
Karena perasaan cemburu dan amarah di dalam hati menggebu-gebu, kedua tangannya gemetaran dan pikirannya tidak stabil, untuk sesaat dia tidak bisa mengendalikan emosinya sendiri.
"Jika... Jika kak Aish saja bisa melakukan sesuatu untuk membuat habib Thalib perhatian kepadanya maka, bagaimana mungkin aku juga tidak bisa? Tidak benar! Dibandingkan kak Aish, aku jauh lebih mampu. Aku pasti bisa membuat habib Thalib berpaling kepadaku dan aku juga bisa membuat habib Thalib tidak menyukai kak Aish. Habib Thalib harus tahu betapa buruk kak Aish. Dan habib Thalib harus tahu semua perbuatan yang telah kak Aish lakukan untuk menyakitiku. Jangan sampai habib Thalib mempercayai kakakku, bahkan lebih buruk berpacaran dengannya! Aku tidak akan pernah membiarkan itu semua terjadi!" Melihat ke arah sawah lagi, Aira tidak melihat punggung mereka berdua.
Dia menggertakkan giginya dan turun ke sawah untuk mencari mereka berdua. Tapi setelah berjalan lama, dia tidak menemukan bayangan mereka berdua. Entah ke mana mereka berdua pergi, mungkin turun ke sungai atau berteduh di sekitar sungai, Aira tidak bisa menemukannya. Dia sangat panik dan sakit hati.
Ada banyak sekali prasangka buruk di dalam hati. Mungkin saja Aish akan melakukan sesuatu yang tidak-tidak kepada habib Khalid, atau mungkin saja Aish mencoba mempengaruhi habib Khalid dengan mengirimkan ide-ide buruk atau menjelek-jelekkan keluarga di rumah. Apapun itu tidak akan ada hal baik yang datang dari mulut Aish. Karena itulah dia sangat takut membiarkan mereka berdua bersama.
"Mereka pergi? Ke mana kak Aish membawa habib Thalib pergi?" Tanyanya bingung sembari mengedarkan pandangannya ke segala arah.
Namun sejauh mana matanya memandang, dia tetap dikecewakan karena tidak menemukan mereka berdua. Kesal, dia menghentakkan kakinya marah sebelum berbalik naik ke jalan setapak. Berjalan beberapa langkah, dia menoleh ke sawah lagi berharap matanya kembali menangkap keberadaan mereka berdua.
Tapi nihil, dia tidak menemukan siapapun. Dadanya kian sesak. Dan langsung pergi dengan langkah cepat karena terlalu marah.
Di depan asrama dia tidak sengaja berpapasan dengan Dira dan Gisel yang baru saja kembali berbelanja dari ke kantin asrama. Saat ini dia sama sekali tidak mau berurusan dengan mereka. Dia ingin segera kembali ke kamar untuk menenangkan perasaannya. Tapi Gisel dan Dira tidak mengerti apa yang dia inginkan.
__ADS_1
"Yo, kupikir kamu sudah kembali ke habitat mu." Ucap Dira mengejek dengan ekspresi menyebalkan di wajahnya.
Karena kesal mendengar ejekannya, dan lebih kesal lagi melihat wajahnya yang menyebalkan.
"Jangan membuat masalah, aku tidak ingin bertengkar dengan kalian." Katanya tidak senang.
Jika suasana hatinya sedang baik, maka tidak apa-apa untuk meladeni mereka. Tapi sayangnya saat ini dia sedang marah dan tidak mood untuk bertengkar.
"Siapa yang membuat masalah? hei, kamu terlalu menganggap tinggi dirimu sendiri. Padahal aku bertanya baik-baik kenapa kamu tidak pulang ke habitat mu sendiri?" Dira bertanya dengan polosnya.
"Kok tumben, biasanya dia akan mencari masalah kepada kita. Aku baik lho hari ini, sebelum dia membuka mulut untuk mencari topik masalah, aku memutuskan untuk menjadi pembicara pertama. Tapi reaksinya sangat mengecewakan. Dia langsung pergi begitu saja." Dira merasa heran melihat kepergian Aira. Karena biasanya Aira pasti akan memperpanjang masalah, kalau bisa panjangnya sampai mengalahkan sungai Nil untuk memecahkan rekor.
Mata Gisel menyipit,"Dia mungkin sedang ada masalah."
Dira mengangkat kedua bahunya tidak perduli,"Syukurlah. Dengan begitu dia tidak akan membuat masalah lagi untuk Aish. Sangat menjengkelkan melihat batang hidungnya kemanapun Aish pergi. Dia bilang Aish lah yang mengganggunya, tapi jelas-jelas dialah yang datang mencari masalah kepada Aish. Aku sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikiran anak ini. Aku rasa keluarganya gila menjunjung anak ini begitu tinggi dan memperlakukannya bagaikan harta berharga, faktanya aku merasa kalau dia adalah sampah menjijikkan."
__ADS_1
"Hush, nanti di dengar sama orang." Gisel menepuk tangan Dira agar berhenti berbicara.
Sudah baik pertengkaran semalam tidak menarik perhatian dari pondok pesantren sehingga mereka tidak dihukum.
Dira memutar bola matanya tidak peduli. Memangnya siapa yang peduli dengan pertengkaran kecil?
Jika ini beberapa hari yang lalu, pondok pesantren akan cepat tanggap. Tidak, lebih tepatnya staf kedisiplinan asrama putri yang akan bergerak cepat menyelesaikan masalah ini. Tapi mungkin tidak dengan hari-hari ini karena sebagian besar orang pulang ke rumah dan sisanya yang menunggu di pondok pesantren memiliki banyak kesibukan, terutama gugup menanti hasil akhir ujian. Mereka tidak punya waktu untuk memperhatikan masalah lain, kalau tidak pertengkaran semalam pasti sudah diurus di kantor sekarang.
"Humph, tidak ada yang peduli dengan masalah kecil ini. Tapi," Dira memegang pinggulnya,"Kenapa Aish belum pulang juga?"
Gisel melihat ke arah gerbang pondok pesantren, di depan sana dia tidak melihat apapun selain para santriwati yang hilir mudik."Aku penasaran apa yang terjadi di antara mereka berdua tadi malam."
Dira tersenyum ambigu,"Apakah ini yang aku pikirkan?"
Gisel menggelengkan kepalanya tidak berdaya,"Jangan memikirkan yang aneh-aneh. Habib Thalib bukan orang yang seperti itu."
__ADS_1
Dira mengelak,"Aku tidak memikirkan ke arah sana." Padahal iya.