Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 16.9


__ADS_3

"Dulu..." Abah kembali berbicara mengenang masa lalu yang pahit.


"Saat habib Thalib mengatakan itu kepada Abah, hati Abah sangat hancur melihat kebahagiaan Nasifa hancur dalam sekejap. Abah berbicara dengan serius dengan habib, berharap dia mau menerima kakakmu sebagai istri keduanya agar kebahagiaan Nasifa tidak hancur. Tapi habib Thalib memberiku sebuah jawaban yang sangat tegas dan aura ketenangan yang sangat luar biasa di usianya yang begitu muda. Dia bilang satu amanah sudah cukup dan dia tidak membutuhkan yang lain. Abah sangat kagum dengan jawabannya tapi juga sedih karena Nasifa tidak bisa bersanding dengannya. Kemudian," Abah membawa mata tuanya menatap Nadira, putri terkasihnya yang dibesarkan dengan hati-hati dan penuh perhatian. Biasanya putri ini suka sekali tersenyum ceria, bersikap manja, dan berhati lembut. Tapi kali ini semua itu menghilang digantikan oleh suara tangisan terisak yang menyayat hati dengan keteguhan yang keras kepala.


Putri keduanya jatuh dilubang yang sama dengan putri pertamanya.


"6 bulan lalu saat habib Thalib baru bergabung ke pondok, Abah menawarkan Nadira kepadanya. Berharap sang habib mau menjadikan Nadira sebagai istri keduanya. Tapi lagi-lagi habib Thalib menolak ku dengan jawaban yang sama. Dia hanya memiliki satu amanah di dunia ini dan dalam hidupnya, dia akan selalu menjaga amanah ini, menghabiskan waktu bersamanya dalam suka dan duka. Setelah mendapatkan jawaban ini, Abah tahu bahwa Nadira tidak memiliki kesempatan juga jadi Abah tidak pernah menyebutkan tentang habib Thalib kepadamu. Anak-anak ku.." Abah bangun dari duduknya dan berjalan mendekati kedua putrinya.


Duduk berjongkok di atas lantai, Abah mengambil kedua tangan putri-putrinya dan menggenggamnya erat.


"Sesungguhnya Abah menyayangkan keputusan habib Thalib, namun aku tidak bisa berbuat apa-apa. Habib Thalib sudah membuat keputusan dari 16 tahun yang lalu dan hingga kini, dia masih berdiri di keputusan yang sama. Abah tidak memiliki jalan keluar dalam masalah ini dan hanya berdoa semoga kalian berdua mendapatkan laki-laki yang lebih baik lagi, yang menerima dan mencintai kalian sepenuh hati sama seperti yang dilakukan habib Thalib terhadap pasangannya. Abah juga berharap kalian bisa menjadi satu-satunya wanita di dalam hati masing-masing calon suami kalian, sama seperti yang dilakukan habib Thalib kepada pasangannya. Anak-anak ku, teguhkan hati kalian dan ikhlaskan. Percayalah, kegagalan ini adalah bagian dari skenario Allah SWT terhadap kalian di dunia ini. Insyaa Allah, mungkin Allah SWT telah mempersiapkan imam yang baik untuk kalian, imam yang senantiasa membimbing kalian ke jalan yang lurus dan dapat dipersatukan dengan leluhur kita, nabi Muhammad Saw. Yakinlah anak-anak ku, ini pasti adalah cara Allah SWT menyayangi kalian. Hanya dengan berlapang dada dan mengikhlaskan semuanya, takdir yang seharusnya kalian dapatkan akan datang menghampiri kalian." Suara Abah sangat berat saat menghibur kedua putrinya ini.


Abah malam ini terlihat jauh lebih tua sepuluh tahun kemudian. Seolah-olah Abah telah melalui banyak hal yang melelahkan dan cukup menguras emosi hingga membuat kerutan di wajahnya semakin jelas.


Hanya Allah yang tahu, hanya dengan melihat putri-putrinya menangis saja seperti ini hatinya terasa remuk dan dihancurkan oleh kekuatan yang tidak kasat mata. Sangat menyakitkan.


"Abah... Abah, habib Thalib benar-benar mengatakan itu?" Tanya Nadira dalam isak tangis nya.


Abah tersenyum kecut,"Benar, Nak." Jawabnya menegaskan.


Hati Nadira dihancurkan sepenuhnya. Dia langsung melemparkan dirinya ke dalam pelukan Abah dan menangis semampu yang dia bisa. Menangis terisak sedih, suaranya sangat menyayat hati di dalam dada. Membuat mata Umi dan Abah memerah menahan sakit untuk luka putri-putrinya.


"Baiklah, lepaskan... lepaskan semuanya." Umi duduk di sebelah Nasifa dan membawa putri tertuanya itu masuk ke dalam pelukannya yang hangat.


Lepaskan. Sebelum langkah terlalu jauh dan luka terlalu dalam, maka lebih baik lepaskan saja.

__ADS_1


*****


Dini hari pukul dua malam, Aish terbangun dari tidurnya. Dia duduk di atas kasur memandangi wajah tidur lelap di sampingnya yang tertidur tanpa beban. Lalu matanya melihat ke kasur sebelah, melihat sahabatnya yang satu juga tidur dengan nyenyak. Mungkin karena trauma, Gisel memeluk dadanya saat tidur untuk melindungi uangnya dari pencurian yang sama.


"Belum tidur?" Sebuah suara dingin mengagetkan Aish.


Jika ia tidak mengenal baik suara ini, maka mungkin ia sudah berteriak dari beberapa detik yang lalu saking kagetnya. Menyapa tengah malam di saat semua orang tertidur, siapa yang tidak takut coba?!


"Kak..kak Khalid!" Aish langsung menggeser badannya ke arah jendela. Dan benar saja, sang habib sudah berdiri di sana menyatu bersama kesunyian malam. Sungguh pemandangan yang indah. Semuanya terlihat semakin indah saat melihat kepala dan pundak sang habib dimandikan oleh cahaya rembulan.


Melihat sang habib, jantung Aish langsung berdegup kencang.


Di bawah cahaya rembulan, samar, habib Khalid dapat melihat wajah cemberut Aish yang lucu.


Habib menahan senyum geli di wajahnya dan berusaha mempertahankan tampang dinginnya.


Aish cemberut, tapi mendengar nada dingin sang habib barusan, ia merasa sangat bersalah. Karena habib Khalid masih marah dengan kejadian kemarin. Ugh, siapa suruh habib Khalid masuk ke dalam mobil yang sama dengan Nadira! Kalau enggak gitu, kan, ia dan kedua sahabatnya enggak akan nekat!


"Aku baru saja bangun tidur dan tidak bisa tidur lagi." Nada suara Aish melemah.


"Oh. Sebentar lagi sholat tahajud, daripada tidur lebih baik gunakan kesempatan ini untuk mengulang hafalan mu. Sudah sampai mana?" Habib Khalid jarang mengecek hapalan Aish.


Mulut Aish langsung berkedut mendengar pertanyaannya. Ragu-ragu, tangannya meremat kain selimutnya takut juga malu.


"Ada apa? Kenapa diam saja?" Tanya sang habib.

__ADS_1


Aish memandangi wajah habib Khalid di balik jendela. Tidak apa-apa pikirnya, habib Khalid tidak bisa berbuat apa-apa kepadanya.


"Baru empat."


"Empat? Empat jus? Alhamdulillah."


Aish buru-buru melambaikan tangannya membantah.


"Bukan empat jus, tapi empat surat, kak." Katanya mengoreksi.


Habib Khalid langsung terdiam. Aish tiba-tiba merasa merinding melihat kesunyian sang habib.


"Ini...surat Al-Fatihah, surat Al-Ikhlas, surat Al-Falak, dan surat An-Nas. Hehehehe...empat surat pendek, kak."


Mendengar penjelasan ini, habib Khalid semakin terdiam. Dia memandangi Aish tanpa berkedip sekalipun!


Ini sangat menakutkan!


Aish merasa sedang ditatap oleh mahluk buas.


"Ayat kursi?" Tanya habib Khalid dengan nada suara rendah.


Aish meneguk ludahnya kasar. Salahkan dirinya yang teledor dan belum menghapal kan ayat kursi!


"Masih...setengah?" Jawab Aish ragu-ragu.

__ADS_1


Habib Khalid mengambil nafas panjang, matanya terpejam menahan dorongan di dalam dirinya.


"Aish." Panggilnya dengan nada suara yang lebih rendah.


__ADS_2