
Mereka akhirnya sampai di depan gedung asrama putri. Untuk menghindari mata-mata orang lain, Aish sengaja berhenti di bawah pohon depan gedung asrama. Pohon itu cukup besar dan rindang, penerangan di luar juga sangat terbatas dan malam ini kebetulan mendung tak berbintang sehingga orang-orang di dalam gedung asrama tidak bisa melihat dengan jelas bahwa ada dua orang lawan jenis yang sedang berdiri di bawah pohon itu saat ini.
Berdiri di bawah pohon Aish melepaskan tangannya dari ujung pakaian habib Khalid. Wajahnya tidak lagi basah tapi rona merah itu sangat sulit untuk dihilangkan. Sayangnya malam ini sangat gelap dan penerangan lampu terbatas sehingga habib Khalid tidak bisa melihat semburat merah di wajah cantik Aish yang menawan.
Bahkan berjalan sampai di sini jantung Aish tidak berhenti berdegup kencang. Aish masih saja gugup berdampingan dengan sang habib.
"Sampai di sini saja, kak. Aku bisa kok jalan sendirian ke dalam."
Habib Khalid tersenyum lebar dan tangan besarnya lalu terangkan menyentuh puncak kepala Aish. Mengelusnya lembut. Aish refleks memejamkan mata aprikotnya, rasakan sebuah sentuhan lembut di puncak kepalanya.
"Bila kamu ingin mengatakan sesuatu, katakan saja kepadaku." Kata sang habib merasakan keraguannya.
Bulu mata Aish bergetar lembut dan perlahan kelopak mata itu terbuka lebar, terangkat menatap lurus ke wajah tanpa cela itu yang didominasi adalah kegelapan malam.
"Tidakkah kamu ingin tahu mengapa aku menangis?" Tanya Aish hati-hati.
Dia baru memikirkannya sekarang. Tiba-tiba habib Khalid menariknya ke dalam pelukan saat di jalan tadi dan tidak pernah menanyakan apa-apa. Habib hanya memintanya untuk terus menangis dan meluapkan air matanya. Bohong bila Aish tidak merasa bila perhatian ini membuat hatinya menghangat.
Dan sempat terbesit sebuah pertanyaan di dalam hatinya. Sejak kapan habib Khalid mengikutinya?
Apakah sejak dia keluar dari ruangan itu?
Ataukah habib Khalid sebenarnya mendengarkan pembicaraan antara dirinya dengan Ayah?
Yang mana jawaban dari kedua pertanyaan ini Aish tidak bisa menebaknya. Karena sejak awal sang habib belum pernah mengeluarkan sepatah kata pun pertanyaan mengenai masalah tadi.
"Jadi kamu ingin memberitahuku sekarang?" Tanya sang habib balik dan bukannya menjawab.
Aish mengerutkan keningnya menolak.
"Tidak, bagiku ini memalukan."
Sudah cukup habib Khalid mendengarkan perdebatan dirinya dengan kedua bibinya tadi siang. Selebihnya Aish tidak ingin sang habib mengetahui sisi konyol di dalam keluarganya. Dia tidak ingin meninggalkan kesan yang buruk dan dia juga tidak ingin habib Khalid memandangnya dengan tatapan kasihan.
"Jika ini memalukan, lalu kenapa kamu menangis begitu keras?" Tanya sang habib dengan senyuman yang bukan senyuman di matanya.
__ADS_1
Bibir Aish langsung mengkerut karena cemberut,"Itu karena masalah ini sangat memalukan dan aku tidak ingin kak Khalid mengetahuinya."
Kedua mata Aish langsung menjadi sendu, dia memalingkan wajahnya berpura-pura melihat ke arah gedung asrama. Meskipun saat ini gelap entah kenapa Aish selalu memiliki intuisi jika sang habib sebenarnya bisa melihat kekurangannya saat ini.
"Baiklah, ayo kembali. Kamu harus segera tidur untuk istirahat karena besok kamu akan bekerja keras di sawah."
Diingatkan tentang besok, Aish langsung berharap jika hari esok tidak akan pernah datang. Apalagi besok dia harus bertemu dengan Aira yang secara resmi tinggal di pondok pesantren.
"Ini sangat menjengkelkan, tapi aku harus menjalaninya dengan dua sahabatku." Kata Aish cemberut.
Habib Khalid terus geli mendengarnya. Lucu rasanya mendengar Aish mengeluh karena biasanya dia selalu pura-pura tegar.
"Jangan mengeluh. Itu adalah kesalahan kalian bertiga. Jadi apapun konsekuensinya kalian bertiga harus menanggungnya tidak peduli apakah itu berat atau ringan. Mengerti?" Ujar sang habib menegur Aish. Namun nada suaranya sama sekali tidak tegas, malah terkesan lembut.
Aish juga tahu itu kesalahan mereka bertiga jadi dia tidak membuat suara bantahan apa-apa lagi.
"Em, kak Khalid?" Panggilnya ragu-ragu.
"Kenapa, masih ingin menangis?" Tanya sama habib meledek.
"Enggak, kok. Aku nggak cengeng orangnya!" Bantah Aish gengsi.
Dia menggenggam erat kain gamisnya untuk melampiaskan betapa gugup dia saat ini. Ini murni keinginan egois dari hatinya. Dia ingin mengklarifikasinya saja.
"Tadi siang orang tuaku mengirim Aira ke sini dan mulai dari besok dia akan tinggal di pondok pesantren ini juga." Kata Aish dengan nada hati-hati.
Habib Khalid mengernyit bingung.
"Siapa?"
Aish menjawab cepat,"Aira, kak."
"Iya, siapa Aira? aku nggak tahu." Kata habib Khalid datar.
Aish langsung tercengang mendengarnya. Apa habib Khalid tidak mengingat Aira? Tapi masa iya, sih?
__ADS_1
Mereka kan baru bertemu tadi siang dan dia yakin jika sang habib melihat Aira tadi siang di depan kantor.
"Dia...dia adalah adikku dari Ibu yang berbeda. Kita pernah bertemu saat pergi ke kota dulu. Kak Khalid nggak lupa, kan?" Aish menjelaskan dengan gagap.
Tapi walaupun dia menjelaskan sang habib sama sekali tidak tahu siapa Aira dan kemungkinan dia benar-benar lupa. Aish agak bingung tapi pada saat yang sama dia juga sangat senang karena sosok adiknya yang selalu mempesona di mata orang-orang ternyata tidak cukup terlihat di mata sang habib.
Tapi... Bukankah setiap kali mereka bertemu Aira selalu menggunakan cadar?
Dan sekarang Aira sudah melepas cadarnya jadi mungkin ini penyebab sang habib tidak mengenalnya.
"Maaf, aku benar-benar tidak tahu." Kata Sang habib lebih datar lagi.
Aish menggigit bibirnya merasakan euphoria kesenangan di dalam hatinya.
"Hari ini dia tidak menggunakan cadar saat datang ke sini dan kemungkinan besar dia tidak akan menggunakan cadar selama tinggal di sini."
Habib Khalid memiringkan kepalanya kepalanya tidak peduli,"Lalu aku benar-benar tidak peduli." Kata sang habib tanpa emosi.
Aish tanpa sadar mengecilkan lehernya takut.
Kemudian dia menyambungnya lagi,"Memang apa gunanya menceritakan tentang gadis lain kepadaku?"
"Ah... Maaf, kak. Aku harus kembali ke asrama sebelum gerbang ditutup. Kak Khalid selamat malam, jangan lupa mimpikan aku ya... assalamualaikum!" Setelah itu dia kemudian berbalik melarikan diri dari sang habib.
Berbahaya pikirnya. Suara datar sang habib bagaikan alarm pengingat di dalam kepalanya bahwa dia harus segera menyingkir jika tidak ingin dimangsa. Ini adalah naluriah bertahan hidup ketika sedang terancam. Konyol memang tapi itulah yang dirasakan beberapa saat yang lalu.
"Aish!" Di lorong asrama Aish tiba-tiba dikagetkan oleh Dira dan Gisel.
Mereka sengaja mengagetkan Aish dan langsung tertawa terbahak ketika melihat wajah cemberut sahabatnya itu.
"Ke mana aja kamu? Kenapa baru pulang jam segini?" Tanya Dira mengintrogasi dengan ekspresi sok juteknya.
Ini sudah hampir jam 10.00 malam, telat sedikit saja pintu gerbang asrama akan ditutup dan Aish akan mendapatkan pengurangan poin jika ketahuan terlambat pulang.
"Kamu kan tahu sendiri tadi aku dipanggil." Jawab Aish cemberut.
__ADS_1