
"Berikan tanganmu kepadaku." Sang habib mengulurkan tangan kirinya sejajar dengan tangan yang sedang memegang cincin.
Lalu dia memberikan isyarat kepada Aish agar segera menyambut tangannya. Aish terkesima, tanpa lagu sedikit pun dia menyambut tangan besar dan kuat sang habib. Telapak tangannya bersentuhan dengan kelembutan di tangan sang habib yang bersih dan hangat. Ketika tangan mereka bertemu, sebuah sensasi hangat dan manis menjalar ke dalam tubuhnya. Bergerak cepat mengikuti suara degub jantung yang menggebu-gebu di dalam hati hingga titik dimana hati Aish dipenuhi oleh kebahagiaan. Sebuah euforia tak terkendali, menarik hatinya yang telah lama kering sampai ke awan tak terhingga, membasahi dan membanjiri hatinya yang dulu kering kini menjadi tempat hangat nan damai.
"Eh-"
"Lho?"
Membeku, mereka berdua saling memandang, sedetik kemudian, tawa Aish lepas di dalam ruangan ini. Dia menertawakan betapa konyol ekspresi sang kekasih saat melihat cincin itu ternyata tidak muat di jari manisnya. Serius, selama berhubungan dengan sang habib, belum pernah dirinya melihat ekspresi bingung bercampur malu di wajah habib Khalid. Suasana yang selalu mengikuti kekasihnya syarat akan berwibawa dan dingin tapi mudah didekati saat melihat senyum ramah di wajah. Dia tidak berharap bahwa suatu hari sang kekasih akan kehilangan kendali di wajahnya.
Lucu, tapi manis. Aish tidak tahan melihatnya.
"Oh... cincinnya tidak muat." Habib Khalid tersenyum malu.
Dia menarik cincin itu untuk memindahnya ke jari kelingking. Yah... cincin itu langsung bersarang.
"Jika kakak membuatnya 5 tahun yang lalu untukku, maka cincinnya tidak akan muat lagi karena itu sudah lama. Lihat jari-jari ku, kak..." Aish melebarkan tangan kirinya di depan sang habib untuk menunjukkan bahwa jari-jarinya berkembang dan tumbuh dengan baik.
__ADS_1
Sang habib dapat membayangkan bila jari-jari ini dilukis oleh henna warna Madinah atau Ka'bah, hanya Allah yang tahu betapa indah jari-jari Aish pada saat itu.
"Cantik.." Matanya tidak bisa berpaling dari jari jemari ramping dan panjang yang dimiliki oleh Aish.
Wanita memang identik dengan kecantikan. Pernah suatu hari sang habib mempertanyakan apa yang bisa dilihat dari jari-jari wanita. Soalnya dia bingung melihat para wanita asik mewarnai kuku masing-masing dan memperpanjangnya, tidak ada yang menarik dari jari maupun tangan yang ramping. Namun hari ini Allah telah membuka pandangannya. Sekarang dia mengerti mengapa para wanita asik merawat tangan dan jari masing-masing. Dia menemukan bahwa tangan wanita itu cantik, lebih tepatnya hanya tangan Aish. Hanya sang kekasih yang membuat pandangannya berubah. Selain itu kekasihnya tidak mewarnai kuku ataupun melakukan perawatan seperti yang dilakukan wanita lain di salon. Kekasihnya tampil apa adanya, tapi kecantikan tangannya tidak bisa disembunyikan. Lantas bagaimana jadinya bila Aish merawat tangannya setelah keluar dari pondok pesantren nanti?
Membayangkannya saja membuat sang habib tersenyum.
"Jangan menghina aku. Sudah beberapa bulan aku belum pernah merawat tangan ku di salon. Coba lihat, kukunya ada yang panjang sebelah ada juga yang miring. Aku nggak suka. Tapi kakak tahu nggak ini pekerjaan siapa?" Aish menatap kedua tangannya dengan ekspresi jengkel bercampur geli.
Saat memikirkan keluarganya Aish tidak menunjukkan ekspresi ceria ataupun lepas seperti saat ini. Dia lebih banyak sedih dan merenung daripada tertawa. Untungnya sekarang Aish sudah hengkang dari rumah itu, dan untungnya Mama Ais meminta Kakek untuk mengirim Aish ke pondok pesantren saat Aish masuk usia 17 tahun. Dengan begitu dia tidak terlalu menderita.
"Ini tuh pekerjaan Gisel sama Dira. Kakak tahu sendiri kan kami nggak bisa keluar dari pondok pesantren dengan bebas, apalagi keluar untuk melakukan perawatan di salon, kami pasti langsung dihukum. Alhasil kami nggak bisa melakukan perawatan, dan untuk menebusnya kami saling membantu. Contohnya seperti memotong kuku dan membersihkannya. Padahal aku berjuang membersihkan milik mereka, tapi kenapa hasil mereka sangat jelek? Aku tidak mengerti lagi." Aish mana kening memikirkan ketika mereka saling membantu hari itu.
Dia kira kedua sahabatnya jago, tapi ternyata mereka adalah orang amatir. Jika dia tahu hasilnya akan sejelek ini, maka dia tidak akan membiarkan mereka menyentuh tangannya. Tapi sejujurnya itu tidak apa-apa selama sang habib tidak melihat.
"Sungguh, kamu tidak boleh berkecil hati. Menurutku ini cantik. Jauh lebih baik daripada kamu menggunakan pewarna pewarna itu. Aku nggak suka melihat kamu menggunakan pewarna kutek atau lainnya, itu sangat mengganggu."
__ADS_1
Aish menegakkan kedua telinganya sang habib mengatakan bahwa dia tidak menyukai warna kutek. Nah, jika sang habib tidak menyukai kutek, maka di masa depan nanti Aish tidak akan menggunakan kutek untuk mewarnai tangannya. Sebagai seorang kekasih yang baik, dia harus mengikuti referensi kesukaan dari laki-laki pujaan hatinya. Untuk apa?
Pastinya untuk membuat sang habib tidak bisa berpaling darinya. Lagi pula semua wanita yang sedang jatuh cinta memiliki pemikiran yang sama dengan dirinya. Mereka ingin tampil cantik dan mengagumkan di depan sang kekasih!
"Ah, ngomong-ngomong... Kakak tadi mengatakan bahwa cincin ini dibuat untukku 5 tahun yang lalu. Dan ini sudah sekian kalinya kakak menegaskan bahwa kita pernah bertemu 5 tahun yang lalu. Di mana? Kenapa aku tidak ingat apa-apa dan kenapa aku tidak merasakan apa-apa? Saat itu usiaku masih 13 tahun kan?"
Inilah yang Aish bingungkan. Sudah beberapa kali habib Khalid mengatakan bahwa mereka pernah bertemu 5 tahun yang lalu. 5 tahun yang lalu dan sang habib sudah jatuh cinta kepadanya. Selain jatuh cinta sang habib juga membuatkannya sebuah cincin. Artinya pada saat itu sang habib sudah serius serius. Tapi mengapa Aish tidak pernah mengingat atau terkesan dengan tahun itu?
Saat itu usianya masih 13 tahun, dia baru saja beranjak remaja. Pikirannya aktif memikirkan jatuh cinta dan bertemu dengan cinta monyet. Bila saat itu dia benar-benar bertemu dengan sang habib, maka hatinya pasti sudah sepenuhnya menjadi milik sang habib. Habib Khalid terlalu tampan, pesonanya tidak akan pernah berkurang di mata Aish.
"Aku pernah mengatakan kepadamu bahwa orang tua kita berteman. Sesungguhnya aku bertemu pertama kali dengan dirimu adalah saat kamu baru berusia 1 minggu." Habib Khalid mulai membuka cerita masa lalu.
Matanya bersinar terang mengingat saat pertama kali dia bertemu dengan bayi merah yang sangat suka tertidur daripada menangis.
1 minggu, Aish langsung teringat dengan mimpinya di rumah sakit. Di dalam mimpi itu dia melihat seorang anak laki-laki yang sangat mirip dengan sang habib. Anak laki-laki itu memberikan nama kepadanya, Aisha Rumaisha, dipanggil Aish. Apakah mimpi yang dia lihat itu memang terjadi di dunia nyata?
Lalu nama yang digunakan sekarang adalah pemberian dari sang habib?
__ADS_1