
Dira melihat ada sesuatu yang salah dengan Gisel.
"Enggak apa-apa?"
Dira melambaikan tangannya santai.
"Kebetulan aku juga mau ke kamar mandi. Jadi samaan aja."
"Okay, ayo pergi."
Setelah mendapatkan anggukan dari Aish, mereka langsung berpisah. Dia dan Dira langsung pergi ke arah kamar mandi sementara Aish masuk ke dalam asrama. Awalnya langkahnya sangat cepat namun perlahan menjadi agak lambat.
"Ugh..." Tangannya kanannya memegang perut bawahnya yang terasa kram.
Rasanya sangat menyakitkan. Wajah Gisel tampak kehilangan darah, pucat dan berkeringat dingin. Sungguh, bila bisa dia ingin sekali duduk dan beristirahat untuk meredakan rasa sakitnya. Namun dia tidak bisa karena ada kekhawatiran di dalam hatinya.
Dia takut, sangat takut setiap kali memikirkannya.
"Kamu enggak apa-apa, Gis?" Tanya Dira khawatir.
Gisel menggelengkan kepalanya. Memaksa diri untuk terlihat baik-baik saja.
"Aku enggak apa-apa, kok."
Setelah sampai, dia masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintu serapat mungkin. Meninggalkan Dira di luar yang masih belum surut paniknya. Dia takut Gisel akan pingsan di dalam kamar mandi jadi sesekali dia akan memanggilnya. Beberapa menit kemudian dia keluar dengan kelegaan yang terukir jelas di wajah pucat nya.
"Alhamdulillah... Alhamdulillah..." Gumamnya bersyukur.
Aku tidak hamil. Batinnya menghilangkan kekhawatiran.
Dia pernah mengorbankan mahkotanya hanya untuk cinta yang tidak berbalas, memberikan mahkotanya kepada lelaki yang tidak akan pernah mencintainya dan bahkan bodohnya lagi, laki-laki itu pergi meninggalkannya begitu masalah ini ditemukan.
"Betapa buruknya aku dulu." Ucap Gisel mencela diri sendiri.
"Kamu ngomong apa, Gis?" Dira datang menghampirinya.
Gisel membuka mulutnya untuk berbohong tapi semua kata-katanya langsung tertelan oleh rasa sakit di perutnya.
"Ugh..." Sakitnya datang lagi.
"Gis?" Tubuh Dira langsung menegang.
Dira memegang lengan kanan Gisel untuk berjaga-jaga.
"Ayo kembali ke asrama." Kata Gisel lemah.
Dia mencoba berjalan kembali ke asrama tapi sakit di perutnya semakin menjadi-jadi. Keringat dinginnya keluar ada dimana-mana. Di wajah, punggung, tangan, dan kaki. Seakan-akan mereka berlomba-lomba untuk mengeluarkan cairan tubuhnya. Membuat tubuhnya yang lemah menjadi lemas dan tidak bertenaga.
__ADS_1
"Okay, kamu enggak bisa jalan lagi. Lebih baik kamu duduk di sini dulu dan tunggu aku memanggil Aish." Dira buru-buru mendudukkan Gisel di atas bebatuan samping gedung kamar mandi.
Dengan kondisi Gisel yang seperti ini, mereka tidak mungkin bisa kembali ke asrama kecuali Gisel dipapah oleh Dira dan Aish.
"Hem..." Gisel tidak keras kepala.
Dia juga menyadari bila kondisi tubuhnya berada di luar kendalinya.
"Bagus. Diam di sini dan tunggu aku kembali. Aku akan memanggil Aish." Kata Dira mengingatkan Gisel dengan serius dan segera berlari cepat menuju asrama setelah mendapatkan anggukan Gisel.
Tinggallah Gisel sendirian di sini. Meskipun cahaya bulan malam ini terang dan ada juga lampu di gedung kamar mandi, namun rasanya tetap mengerikan karena di tempat ini hanya ada dirinya seorang.
Gisel takut tapi rasa sakit di perutnya telah mengalahkan ketakutannya.
"Ugh.." Gisel meremas kain gamis nya menahan sakit.
"Siapa?" Suara berat laki-laki mengagetkan Gisel yang sedang kesakitan.
Gisel dengan tajam melihat ke arah pagar besi di depannya. Di bawah cahaya bulan yang terang berdiri laki-laki tinggi dengan setelan pakaian khas anak pondok lengkap dengan sarung. Di tangan kanan laki-laki itu ada senter yang masih menyala tapi tidak diarahkan ke Gisel.
"Kak... Danis?" Panggil Gisel ragu.
Laki-laki itu tidak menjawab. Dia mematikan nyala lampu senternya sebelum melangkah ke depan hingga hampir menyentuh pagar besi tajam yang membatasi wilayah asrama putri dengan area luar.
Awalnya Gisel ragu, dan keraguannya ini semakin bertambah saat dia tidak mendengar jawaban Danis.
Keraguannya segera tersapu bersih.
"Apa yang sedang kamu lakukan di sini sendirian?" Suara berat itu begitu candu di dalam pendengaran Gisel.
Menahan sakit, Gisel memalingkan wajahnya menatap ke arah lain.
"Aku sedang menunggu Dira dan Aish datang." Jawab Gisel lemah.
Tenaganya telah menipis banyak. Jika bukan karena kedatangan Danis, dia pasti tidak akan memiliki mood untuk berbicara.
Diam. Gisel hanya menjawab singkat tanpa niat untuk menjelaskan urusannya. Lagipula Danis mungkin tidak membutuhkan penjelasannya lebih lanjut karena baginya, Gisel mungkin tidak ada bedanya dengan orang-orang lewat di luar sana.
"Apa kamu sakit?" Tanya Danis masih dengan suara beratnya.
Gisel terkejut. Dia heran mengapa Danis bisa melihatnya. Apa karena cahaya bulan yang terlalu terang malam ini sehingga Danis bisa melihat kondisinya?
Gisel menundukkan kepalanya malu.
"Ini... hanya masalah wanita." Jawab Gisel dengan suara kecil namun masih bisa di dengar oleh Danis.
Masalah wanita sudah cukup menjelaskan semuanya! Ah, jawaban ini sebenarnya sangat memalukan!!!
__ADS_1
Dengan,
WUSH!
Danis melemparkan sarungnya kepada Gisel.
"Apa wajahmu tidak apa-apa?" Naas, kain sarung nya tepat menabrak wajah Gisel.
"Tidak, tidak apa-apa." Jawab Gisel linglung.
"baguslah, kamu bisa memakainya. Di luar terlalu dingin."
Gisel terpaku di tempat menatap kain sarung yang sempat menabrak sisi kiri wajahnya. Tidak- bukan itu intinya!
Intinya adalah sarung ini diberikan oleh Danis! Laki-laki dingin yang sebelumnya pernah dia taksir diam-diam!
Apakah Danis orang yang sangat murah hati? Dengan mudahnya memberikan barang pribadi kepada seorang gadis?
Jika gadis itu bukan dirinya, Gisel bertanya-tanya apakah Danis akan melakukan hal yang sama kepada gadis itu?
"Terima... terima kasih, kak. Tapi aku-"
"Gisel?!" Dira berteriak dari kejauhan dengan beberapa orang di belakangnya.
Awalnya Dira hanya memanggil Aish saja tapi Siti dan teman kamar yang lain sempat mendengar percakapannya sehingga mereka mengajukan diri untuk ikut membantu. Dira dan Aish tidak akan menolak kebaikan mereka, apalagi momen ini sangat genting, maka jadilah Dira dan Aish datang dengan sekelompok orang.
Gisel langsung menatap horor kedatangan mereka,"..." Aku bukan korban gempa okay, jadi tidak perlu membawa satu kamar sekaligus!
Ah, kak Danis!
Gisel menoleh ke samping, melihat pagar besi yang kini tidak menunjukkan keberadaan siapapun.
Danis sudah pergi.
Gisel kecewa. Tapi kekecewaannya tidak bertahan lama karena sarung yang Danis sempat gunakan tadi sekarang ada di tangannya.
"Sangat lembut." Gumamnya rendah.
"Gisel, Gisel! Kamu belum pingsan, kan- Allahuakbar, sarung kolor ijo kok bisa ada di tangan kamu?!"
Sesampainya di depan Gisel, dia dan yang lainnya langsung dibutakan oleh warna sarung hijau terang yang sedang dipegang Gisel. Warna sarung nya sangat mencolok, hijau terang! Saking terangnya, warna itu seolah berteriak-teriak bila 'aku ada di sini!', sungguh mencengangkan!
Bersambung...
Suaranya yuhuu?
Makin banyak makin semangat author nulis ðŸ¤
__ADS_1