
Pulang dari kantin, mereka bertiga langsung ke kamar mandi untuk cuci tangan dan wajah sebelum kembali ke kamar. Inginnya sih ambil wudhu buat tidur tapi mereka bertiga enggak akan tahan menjaga kesucian air wudhu itu. Paling beberapa menit kemudian mereka tidak akan tahan pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil dan sebagainya. Enggak nahan kan kalau ambil air wudhu berulang-ulang kali.
"Aneh banget kamu, Aish. Normalnya orang kan ambil tasbih buat zikir, lha kenapa kamu ambil tasbih buat tidur?" Lagi ambil selimut, perhatian Gisel tiba-tiba ditarik oleh sahabatnya.
Aish punya kebiasaan baru-baru ini. Sebelum tidur ia akan mengeluarkan sarung hijaunya- bukan untuk digunakan, melainkan untuk ditaruh di samping kepalanya. Lalu ia juga akan mengeluarkan tasbih yang habib Khalid berikan kepadanya dan mengalungkan tasbih itu untuk dibawa tidur.
Gisel tahu tasbih nya pemberian sang habib dan dia juga pernah cemburu melihat sahabatnya mendapatkan sesuatu yang sangat harum serta indah seperti tasbih ini. Hanya saja, apa sahabatnya enggak aneh dengan sikapnya yang seperti ini?
Bukankah ini namanya menyia-nyiakan fungsi tasbih itu sendiri?
"Biar mimpi ku bagus. Habisnya wangi, sih."
Benar banget. Tasbihnya wangi bunga mawar, harumnya menenangkan hati. Dan yang membuat Aish lebih kagum lagi adalah bahwa wangi tasbih ini enggak habis-habis, seakan tasbih ini telah direndam dalam mawar bertahun-tahun lamanya.
Hem, sangat wangi.
"Terserah kamu, deh." Gisel tersenyum geli.
Gisel tidak lagi memperhatikan sahabatnya itu. Dia merapikan selimut tidurnya di atas ranjang. Setelah dipikir-pikir dia kekurangan sarung Danis. Seperti Aish, dia juga suka bawa sarung Danis tidur dan memasuki dunia mimpi.
Namun saat dia membuka lemari, pikiran Gisel langsung kosong. Tangannya membeku melihat baju-baju di dalamnya agak berantakan seperti ada orang yang pernah mencari sesuatu di dalamnya.
Panik, Gisel buru-buru mengangkat lapisan pakaian terakhir di dalam lemarinya. Dia biasanya menaruh harta bendanya di tempat itu selama ini.
Kosong. Tak ada satu lembar pun yang tertinggal. Lutut Gisel langsung lemas. Dia telah kehilangan uangnya. Tidak hanya uang, tapi beberapa batang coklatnya pun ikut raub dan hanya meninggalkan beberapa batang coklat untuk stoknya beberapa hari. Gisel langsung merasa lemah. Dia kehilangan seluruh uang simpanan nya termasuk uang yang diberikan Aish juga ikut terseret.
Duduk lemah di ranjang, kepala Gisel langsung berdengung pusing. Apa yang harus dilakukan sekarang?
Uangnya hilang dan dia sama sekali tidak punya simpanan untuk kedepannya. Meminta ke Aish dan Dira?
Gisel tidak tega karena di sini mereka sama-sama musafir. Sudah bagus mereka berdua membantunya selama ini jadi sangat tidak pantas rasanya jika dia meminta lagi. Lalu apa yang harus dia lakukan sekarang?
"Gis, Gisel? Kamu kenapa?" Aish melihat ada sesuatu yang salah dengan Gisel.
__ADS_1
Gisel tersadar. Wajah pucat nya yang linglung beberapa saat lalu kini mulai fokus kembali.
"Aku enggak... enggak kenapa-napa kok, Aish." Dia memutuskan untuk menyimpannya sendiri.
Aish ragu ketika melihat wajahnya yang tiba-tiba pucat.
"Serius, nih?"
Gisel tersenyum tipis,"Cuma pusing aja dan besok pasti hilang setelah bangun tidur." Katanya berbohong- tidak, faktanya dia benar-benar pusing saat ini.
Uangnya hilang dan dia tidak tahu siapa orang yang tega mengambil uangnya. Keterlaluan rasanya. Mereka semua sama-sama musafir, sama-sama kekurangan uang, dan sama-sama membutuhkan uang, tapi kenapa mereka tega mengambil seluruh simpanannya?
Gisel marah sekaligus sedih, tapi dia lebih tidak berdaya lagi karena tidak tahu harus melakukan apa.
"Okay, kalau begitu kamu tidur aja. Besok langsung minum obat kalau pusing kamu masih belum hilang." Pesan Aish akhirnya tak terlalu memperhatikannya lagi.
Gisel mengangguk ringan. Dia ikut merebahkan dirinya di atas kasur namun matang yang sedih menyapu teman-teman kamarnya yang mulai berbaring di atas kasur bersiap untuk tidur.
"Ya Allah, semua uangku hilang. Lantas apa yang harus aku lakukan sekarang?" Bisiknya sedih.
Sementara itu anak-anak kamar yang lain tidak mengetahui masalah apa yang baru saja menimpa Gisel di kamar ini. Mereka masih beraktivitas seperti biasanya. Membaca beberapa bab pelajaran sebelum tidur atau mengobrol sebentar sebelum tidur. Semuanya berjalan seperti malam-malam sebelumnya tanpa rasa bosan.
"Gadis, kamu habis dari mana?" Tanya teman ranjang Gadis saat melihatnya baru balik ke kamar sekarang.
Gadis tersenyum malu,"Aku habis dari kantor staf izin ngirim pesan ke orang tuaku. Ibu bilang dia akan mengirimi ku uang belajar besok." Katanya dalam suasana hati yang baik.
Anak manapun pasti senang mendapatkan kiriman uang belanja dari keluarga masing-masing.
"Harus jam segini, yah? Bukannya pondok enggak akan ngizinin apapun alasan kita?" Tanya temannya heran.
Pondok pesantren telah menetapkan aturan bahwa di atas jam 5 sore, tidak ada yang diizinkan meminjam telepon untuk sekedar menelepon atau mengirim SMS ke keluarga. Jika mau, mereka diberikan kesempatan setelah pulang sekolah agar tidak menggangu aktivitas yang lain.
"Itu...aku sebelumnya pernah bantuin ustazah ambil barang jadi dia berbelas kasih ngizinin aku ngirim pesan ke kampung halamanku." Jawabnya gelagapan.
__ADS_1
Temannya hanya mengangguk ringan mengerti namun matanya tidak pernah lepas dari bibir Gadis.
Apakah anak ini tidak berbohong? Pikirnya.
"Apa ustazah juga memberikan mu coklat selain bisa menghubungi orang tuamu?" Tanya temannya heran.
Gadis kaget, kedua tangannya langsung berkeringat dingin.
"Apa?" Tanyanya gugup.
Temannya menunjuk sudut mulut Gadis.
"Ada coklat di bibirmu." Katanya aneh.
Gadis buru-buru menyentuh sudut bibirnya dan mengelapnya dengan panik hingga tidak menyisakan satu noda pun.
"Oh... ini bukan coklat.." Kata Gadis sambil tertawa kering.
Temannya melihat Gadis semakin aneh. Jika bukan coklat, lalu apa?
Jelas-jelas bau mulutnya mengatakan itu semua. Aneh saja, apa staf pondok sebaik itu mengizinkan Gadis menghubungi orang tuanya di jam segini dan selain itu mereka juga membagikan Gadis sebuah coklat? Tidak, pertanyaan yang lebih penting adalah apakah staf kantor masih buka atau enggak jam segini?
Dia yakin kantor tidak akan pernah buka.
Tapi ya sudahlah, ini bukan urusannya. Dia tidak memperhatikan Gadis lagi.
Gadis masih tersenyum kering. Dia melihat teman-teman disekelilingnya dengan tatapan antisipasi sebelum menarik pandangannya setelah memastikan tidak ada yang aneh-aneh.
Bernafas lega, dia lalu ikut berbaring di atas ranjang dan bersiap untuk memasuki alam mimpi. Tidak seperti waktu-waktu sebelumnya, suasana hatinya malam ini sangat lega karena dia tidak lagi kekurangan uang.
Hem, senangnya. Batin Gadis dalam suasana hati yang baik.
...*****...
__ADS_1