Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 23.8


__ADS_3

Kakek batuk seolah akan mengeluarkan semua isi perut. Sekilas Aish tahu bahwa kondisi Kakek sedang tidak baik-baik saja. Dia sangat kurus dan kulitnya pucat, pipi yang dulu agak berisi kini terlihat cekung dan menyedihkan.


"Kakek... Kakek... Bernapas lah dengan tenang... Jangan berbicara lagi." Aish membantu Kakek duduk di sofa.


Air mata Aish tidak bisa berhenti mengalir. Dia sangat takut... Takut sekali bila kondisi Kakek semakin memburuk. Karena situasi Kakek saat ini memberinya sebuah ilusi bahwa dia akan menghilang kapan saja. Ini sangat menakutkan. Aish benci perpisahan. Aish sangat membencinya.


"Jangan menangis... Kakek hanya batuk biasa." Kakek akhirnya berhenti batuk.


Wajah keriputnya yang pucat tersenyum lembut. Perlahan tangan keriput Kakek yang tipis menjangkau pipi basah Aish. Dengan gemetar dia mengusap air mata yang mengalir di wajah cantik cucu tersayangnya.


"Aku lebih suka kamu keras kepala dan marah daripada menangis, Nak. Hatiku akan sakit bila kamu terus menangis." Suara Kakek sangat lemah.


Melihat kesedihan di mata itu, Aish beruang kali menganggukkan kepalanya mendengar apa yang Kakek katakan. Dia tidak ingin Kakek lebih sakit jadi dia buru-buru mengusap wajah yang basah dengan jilbabnya.


"Lihat Kakek, aku sudah tidak menangis lagi." Ucap Aish setelah merasa wajahnya kering dan tidak basah lagi.

__ADS_1


Di depan Kakek dia berusaha tersenyum semanis mungkin untuk menunjukkan bahwa dia tidak apa-apa dan berhenti menangis. Senyumannya palsu, Kakek tahu. Dia mengetahui dengan baik bahwa cucu tersayangnya ini memiliki sikap yang keras kepala juga kuat tapi sejatinya, hati Aish begitu rapuh dan lembut.


"Terima kasih." Kakek mengusap kepala Aish lembut dengan kasih sayang yang tak tersamarkan di mata.


"Bagaimana kabarmu di sini, Nak?"


"Alhamdulillah. Kabarku di sini sangat baik, Kek. Aku bertemu dengan banyak orang baik dan teman-teman kamar yang luar biasa. Setelah pindah ke sini aku tidak sendirian lagi karena aku memiliki banyak orang yang peduli kepadaku jadi Kakek tidak perlu mengkhawatirkan aku." Ketika mengingat orang-orang baik yang selalu mengelilinginya di sini, hatinya tanpa sadar melembut dan bibirnya secara alami menarik garis senyuman.


Kakek lega melihatnya. Sekarang dia baru memperhatikan bahwa Aish telah mengalami perubahan besar. Dia mudah tersenyum, pakaiannya tertutup sepenuhnya, dan dari bibir yang dulu sering berkata kasar kini dengan mudah menyebut nama Allah. Dipikir-pikir lagi mengirim Aish ke tempat ini adalah keputusan yang baik.


Menggelengkan kepalanya geli, dia mengingat hari-hari sulit ketika baru dikirim ke pondok pesantren.


"Kakek, aku tidak mau berbohong kepada Kakek. Pertama kali datang ke pondok pesantren aku sangat kesal dan marah. Karena aku tidak menyukai tempat ini. Aku merasa bahwa tempat ini tidak cocok untukku. Tempat ini terlalu ketat, banyak aturan, terlalu fanatik kepada agama, dan yang paling membuatku jengkel adalah menggunakan pakaian ini. Tapi lama-lama aku jadi betah karena ternyata orang-orang tidak membiarkan aku meraba-raba sendiri. Mereka mengulurkan tangan untuk membantuku dan membimbingku mencari tahu beberapa hal yang tidak diketahui. Dan yang paling membuatku menyukai tempat ini adalah aku bertemu dengan kedua sahabatku. Kakek tahu tidak bahwa kedua sahabatku ini adalah mantan temanku di sekolah. Kami berasal dari kota yang sama dan tinggal di sekolah yang sama. Lucunya lagi kami dikeluarkan gara-gara satu masalah. Logikanya kan setelah pertengkaran itu kami harus saling membenci atau kalau tidak menyimpan dendam. Tapi qodarullah, hati kami tidak sepicik itu. Alhamdulillah... Aish sangat bersyukur kepada Allah karena kami bertiga dipersatukan dalam hubungan persahabatan yang sangat baik. Karena mereka berdua aku jadi tidak terlalu merindukan rumah. Oh ya Kakek belum tahu ya nama kedua sahabatku. Mungkin Kakek tidak mengenalnya karena aku dulu tidak pernah menceritakan tentang mereka berdua kepada Kakek dulu. Namanya Gisel dan Dira. Kebetulan mereka berdua ada di rumah ini dan sedang membantu Umi memasak di dapur. Nanti kalau ada ada waktu luang, aku akan mengajak Kakek bertemu dengan mereka berdua." Membicarakan hal-hal yang terjadi di pondok pesantren membuat Aish perlahan melupakan kesedihan yang baru saja di alami.


Kakek berhasil mengalihkan perhatian Aish. Mendengarkan Aish bercerita tentang episode-episode yang dilalui selama di pondok pesantren terdengar begitu menyenangkan di hati Kakek. Meskipun ini hanyalah sepotong cerita, tapi Kakek merasa bahwa dia juga ikut menyaksikan semua yang terjadi kepada cucu tersayangnya. Hal yang paling lucu adalah Aish tidak pernah bercerita tentang hukuman yang dialami selama di pondok, jika habib Khalid tidak menceritakannya semalam, maka mungkin dia tidak akan tahu apa-apa.

__ADS_1


"Sungguh luar biasa, cucu Kakek sekarang sudah dewasa dan memiliki banyak teman. Kakek senang mendengarnya. Ngomong-ngomong apakah kamu pernah dihukum selama tinggal di pondok pesantren?" Kakek iseng bertanya.


Aish langsung gelagapan ditanya soal hukuman. Merasa bersalah dia memalingkan wajahnya melihat ke arah lain,"Aku... Nggak pernah dihukum. Untuk apa Aish dihukum? Aish mana berani melakukan kesalahan di sini soalnya pondok pesantren beda sama sekolah di kota dulu." Jawabnya berbohong.


Duh, ini memalukan. Dia tidak mau ceritakan masa lalu konyolnya di pondok pesantren. Menurutnya Kakek harus tahu hal yang baik-baik dan jangan yang buruk.


"Syukurlah, Kakek pikir kamu membuat banyak masalah di sini. Makanya Kakek bertanya," Kemudian fokusnya beralih meratap jari kelingking di tangan kiri Aish. Itu adalah sebuah cincin... Matanya seketika menyipit karena cincin ini agaknya tidak asing. Tapi dia ragu pernah melihatnya di mana. Berpikir, Kakek mencoba mencari dalam ingatannya mungkinkah dia pernah melihat cincin ini di suatu tempat- oh, dia langsung mengingatnya!


"5 tahun yang lalu cincin ini tidak pas, dan setelah 5 tahun berlalu cincin ini juga masih juga belum pas dijari kamu. Tepatnya yang dulu kebesaran dan yang sekarang kekecilan." Ucap Kakek terkekeh.


Dulu habib Khalid datang membawa cincin ini kepada Aish. Sayangnya saat itu jari-jari Aish masih kecil sehingga cincinnya kebesaran. Karena terlalu besar, habib Khalid memutuskan untuk membawanya kembali dan berjanji akan memberikan Aish beberapa tahun lagi saat waktu perjanjian mereka tiba.


Aish terkejut. Artinya Kakek pasti tahu siapa yang memberikan cincin ini kepadanya.


"Kakek tahu?"

__ADS_1


Kakek mengangguk pelan,"Cincin ini pemberian dari habib Thalib. Kakek sudah tahu. Bagaimana menurut Aish? Apakah dia laki-laki yang baik dan perhatian kepada Aish?" Dan Kakek tahu bahwa sebagian besar hukuman yang dijalani oleh Aish di pondok pesantren merupakan hukuman dari habib Khalid. Dari mana Kakek tahu?


__ADS_2