
"Kenapa harus takut sih sama dia? Manusia juga." Balas Aish berbisik tak puas.
Akh, ia masih belum puas melihat habib Khalid. Sekarang tidak ada gunanya lagi karena sang habib sudah berjalan melewatinya dan Aish sangat menyesal telah melewatkan kesempatan ini.
Dira tersenyum konyol. Dia lupa jika sahabatnya ini agak lain. Daripada mengaku kalah, sahabatnya yang satu ini lebih suka berperang sampai titik penghabisan. Sungguh konyol.
"Iya, iya, yang manusia biasa." Dira tidak berdaya.
Setelah rombongan sang habib pergi, semua santriwati tidak berpura-pura sok sibuk lagi. Satu demi satu dari mereka bubar dari koridor dan masuk ke dalam kamar masing-masing. Hanya dalam waktu beberapa menit tempat yang ramai tiba-tiba menjadi sepi seperti biasanya.
"Masuk yuk, bentar lagi mau ashar nih." Ajak Gisel ke dalam.
__ADS_1
Aish dan Dira mengangguk ringan. Mereka masuk ke dalam kamar dan mendengar cerita yang berbeda dari anak-anak kamar yang lain. Jika sebelumnya mereka membicarakan Nadira yang telah mengancam kesejahteraan mereka, maka sekarang mereka membicarakan tentang razia tadi dan perdebatan sengit Aish bersama dokter Ira. Tidak ada yang berkomentar buruk tentang Aish, mereka malah memihak Aish dan mengacungi Aish dua jempol atas keberaniannya.
"Lagipula ini hanya coklat, kenapa dokter Ira membesar-besarkannya?"
Gadis yang sudah lama tidak menonjol mengerutkan keningnya tidak senang,"Ini demi kebaikan kita semua. Siapa tahu apa yang dokter Ira bilang itu benar kalau Gisel cuma mengada-ada aja. Kita kan enggak tahu."
Buah dan makanan Gadis juga diambil sebelum dia sempat memakannya. Rencananya dia ingin memakan semuanya saat sedang lapar nanti. Tapi siapa yang tahu razia tiba-tiba diadakan. Dan dia juga merasa habib Khalid tidak adil karena memihak Gisel. Harusnya semua orang disama ratakan agar tidak ada yang cemburu. Kalau begini kan banyak yang tidak puas melihat Gisel punya banyak coklat sedangkan mereka kosong.
"Astagfirullah, kamu enggak boleh ngomong gitu. Jelas-jelas habib Thalib sendiri yang bilang langsung kalau Gisel sudah punya izin dari pondok pesantren sehingga dia diperbolehkan menyimpan coklat itu. Lagipula Gisel kan cuma makan sepotong-sepotong aja untuk asupan gula darahnya dan enggak makan langsung, maka kita tidak sepatutnya merasa cemburu."
"Oh...aku tidak bermaksud begitu. Maaf jika kata-kata ku membuat kalian tidak nyaman."
__ADS_1
Gadis tersenyum tipis. Dia berpura-pura setuju dengan apa yang mereka katakan padahal jauh didalam hatinya dia sangat tidak setuju dengan apa yang mereka bilang.
Bosan dengan pembicaraan ini, dia diam-diam menyisihkan dirinya dari mereka dan berpura-pura sibuk membuka buku-buku sekolahnya.
"Simpan aja coklatnya buat diri sendiri. Lagian ini kan obat bukan makanan ringan. Besok waktu hari minggu aku akan beliin kamu yang baru lagi." Suara acuh tak acuh Aish memasuki pendengaran Gadis.
Gadis menundukkan kepalanya, melirik Aish, Gisel dan Dira dari sudut matanya. Sesekali dia membenci Aish karena begitu mudahnya dekat dengan habib Khalid dan mampu menarik perhatiannya. Dan sesekali dia juga merasa cemburu dengan Gisel maupun Dira yang diperlakukan sangat baik oleh Aish.
Jangankan makanan, uang belanja pun ditanggung oleh Aish sendiri.
Mengapa Aish sangat murah hati?
__ADS_1
Gadis memikirkannya dalam suasana hati yang suram.