
"Assalamualaikum, Umi?" Aish mengetuk pintu belakang dapur dan mengucapkan salam.
Di dalam dapur kebetulan Umi baru saja selesai memilah-milah sayur mana yang akan diolah dan dimasak untuk para tamu hari ini. Umi mengangkat kepalanya melihat ke arah pintu belakang dan bertemu dengan mata aprikot Aish yang cemerlang. Sejenak Umi terhenyak. Mata yang cemerlang mengingatkan Umi pada gadis suram dengan mata sembab yang sangat enggan tinggal di sini, kini sudah setengah bulan berlalu dan kesuraman gadis itu telah lama menguap digantikan suasana menawan yang sangat sulit untuk diabaikan.
"Umi?" Aish memanggil sekali lagi.
Kepercayaan dirinya mulai menurun. Takutnya Umi telah melupakannya setelah dua minggu lebih tak bertemu.
"Waalaikumussalam, Aish. Mari masuk. Ajak kedua teman mu juga masuk." Umi kembali jernih.
Dengan senyuman lebar, dia menyambut kedatangan Aish, Dira, dan Gisel. Memperlakukan mereka bertiga dengan hangat dan dengan suasana yang akrab pula sehingga mereka bertiga tidak terlalu canggung ketika berkomunikasi dengannya.
"Umi, kami di sini untuk datang membantu." Kata Aish melapor.
Umi mengangguk. Kemarin dia sudah diberitahu tentang bala bantuan ketiga orang ini dan Umi cukup senang karena salah satu diantara mereka bertiga adalah gadis cantik yang telah membekas di dalam ingatannya.
"Aku sudah tahu. Alhamdulillah, terima kasih atas waktu kalian hari ini. Umi senang kalian bertiga datang membantu."
Melihat mata hangat Umi, hati mereka bertiga mau tak mau melunak. Mereka bertiga tidak akan sampai hati memperlakukan Umi dengan santai seperti yang mereka lakukan kepada orang lain, sebab Umi memiliki kehangatan seorang Ibu yang membuat mereka bertiga cukup nyaman dekat dengannya.
"Nah, datang ke sini. Umi sudah menyiapkan beberapa sayur yang baru dipetik dari kebun pondok kita." Umi membawa mereka ke meja dapur.
Di atas dapur sudah ada berbagai macam sayuran, asing dan tidak asing untuk mereka bertiga, terlihat sangat segar dan sehat.
"Apa yang harus kami lakukan, Umi?" Tanya Dira sopan.
Umi mengambil keranjang kecil yang berisi bawang merah dan putih. Menyerahkan tugas membersihkan dan mengiris bawang kepada Dira serta Aish. Sedangkan Gisel akan mengikuti Umi memotong sayur yang akan di masak hari ini.
Setelah pembagian tugas, Dira dan Aish langsung mengerjakan bagian mereka sambil menahan perih dari pesona barang merah yang tidak tertahankan. Pesona bawang merah terlalu berbahaya dan membuat mata sakit, namun meskipun begitu tak satupun diantara mereka berdua yang mengeluh....namun ujungnya mengeluh juga!
"Aku...aku akan membersihkan bawang putih." Aish dengan perasaan bersalah melepaskan barang merah dari tangannya.
"Jangan gitu dong, Aish. Aku enggak kuat ngurus bawang merah sendirian." Ucap Dira nelangsa.
__ADS_1
Sama seperti Aish, dia pun tersiksa di sini!
Jika bawangnya beberapa biji saja sih tidak masalah karena pesonanya tidak akan menyakiti mata. Tapi yang mereka tangani lebih dari 50 biji dan sangat sulit untuk melepaskan diri dari pesonanya, ah!
"Tapi mataku perih." Sudah berapa kali punggung tangannya mengusap air mata yang meleleh dan seberapa kali pun dia melakukannya, mata ini sangat sulit berhenti menangis!
Ini sangat menyiksanya sebagai gadis yang kuat dan tahan banting.
"Hah... Gisel sama Umi dari tadi enggak berhenti ketawa." Dira menatap cemburu Gisel di seberang mereka yang asik mengobrol dengan Umi.
Aish juga cemburu tapi tidak bisa berbuat apa-apa.
Lagian mereka juga tidak bisa mengeluh karena ini adalah tugas yang telah diberikan langsung oleh Umi. Selain itu tugas ini tidak terlalu berat sebenarnya dan harusnya, sebagai seorang wanita, mahluk yang Allah ciptakan khusus untuk berteman dengan dapur harus membiasakan diri sesegera mungkin dengan dengan segala macam bahan maupun alat yang berkaitan dengan dapur.
Yah, bukankah sewajarnya wanita memang dekat dengan dapur?
"Jangan ngelamun terus. Ayo kerja lebih cepat biar kita bebas ngerjain tugas yang lain." Kata Aish menarik Dira dari pandangan cemburunya.
Mereka berdua adalah orang awam soal dapur jadi irisan bawang mereka tidak terlalu rata. Ada yang terlalu tipis dan ada pula yang tebal. Bentuknya semakin tidak karuan saat mereka berdua mempercepat kecepatan tangan mereka mengiris. Bukannya semakin mempercantik, irisan malah lebih mirip daging cincang yang hancur.
Dia meletakkan pisau di atas talenan. Berdiri dari tempat duduknya, lalu pergi ke wastafel untuk mencuci tangan. Bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Mata Dira membulat melihat tingkah Aish yang 'tidak tahu diri'. Dia pergi seolah-olah pekerjaan di atas talenan bukanlah ulah tangannya. Tidak mau kalah, ia pun juga menyusul ke wastafel untuk mencuci tangan.
"Lho, kok kamu pergi?" Aish pura-pura heran.
Dira memutar bola matanya malas,"Kamu juga-"
"Aish, Dira, apa kalian sudah selesai?" Suara lembut Umi menginterupsi percakapan harmonis mereka.
Dengan kaku, mereka berbalik ke arah Umi dan Gisel, ragu-ragu menjawab,"Sudah, Umi."
Umi mengangguk ringan melihat mereka namun tangannya tidak berhenti memotong kangkung muda di atas meja. Kangkung ini rencananya mau dibuat tumis kangkung sama Umi sesuai dengan permintaan para tamu hari ini makanya diantara semua sayuran, porsi kangkung lah yang paling banyak.
__ADS_1
"Nah, kalau sudah selesai kalian berdua bisa pergi ke belakang rumah untuk mengambil ikan. Ikannya mungkin sudah ditangkap sekarang jadi kalian bisa pergi mengambilnya." Suruh Umi.
Aish langsung lega Umi tidak mempermasalahkan bawang yang telah dicincang hancur. Faktanya dari tempat Umi duduk, dia bisa melihat karya yang telah Aish dan Dira tinggalkan tapi memilih diam saja.
Aish dan Dira langsung mengiyakan. Mereka berdua segera pergi ke belakang rumah mengikuti arahan Umi. Belakang rumah Umi sangat luas dan ditanami banyak pohon serta berbagai macam tanaman obat yang sangat subur. Berjalan beberapa meter jauh ke belakang, mereka berdua menemukan sebuah kolam ikan berlumpur yang cukup luas dan bisa menampung banyak ikan.
Samar, dari jauh mereka berdua melihat beberapa laki-laki sedang berdiri di pinggir kolam. Rupanya itu adalah santri yang Umi tugaskan untuk menangkap ikan di kolam.
Awalnya Aish tidak terlalu memperhatikan para laki-laki itu. Akan tetapi semakin dekat dia melangkah semakin jelas penglihatannya dan perlahan dia mengenali beberapa orang yang pernah melakukan kontak dengannya.
"Assalamualaikum?" Dira mengucapkan salam.
Sedangkan Aish di sampingnya memilih tutup mulut dan bersikap acuh tak acuh.
"Waalaikumussalam." Para laki-laki segera menjawab dengan pandangan tertunduk untuk menghindar fitnah.
"Apa kalian yang diminta Umi untuk mengambil ikan?"
Deg
Darah Aish langsung berdesir panik. Panas dan manis, sensasi ini begitu akrab dengan tubuhnya. Namun tetap saja, sebanyak apapun dia mengalami perasaan yang sama, dirinya masih belum terbiasa dengan gejolak manis ini. Apalagi jantungnya yang berdetak diluar kendali, Aish terkadang takut bila orang itu mendengar betapa gila jantungnya setiap kali mereka bertemu.
"Ya-ya, kami datang ke sini untuk mengambil ikan." Awalnya terbata-bata.
Aish meremat tangannya yang sudah berkeringat dengan gugup. Menoleh ke habib Khalid yang berjalan semakin dekat dengannya.
Habib Khalid membawa langkah kaki jenjangnya berjalan mendekati mereka dan berhenti dua meter jauhnya dari mereka berdua.
"Kami sudah menangkap ikannya dan kalian bisa mengambilnya pergi."
Habib Khalid lalu meletakkan ember besar hitam yang hampir dipenuhi oleh ikan lele. Lelenya besar-besar dan masih hidup. Di dalam ember tidak ada air jadi lele itu akan bergerak panik dan mengepakkan ekornya kemana-mana. Pemandangan ini sangat menakutkan dan membuat mereka berdua membeku di tempat.
Sudut mulut Aish berkedut tertahan,"Ini... tidakkah sangat berbahaya?" Tanyanya ragu.
__ADS_1
Sudah pasti berbahaya, kan?!