Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 14.6


__ADS_3

"Hem, sekarang jauh lebih manis." Gumam habib Khalid dengan suara kecil tapi masih di dengar oleh Aish.


Aish mendengarnya dan ia hampir saja mimisan jika tidak bisa menahan diri!


Ah, hati rasanya meleleh. Apalagi dengan suaranya yang membuat candu, Aish tidak bisa menahan diri untuk melihat wajah habib Khalid beberapa kali. Ia bertanya-tanya di dalam hatinya, kenapa sih semua yang ada pada habib Khalid selalu luar biasa dihatinya?


Aish tak pernah berpikir bila sang habib memiliki kekurangan. Apa ini karena cinta sehingga segala sesuatu selalu dipandang baik oleh hatinya?


Kalau iya, maka virus ini terlalu bahaya. Hem, bahaya tapi Aish suka dan tidak memiliki keinginan untuk melupakannya.


"Janji?"


Aish tersadar dari pikirannya sendiri.


"Apa?" Tanyanya bingung.


Habib Khalid memiringkan kepalanya dengan wajah tersenyum,"Mengejar ku." Dia mengingatkan dengan murah.


Mengejar sang habib berarti bahwa Aish mematuhi aturan yang habib buat tadi. Tidak perlu ditanya lagi karena ia tidak akan pernah menolak kesempatan yang diberikan oleh sang habib kepadanya. Sebab, kesempatan ini mungkin hanya terjadi sekali seumur hidup di dalam hidupnya.


"Baik, aku berjanji." Kata Aish dengan kedua mata bersinar terang.


Ia sangat senang hari ini. Hatinya seperti dipenuhi oleh lautan bunga sekarang.


"Sudah disepakati. Jika kamu melanggarnya, maka ada hukuman." Kata habib mengingatkan Aish.


Aish melongo, masih ada hukuman?


Kenapa habib Khalid suka sekali membuat hukuman?


Baru-baru ini Aish menyadari bila sang habib senang sekali mengancamnya dengan hukuman. Yah, hukuman. Tapi tidak apa-apa pikirnya. Selama itu habib Khalid, ia tak akan ragu menjalankannya.


Tapi ia masih saja merasa heran!


"Masih ada hukuman-"


Kata-kata Aish terpotong ketika Nadira dan kelompoknya akhirnya datang. Tadi mereka sempat berhenti, ragu apakah akan melanjutkan perjalanan atau tidak. Nadira sepertinya terlalu cemburu dan langsung membuat keputusan di depan orang-orang ini. Meskipun malu karena dirinya terlalu berani, Nadira pikir dia akan sangat menyesal jika melewatkan kesempatan ini. Maka jadilah mereka pergi.

__ADS_1


"Assalamualaikum?" Salamnya dengan senyuman manis nan sopan.


Matanya bergetar ringan dibalik mata tertunduk menatap ingin tahu pada ujung pakaian sang habib yang masih berjongkok di depan Aish.


Aish merenggut cemberut melihat kedatangan Nadira. Mengganggu saja pikirnya.


Habib kemudian bangun dan menjawab salam mereka dengan sopan. Tanpa melihat tamu yang baru saja datang, dia membawa langkahnya mundur ke belakang dan bergabung bersama teman-temannya yang lain. Jarak mereka cukup jauh sebelumnya sehingga tidak bisa mendengar percakapan sang habib dengan Aish. Walaupun penasaran, tak ada yang mengambil inisiatif untuk sekedar bertanya dan memilih untuk acuh tak acuh sampai Nadira akhirnya datang ikut bergabung.


Kabarnya Nadira bisa saja menjadi tunangan sang habib, oleh sebab itu kehadiran Nadira dengan mudahnya menarik perhatian semua orang.


"Habib Thalib, apa kabar?" Tanya Nadira bersuara lembut.


Aish awalnya kesal setiap kali melihat saingan cintanya, tapi sekarang tidak lagi- okay bohong, masih ada sedikit kekesalan dihatinya tapi tidak seburuk sebelumnya karena setelah berbicara dengan sang habib, Aish tiba-tiba memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Oh, kelompok Nadira juga tadi menonton pertunjukan yang sangat bagus. Aish sangat yakin bila mereka semua pasti terbakar cemburu melihat betapa baiknya perlakuan sang habib kepadanya.


Ya Allah, betapa senangnya Aish hari ini.


"Baik, alhamdulilah." Sang habib menjawab tanpa mengangkat kepalanya.


Nadira perlahan mengangkat kepalanya dan menatap kosong sikap terasing habib kepadanya. Beberapa detik kemudian dia kembali menarik garis senyuman di bibirnya.


Habib Khalid masih tidak mengangkat kepalanya untuk melihat ke arahnya.


"Oh, aku tidak tahu." Katanya singkat.


"Habib tidak tahu?" Nadira tak percaya.


Bukankah Nasifa pernah menceritakan tentangnya kepada sang habib?


"Tidak." Habib Khalid lalu membawa pandangannya menyapu orang-orang di belakangnya.


"Ayo mulai mengukur sebelum hari semakin siang." Katanya kepada mereka. Kemudian dia menyapu pandanganya ke depan, menatap Aish dengan senyuman yang tidak disamarkan.


"Kembalilah ke kelas dan belajar yang rajin." Kata-kata ini seolah ditujukan untuk semua orang, termasuk Nadira. Namun entah Mengapa Aish merasa bila sang habib khusus berbicara kepadanya.


Aish sumringah sambil menganggukkan kepalanya cepat.


Setelah mengucapkan pamit, sang habib lalu melanjutkan langkahnya ke belakang sekolah untuk mengukur tembok. Tembok belakang sekolah santriwati harus segera ditinggikan atau renovasi karena tembok ini sudah lama dan terlalu mudah untuk dipanjat. Mungkin sulit untuk para santriwati yang ingin membolos, namun mudah bagi santri laki-laki yang ingin menyusup. Jadi merenovasi tembok saat ini adalah sebuah keharusan yang harus segera dipercepat.

__ADS_1


Yah, waktunya di sini hanya sebentar saja dan dalam waktu yang singkat ini, dia setidaknya membantu Abah memperbaiki pondok pesantren.


Menatap bangunan tembok di depannya, habib Khalid tidak bisa menahan senyuman di bibirnya.


"Yah, tidak lama lagi." Bisiknya merindu.


...*****...


Nadira berdiri mematung melihat kepergian habib Khalid. Mereka baru saja berbicara sebentar dan habib Khalid sudah main pergi saja. Nadira sedih juga kecewa. Dia tidak menyangka bila arti kehadirannya di depan sang habib sangat kecil. Ah, jangan katakan kecil karena tepatnya mungkin dia tidak pernah ada di mata sang habib. Lalu mengapa sikap sang habib dengan Nasifa berbanding terbalik saat mengahadapi dirinya?


Nadira cemberut. Dan hatinya semakin tidak puas saat memikirkan betapa dekatnya Aish dengan sang habib. Baru saja dia melihat dengan mata kepalanya sendiri habib Khalid berjongkok untuk mengikat tali sepatu Aish dan bahkan minum di botol yang sama.


Dia cemburu dan sedih. Matanya mulai basah tanpa disadari.


"Aish, ayo masuk ke kelas. Bel masuk sudah berbunyi." Gisel dan Dira tiba-tiba menghampiri.


Menghalangi mata basah Nadira memperhatikan Aish. Mereka berdua dengan sengaja memunggungi Nadira, bertindak seolah-olah mereka tidak saling mengenal.


"Okay, yuk masuk." Aish tidak menunda.


Mereka bertiga lalu masuk ke dalam kelas tanpa memperhatikan wajah cemberut kelompok Nadira.


Bohong jika mereka tidak terkejut melihat betapa terasingnya habib Khalid saat berhadapan dengan Nadira tadi. Mereka tercengang, antara kaget juga senang karena pengaruh Nadira untuk sang habib ternyata tidak sekuat yang mereka pikirkan. Tapi keberadaan Aish adalah masalah yang sangat sulit untuk mereka atasi sebab habib Khalid juga tampaknya tidak keberatan dengan Aish. Dia tidak menjauh atau menjaga jarak seperti yang habib Khalid lakukan ketika bertemu dengan gadis lainnya.


"Mengapa habib Thalib sangat dekat dengan Aish?"


Nadira melirik orang yang berbicara. Lalu dia teringat dengan pembicara semalam dengan Nasifa.


"Mereka dulu adalah kenalan." Kata Nadira menebak.


Jika tidak, lalu kenapa habib Khalid merekomendasikan Aish secara pribadi masuk ke dalam pondok?


Yah, mereka pasti kenalan.


"Ooh... ternyata seperti itu. Maka semuanya masuk akal."


Nadira tidak merasa semua ini masuk akal. Dia menggigit bibirnya sedih. Berbalik dan berjalan kembali ke dalam kelasnya.

__ADS_1


__ADS_2