Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 6.3


__ADS_3

Bohong bila dia tidak senang. Tidak, malah dia sangat senang. Semua ketidakpuasannya segera tersapu bersih dengan perkataan habib saat ini. Bahagia rasanya hingga ia tak mampu mengangkat kepalanya hanya untuk melihat wajah mempesona itulah lagi. Wajahnya terasa panas dan jantungnya berpacu cepat, begitu sulit untuk dikendalikan. Satu-satunya hal yang paling melegakan dari reaksi ini adalah untungnya sang habib tidak mendengar debaran jantungnya yang tidak biasa. Jika tidak, entah dimana ia harus menaruh wajahnya di masa depan nanti.


"Tidak... sudah semestinya." Gumam habib Khalid menyesal.


Suaranya kecil sehingga Aish maupun anak santriwati yang lain tidak bisa menangkapnya dengan jelas.


Awalnya Aish ingin menanyakannya tapi kata-katanya segera tertelan begitu mendengar suara menyebalkan itu lagi.


"Habib Thalib...habib, aku sungguh tidak bermaksud apa-apa. Tolong...tolong jangan keluarkan aku dari kedisplinan asrama putri." Mohon Khalisa terisak sedih kembali menarik perhatian para penonton.


Namun habib Khalid tidak menggubris permohonannya. Setelah mengucapkan salam dia segera pergi tanpa pernah menoleh ke belakang. Meninggalkan bahu dingin yang tak biasa untuk semua orang. Dan untuk pertama kalinya semenjak habib Khalid masuk ke pondok ini, para santriwati akhirnya mengetahui bila habib Khalid, laki-laki tampan yang selama ini selalu tersenyum dan bersikap ramah ternyata memiliki sisi yang lain. Dia juga bisa marah dan jujur saja, mereka agak takut melihat kemarahan sang habib yang tidak biasanya.


"Puas kalian sekarang, kan?!" Bentak Meri tak sopan kepada mereka bertiga setelah melihat punggung habib serta kelompoknya menghilang.


Gisel dan Dira tercengang,"Heran deh sama ni orang, dari awal kok julid banget sama kita bertiga." Ujar Gisel heran.


"Iyaih, padahal katanya anak pondok lho, sedangkan anak pondok pesantren yang kita tahu akhlaknya baik tapi kok kelompok ini enggak yah?" Cibir Dira dengan suara yang sengaja di keras-keras kan.


Orang-orang yang mulanya pergi sempat tertahan dengan cekcok kedua kelompok ini lagi.


"Apa kamu bilang?! Siapa yang enggak ada akhlak?!" Seru Meri marah kepada mereka, terutama kepada Dira yang berbicara langsung.


"Duh, pakai nanya lagi." Heran Dira dengan ekspresi yang dibuat-buat.


"Dasar manusia tercela! Kedatangan kalian ke pondok kami adalah sebuah musibah! Kalian enggak pantas tinggal di tempat kami!" Ucap salah satu kelompok Khalisa tak tahan lagi melihat sikap mereka.


Mendengar celaan gadis itu yang merasa sok suci, Aish langsung terbakar amarah. Karena sekalipun mereka tidak mengerti agama dan jarang melakukan ibadah, namun bukan berarti mereka yang rajin setiap waktu adalah orang yang suci! Lihat saja dari cara bicaranya yang sombong, Aish yakin jika gadis itu merasa sangat kotor berhadapan dengan mereka bertiga.

__ADS_1


"Kalian bertiga lucu deh. Ngaku suci kok punya pikiran tercela, apakah ini pantas?" Tersenyum mengejek, Aish secara terang-terangan menatap wajah basah Khalisa yang masih betah terisak,"Lain kali kalau mau jahatin orang coba dipikir-pikir dulu. Tahu enggak kenapa? Karena enggak semua orang dapat dibodohi dengan wajah sok suci mu yang bermuka dua." Setelah mengatakan itu Aish langsung membalikkan badannya sambil menyenggol lengan Dira dan Gisel.


"Klinik pondok."


Dia tidak ingin berbicara lagi dengan mereka dan merusak suasana hatinya yang sudah baik. Huh, menurutnya itu sama sekali tidak sepadan.


Melihat kepergian Aish, Gisel langsung menyusulnya pergi dan diikuti oleh Dira yang tengah berpuas diri.


"Pikir-pikir dulu, ya." Ejek Dira sambil menunjuk kepalanya sebelum pergi menyusul Aish dan Gisel di depan.


Mereka bertiga pergi dalam suasana hati yang baik meninggalkan Meri dan temannya yang tengah membantu Khalisa agar jangan menangis terus. Sedangkan para penonton atau orang-orang yang mengenal Khalisa satu demi satu membubarkan diri. Tidak ada yang tahu apa isi pikiran orang-orang itu setelah melihat kejadian ini namun yang pasti kekaguman mereka kepada Khalisa tidak seperti dulu lagi.


Bukankah ini memang wajar?


"Astagfirullah, mereka kok jahat banget, yah sama kak Khalisa." Ujar teman Meri tidak menyangka.


"Aku enggak heran karena mereka miskin agama."


Melirik Khalisa yang masih shock, Meri menghela nafas berat sembari mengusap pundak Khalisa agar lebih tenang dan berhenti menangis.


"Habib Thalib juga kok bisa-bisanya lebih percaya sama mereka daripada kita. Padahal kan habib Thalib lebih mengenal karakter kak Khalisa daripada Aish itu." Keluh gadis itu tak percaya.


Heran sebenarnya mengapa karakter Khalisa diragukan oleh habib Khalid hanya gara-gara ucapan anak-anak kota. Apakah hanya karena Aish adalah gadis yang cantik makanya habib Khalid berpaling?


Tapi masa iya?


Karena sejujurnya Khalisa juga cantik dan harusnya lebih berakhlak daripada Aish sehingga poin Khalisa jauh lebih baik daripada Aish. Tapi mengapa habib Khalid lebih mendengarkan penjelasan Aish?

__ADS_1


"Sudahlah, jangan bicarakan mereka lagi." Kata Khalisa menghapus air mata di wajahnya.


Tubuh kecilnya menunduk lesu tampak sangat menyedihkan. Ditambah lagi dengan suara tangisan tertahannya yang belum mereda, Khalisa terlihat sangat rapuh.


"Kak Khalisa adalah orang yang baik. Aku tahu kakak pasti akan menyerah pada masalah ini." Ujar Meri masih kesal dengan kelompok Aish.


Tersenyum paksa,"Tapi aku memang tidak punya jalan lain lagi. Setelah ini orang-orang akan memandang ku salah dan tercela, jadi aku harus bersabar untuk menerimanya." Bisiknya lemah.


...***...


Aish, Gisel, dan Dira langsung pergi ke klinik pondok. Di sana mereka bertemu dengan seorang dokter wanita, namanya Ira. Ira adalah seorang wanita dewasa yang belum menikah. Dia cantik dan ramah kepada semua orang. Mungkin karena karirnya sebagai seorang dokter, Ira masih belum menikah sampai sekarang. Padahal dia cukup cantik dan mungkin menerima banyak pengejaran.


"Panggil saja kak Ira." Kata Ira sambil membersihkan tangan Aish yang tergores dengan alkohol.


"Habib Thalib sudah menghubungi ku sebelumnya. Dia bilang ada gadis yang terluka tangannya dan memintaku untuk segera menanganinya." Kata Ira dengan senyuman yang selalu tergantung di bibirnya.


Aish melirik ekspresi pihak lain lalu menundukkan kepalanya pura-pura fokus melihat tangannya yang sedang dibalut kain kasa. Ugh, padahal luka ini bukan apa-apa, pikirnya.


Kenapa aku merasa bila dokter ini tidak menyukaiku? Batin Aish tak mengerti.


"Apakah sulit tinggal di sini?" Tanya dokter Ira.


Aish hanya diam tak menjawab.


"Sangat sulit, dok. Kalau bisa kami ingin segera keluar dari pondok pesantren." Jawab Dira mengeluh.


Tinggal di sini jauh lebih sulit daripada di kota tapi untuk kenyamanan, Dira harus mengakui bila dia lebih nyaman di sini. Di rumah hanya ada dirinya seorang dan di sekolah, hanya ada teman-teman penjilat yang suka memanfaatkannya. Sedangkan di sini ada Aish dan Gisel, jadi setidaknya dia tidak kesepian.

__ADS_1


__ADS_2