
Aish melihat botol air itu. Masih tersisa setengah. Artinya habib Khalid juga minum dari sana. Memikirkannya, wajah Aish langsung menjadi panas dan mulai mengembangkan warna merah dibawah pengawasan mata sang habib.
"Iya, kak." Tangannya terulur mengambil botol itu dari sang habib dan mengucapkan terima kasih dengan suara malu-malu,"Terima kasih." Bisiknya gugup.
Habib Khalid terkekeh geli. Tangannya gatal ingin mencubit pipi merah Aish yang mulai jauh lebih gembil dari awal masuk pondok.
Memegang botol ditangannya, Aish lalu duduk di kursi kayu depan kantor sekolah dan meminum minumannya. Sesungguhnya, ia tak terlalu haus. Namun karena ini adalah minuman yang diberikan oleh sang habib, Aish tiba-tiba merasa tenggorokannya sangat kering dan membutuhkan minuman ini.
Glup
Glup
Glup
Ia minum 3 kali sesap dibawah pengawasan mata sang habib. Aneh, hanya habib lah yang sekarang sedang mengawasinya sedangkan orang-orang lain mengalihkan fokus mereka dengan berdiskusi.
"Rasanya manis tidak seperti biasanya. Apakah ini air zam-zam?" Tanya Aish menebak.
Habib Khalid lantas tertawa yang membuat Aish semakin malu. Apa pertanyaannya salah?
Apakah pertanyaannya terdengar lucu?
Jika tidak, lalu mengapa sang habib menertawakannya?
"Ini hanya air biasa. Rasanya manis mungkin karena pernah diminum olehku." Ucapnya membantah.
Pernah diminum sang habib?
Jantung Aish langsung berpacu panik di dalam dadanya. Ternyata benar apa yang diduga olehnya. Minuman ini juga pernah diminum oleh sang habib belum lama ini. Dan betapa bersyukur nya Aish menjadi orang pertama yang menghampiri sang habib, jika bukan ia, maka mungkin Nadira lah yang mendapatkan kesempatan itu.
Aish jadi cemburu memikirkannya.
Ia menggigit bibirnya berpikir keras.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya sang habib sembari merendahkan tubuhnya agar bisa berbicara dengan Aish.
Aish meremat botol air itu gugup dan ragu-ragu.
"Jika...jika bukan aku yang datang ke sini, apakah... apakah kak Khalid juga akan memberikan gadis itu minuman ini?" Aish seolah-olah mengatakan bahwa ia sangat cemburu sekarang. Bahkan ekspresi tidak bisa menutupi isi pikirannya.
Mendengar pertanyaan Aish, sang habib tidak langsung menjawab. Dia tiba-tiba berjongkok di depan Aish, mengulurkan tangannya dan meraih tali sepatu Aish yang terlepas untuk diikat kembali. Aish sangat shock dengan tindakan tiba-tiba sang habib. Darahnya berdesir hangat merasakan hatinya mulai dihujani lautan bunga, rasanya sangat manis hingga membuat Aish ingin menangis terharu.
Tidak hanya Aish saja yang shock dengan tindakan habib, orang-orang yang berjalan bersama Nadira langsung ketakutan melihatnya. Bagiamana mungkin sang habib melakukan itu kepada orang lain?
Bukankah sebelumnya habib Khalid sangat enggan berdekatan dengan gadis lain?
Lalu kenapa Aish tidak hanya dekat dengan sang habib namun juga diperlakukan sangat baik?
__ADS_1
Langkah mereka tiba-tiba berhenti. Mulut mereka terbuka tidak percaya menatap pemandangan yang tidak jauh dari posisi mereka saat ini. Lalu, mereka mengalihkan pandangan mereka ke arah Nadira. Dan yah, Nadira juga sangat kaget. Matanya bahkan berkaca-kaca antara sedih juga cemburu. Tangannya mengepal sakit hati, bagaimana mungkin pikirnya?
Jika tadi dia lah yang pertama datang, maka apakah sang habib akan memperlakukannya seperti itu?
"Tidak, tidak akan pernah. Hanya kamu saja, semuanya sudah cukup." Jawabnya ambigu sambil mengikat sepatu Aish dengan ekspresi yang sangat serius.
Aish tertegun. Jantungnya langsung menggila- tidak, tidak hanya jantungnya yang menggila tapi hatinya juga tak kalah gila nya. Ia ingin menangis saat ini dan berteriak ke langit bahwa hari ini ia sangat... sangat senang.
"Kak Khalid..." Panggil Aish lembut.
Habib Khalid sontak mengangkat kepalanya menatap Aish.
Hatinya langsung menghangat melihat betapa lembut wajah Aish saat ini, tersenyum lembut, dia lalu bertanya dengan suara yang lembut pula,"Ada apa?"
Aish memberanikan diri berbicara,"Tahukah kamu bahwa kata-kata ini dapat membuat orang salah paham?"
Habib Khalid langsung terkekeh,"Lalu salah paham lah. Tidak apa-apa."
Ah, Aish gatal ingin mencubit wajah pujaan hatinya ini. Bagaimana mungkin dia bisa bersikap selembut ini kepadanya?
Nah, tidak apa-apa. Memang seharusnya habib Khalid bersikap dan bertindak lembut hanya kepadanya karena Aish enggak akan rela jika sang habib melakukannya kepada gadis lain.
Aish ikut tertawa,"Baiklah, maka salah paham saja. Aku malah sangat senang." Akui Aish malu-malu.
Wajahnya yang malu-malu tampak sangat menggemaskan. Berbeda dengan citranya yang cuek sebelumnya.
Sangat tampan.
Aish mengangguk malu. Pipinya panas.
"Hu'um, aku senang. Kak Khalid, aku tidak ingin menutupinya darimu." Katanya gugup tapi berusaha memberanikan dirinya.
Habib Khalid menurunkan alisnya. Tiba-tiba matanya menjadi jauh lebih gelap.
"Hem?"
Menundukkan kepalanya malu,"Tahukah kamu bila saat ini...aku sedang mengejar mu?"
Ah, akhirnya ia mengakuinya juga!
Malu, takut, gugup, dan cemas. Ia merasakan semua itu. Bercampur di dalam hatinya hingga membentuk perasaan yang sangat rumit. Bagaimana sekarang?
Apakah sang habib akan memarahinya?
"Mengejar ku?" Tanya sang habib masih dengan kelembutan yang sama- aneh, mengapa nada suara habib jauh lebih lembut dari sebelumnya
Apakah ini hanya perasaan Aish saja?
__ADS_1
Ragu, Aish mengangkat kepalanya menatap wajah tampan tanpa cela sang habib. Masih dengan senyum yang sama, kelembutan yang sama, namun kedua mata sang habib agak gelap dari sebelumnya. Apakah ini cuma perasaan Aish saja?
"Apakah kak Khalid marah?" Tanyanya gugup.
Habib Khalid menggelengkan kepalanya tegas.
"Tidak, tapi ada satu aturan." Habib Khalid memberikan syarat.
Aish senang mendengarnya tapi masih gugup!
Apa aturannya?!
"Kejarlah. Tapi jangan berbalik setelah kamu melakukannya. Kamu hanya perlu mengingat ini." Kata habib Khalid dengan nada suara dan ekspresi yang sangat serius.
Seolah-olah habib Khalid sedang membicarakan sesuatu yang sangat...sangat penting.
Aish tertegun. Kata-kata habib Khalid seolah menyihir dirinya. Jangan pernah berbalik, Aish tidak akan pernah melakukannya. Kecuali bila sang habib sendiri yang mendorongnya pergi.
"Selama kak Khalid mendorongku pergi." Kata Aish berjanji.
Wajah sang habib langsung menjadi datar,"Itu hanya mimpi." Katanya acuh tak acuh.
Perubahan ekspresi wajahnya sangat cepat!
Tapi mimpi?
Apa artinya sang habib tidak akan mendorongnya pergi?
Aish rasanya ingin berteriak ke langit lagi!
"Sudah selesai."
Aish menunduk ke bawah melihat sepatunya. Tapi sepatunya sudah diikat rapi dengan pengerjaan yang sangat cantik.
Aish tersenyum cerah.
"Terima kasih, kak." Terima kasih untuk kesempatan, kelembutan, dan senyuman manis kak Khalid hari ini. Oh, terima kasih juga untuk minumannya. Setelah pulang ke asrama nanti aku akan menyimpan botol dan air ini dengan baik-baik. Batin Aish senang di dalam hatinya.
"Sama-sama." Mengulurkan tangannya ke depan Aish,"Botolnya."
Aish yang baru saja bermimpi,"..."
Tapi ia tidak menahannya dan langsung memberikan sang habib botol air minuman itu.
Habib Khalid mengambilnya dan langsung meminumnya di tempat.
Mata Aish sepertinya agak bermasalah karena setelah dilihat-lihat tempat yang bibir habib Khalid sentuh adalah tempat yang bibir Aish sentuh juga!
__ADS_1
Ini...ia hanya salah lihat saja, kan?