gorden itu ada lubang kecil-kecil yang robek karena termakan usia. Lubang itu adalah celah yang dapat dimanfaatkan para santri ataupun santriwati untuk saling mengintip.


Aish tidak terlalu perduli dan duduk di sampingnya. Sedangkan Gisel duduk di seberang mereka atau membelakangi gorden.

__ADS_1


Kantin sangat berisik pada awalnya. Tapi setelah para ustad dan ustazah masuk, kantin langsung menjadi jauh lebih sepi meskipun masih ada suara-suara dari santriwati yang enggan menutup mulutnya.


"Ugh, kapan sih makanan dibagiin." Bisik Gisel tak sabar.


Matanya sedari tadi melirik pintu dapur yang tidak kunjung mengeluarkan makanannya. Padahal dia sudah sangat lapar, apalagi setelah mencium wangi masakan yang menguar sedari tadi ke segala arah.


Uh, perutnya langsung meronta-ronta.


"Sabar. Makanannya bentar lagi datang, kok." Hibur Aish

__ADS_1


"Jangan mikirin makanan dulu. Mumpung masih ada waktu, kenapa kalian enggak manjakan mata kalian dengan harta pondok yang sangat sulit dilihat sebelumnya?" Aneh, Dira yang biasanya paling ngebut kalau soal makanan tiba-tiba saat ini jadi kalem dan tenang.


"Harta apa?" Tanya Aish dan Gisel kompak.


__ADS_2