
Pukul 03.30 dia dibangunkan oleh suara toa di masjid. Shalat malam akan segera dikerjakan. Gisel bangun dengan lancar sementara Laras tidak bergerak sama sekali. Dia tidur nyenyak dan tidak terpengaruh oleh suara toa di masjid.
"Kak Laras, kak Laras bangun. Ini sudah pagi." Gisel mengguncang badan Laras untuk membangunkannya.
"Oh...oh, sudah pagi." Kata Laras tapi masih enggan bangun dari tidurnya.
Bukannya bangun dia malah memperbaiki posisi tidurnya senyaman. Tentu saja Laras kekurangan tidur karena begadang sampai pukul 1 gara-gara bermain ponsel. Gisel menebaknya tanpa bertanya.
Menggelengkan kepalanya tidak berdaya, dia kembali membangunkan Laras.
"Kita pergi sholat tahajud, kak. Kalau kita tidak pergi, nanti dimarah sama ustazah."
"Iya...iya, aku bangun. Aku bangun." Laras akhirnya mau bangun.
Dia duduk termenung di atas kasur memandangi Gisel yang tengah mengambil baju ganti dari dalam lemari.
Baju ganti ini adalah salah satu baju yang akan digunakan di dapur. Tapi karena masih bersih, dia akan menggunakannya shalat ke masjid.
"Aku pergi mandi dulu ya, kak." Kata Gisel kepada Laras.
Laras masih mengantuk. Wajah tidurnya mengangguk ringan sebagai jawaban.
Beberapa menit kemudian dia akhirnya bisa berpikir jernih dan menyadari kalau Gisel telah pergi mandi.
"Dia kok rajin banget ya pergi mandi. Mandi malam, mandi jam segini, apa dia nggak kedinginan?" Laras menggelengkan kepalanya tak berdaya.
Sebenarnya para santriwati tidak sebersih itu. Mereka terkadang malas mandi, faktornya karena dingin dan selain itu mereka lebih banyak berada di dalam ruangan sehingga penampilan mereka selalu bersih. Tapi ada juga santriwati yang suka mandi seperti Gisel. Ada beberapa tapi tidak banyak. Kebanyakan lebih malas. Namun kalau sudah masuk cuaca panas, akan aneh kalau mereka malas menyentuh air.
Setelah selesai membersihkan diri dia dan Laras pergi ke masjid bersama-sama. Lagi-lagi mereka mendapatkan saf belakang. Tak perlu disesali, karena saf yang paling bagus untuk para wanita adalah saf belakang. Jadi mereka dengan senang hati menggelar sajadah.
Selesai shalat tahajud, mereka tinggal di dalam masjid untuk membaca Al-Qur'an sampai akhirnya waktu subuh datang. Selesai melaksanakan shalat subuh, mereka pergi ke asrama untuk menaruh barang-barang dan kemudian pergi ke dapur untuk membuat sarapan.
Sarapan di pondok pesantren setiap pagi didominasi oleh bubur. Selain masaknya cepat tidak membutuhkan terlalu banyak proses memasak.
Mereka membuat bubur ayam. Makanan paling bersahabat untuk mereka para santriwati karena porsinya banyak juga mengenyangkan.
"Gisel, potong daun bawang nya, ya. Setelah kamu memotong semuanya, segera cuci bersih di air keran biar bisa langsung ditaburkan ke bubur." Wulan, satu angkatan dengan Laras dan cukup akrab dengan Gisel memberikan instruksi.
"Segera, kak." Gisel melepaskan pekerjaan yang sekarang.
Dia pergi mengambil beberapa ikat daun bawang dan memotongnya tipis-tipis secepat mungkin. Untungnya dia tidak sendiri melakukannya. Ada beberapa orang datang membantu. Sehingga pekerjaan bisa cepat dilakukan.
Ketika matahari telah memperlihatkan dirinya di wajah langit pondok pesantren, bubur sudah matang di atas panci. Hari ini untuk menyiapkan dua panci besar untuk sarapan. Dan tiga keranjang supir ayam yang memiliki wangi yang sangat harum. Ada juga beberapa telur ayam yang dipotong jadi 4 bagian. Jadi setiap mangkok memiliki satu iris kecil yang lezat.
Begitu bubur matang mereka segera disajikan ke dalam mangkuk. Setiap mangkuk mendapatkan satu sendok besar bubur, satu setengah sendok suwir ayam, satu bagian telur yang diiris, sejumput daun bawang, sejumput bawang goreng dan kuah yang lumer di dalam mangkuk.
Menyajikannya butuh ekstra kesabaran agar tidak tumpah ke mana-mana.
Setelah setiap mangkuk siap, mereka langsung dikirim ke atas meja makan di stand makanan. Di dalam stand sebagian besar santriwati dan santri telah datang. Mereka semua kompak menggunakan seragam biru untuk para junior, sedangkan senior menggunakan seragam hijau muda.
Penampilan mereka sangat enak dipandang. Mengingatkan Gisel pada hari-hari ketika dia dan dua sahabatnya datang ke tempat ini.
Melihat beberapa kelompok bercanda, hati Gisel merindu. Bertanya-tanya kapan dia bertemu lagi dengan kedua sahabatnya.
__ADS_1
"Hei, kenapa kamu bengong saja? Ayo ambil mangkuk-mangkuk di dalam. Kasihan teman-teman kamu yang lain kerja keras tapi kamu di sini malah asyik-asyik kan bengong." Seorang wanita menegur Gisel dengan nada bicaranya yang culas.
Semua orang bekerja keras di sini mengoper makanan ke dalam stand. Tapi Gisel malah berdiri terbengong menonton rekan-rekannya bekerja.
Gisel terkejut. Pipinya langsung merona merah karena malu. Dia tidak bermaksud diam dan menonton orang-orang bekerja, sementara dirinya tidak melakukan. Sungguh dirinya tidak sengaja. Dia hanya terharu melihat beberapa santriwati mengobrol bersama yang langsung mengingatkannya kepada kedua sahabatnya.
"Maaf, maaf kak." Gisel meminta maaf tanpa membuat alasan pembelaan diri.
Lagi pula dia juga salah di sini. Bukannya membantu bekerja malah terjebak nostalgia.
"Ayo masuk ke dapur. Setelah selesai sarapan, tugas mencuci piring akan jatuh ke tangan kamu." Setelah berkata begitu, wanita itu langsung pergi tanpa memberikan wajah kepada Gisel.
Gisel merasa malu dan sedih pada saat yang sama. Sudah disepakati kalau mencuci piring bukan tugasnya. Tapi karena wanita itu sudah memintanya, maka Gisel pasti akan menurutinya. Dia memang ceroboh hari ini.
"Iya, kak." Katanya sambil mengikuti pergi ke dalam dapur.
Semua mangkuk telah dikirim ke stand makanan. Mereka para pekerja di dapur juga ikut sarapan di dapur. Porsi makanan mereka sama dengan para santri dan santriwati yang lain.
Gisel, Laras, Wulan, dan beberapa orang lain berkumpul di satu tempat memakan semangkuk bubur.
"Gisel, kemari, Nak." Seorang juru masak memanggil Gisel mendekat.
Karena mereka tidak memiliki meja makan di dapur, maka semua orang duduk melantai di bawah untuk sarapan.
"Kenapa, Bu?" Gisel bertanya gugup.
Dia takut dimarahin lagi.
"Berikan mangkuk bubur kamu."
"Hari ini kamu telah bekerja keras. Ibu tahu kamu lelah." Kata juru masak itu sambil menambahkan bubur ke dalam mangkuk Gisel bersama beberapa toping seperti suwir ayam dan telur. Tapi khusus untuk Gisel, juru masak memberikan satu utuh telur tambahan sebagai ucapan terima kasih atas kerja kerasnya.
"Eh... Bu, jangan. Aku sudah cukup." Kata Gisel menghentikan.
Tapi juru masak itu tidak mendengar dan baru menyerahkan mangkuk Gisel setelah semuanya terisi.
"Anak baik, ibu tahu kalau kamu membutuhkan asupan makanan yang cukup. Ditambah dengan kerja keras kamu tadi, ibu merasa tersentuh. Jika kamu ingin menambah, katakan aja kepada ibu dan yang lainnya. Kami tidak akan menolak." Kata juru masak itu dengan senyuman hangat khas keibuan di wajah tuanya.
Hati Gisel bergetar. Bahkan bibinya tidak mengatakan kata-kata lembut ini kepadanya dulu. Tapi wanita tua ini, orang asing yang tidak memiliki hubungan darah dengan dia justru memberikan perhatian yang begitu lembut.
Kedua mata Gisel terasa perih.
"Terima kasih, Bu. Terima kasih. Tapi aku benar-benar cukup dan aku tidak enak dengan yang lain. Porsi semua orang sama, tapi aku sendiri berbeda. Aku tidak mau membuat orang tidak nyaman." Kata Gisel tulus.
Dia tahu bahwa teman-teman yang lain juga masih menginginkan lebih. Tapi semua orang mendapatkan porsi yang sama, entah itu santri, santriwati, ataupun staf pengajar. Semua orang mendapatkan porsi yang sama. Akan tidak adil jika dirinya sendiri berbeda.
"Apa yang perlu ditakutkan. Semua orang mengerti kamu. Udah, makan sana. Ibu sangat terbantu dengan kerja keras kamu." Juru masak itu mendorong Gisel kembali ke tempatnya semula.
Beberapa orang memperhatikan interaksi juru masak dan Gisel. Sebagian besar dari mereka tidak mengatakan apapun karena itu hak juru masak untuk memberikan sesuatu kepada yang lain. Tapi berbeda untuk beberapa orang yang memang sudah memiliki ketidakpuasan di dalam hati mereka mengenai Gisel.
"Dia cuma magang, pekerjaannya tidak berat. Tapi kenapa Ibu menambahkannya makanan?" Seseorang berbisik tidak puas.
Yang lain juga menimpali.
__ADS_1
"Pekerjaannya sudah tidak berat dan aku memergokinya sedang bengong di luar sendirian. Disaat kita bersusah payah mengirim makanan ke stand makanan, dia malah asik-asikan berdiri menonton kita bekerja. Apakah ini yang dimaksud bekerja keras oleh ibu? Sungguh tidak adil. Ketika pertama kali magang, aku tidak diperlakukan sebaiknya ini oleh ibu." Dia adalah wanita yang telah menegur Gisel dengan suara keras.
Memang pada awalnya dia memiliki kesan yang sangat buruk kepada Gisel. Dan setelah melihatnya berdiri diam menonton orang lain bekerja sementara dirinya terbengong, dia semakin tidak puas.
Baru penilaian saja sudah ngelunjak, bagaimana kalau sudah mulai bekerja di sini sebagai magang?
"Hei, jangan keras-keras. Suara kalian bisa didengar." Mereka berdua diingatkan.
Wanita itu mendengus tak senang,"Biarkan saja dia mendengar. Aku tidak takut."
Orang yang telah menegurnya terdiam dan tidak mengatakan apa-apa. Percuma memberitahu orang yang keras kepala. Mereka tak bertindak dengan otak tapi bertindak dengan emosi.
"Hari yang baik, hum?" Laras menyodok pinggang Gisel sambil tersenyum manis.
Gisel malu.
"Kakak mau juga?" Sambil menunjukkan telur utuhnya.
Laras menggelengkan kepalanya menolak. Dia sudah cukup dengan porsi mangkuknya.
"Tidak usah, kamu makan saja. Ini adalah niat baik ibu untuk kamu. Dia melihat kerja keras kamu. Insya Allah kamu pasti diterima magang di sini. Soalnya perhatian ibu kepada kamu telah mengkonfirmasinya secara langsung. Selamat ya, dek. Habis ini kita pergi berbelanja ya untuk merayakan kabar baik ini." Laras berbicara positif bahwa Gisel akan diterima di sini.
Sebenarnya bukan hanya Laras yang memiliki pikiran ini. Mungkin sebagian besar orang-orang di sini juga memiliki pikiran yang sama. Juru masak adalah orang yang mengurus dapur umum. Bisa dibilang dia adalah pemimpinnya. Dana pondok khusus untuk dapur dipegang olehnya. Dan juru masak biasanya memiliki sikap yang baik kepada semua orang. Hanya saja perhatian seperti memberikan porsi tambahan kepada orang lain jarang dilakukan. Seperti berbicara tentang keadilan. Semua orang harus memiliki porsi yang sama.
Jadi ketika mereka melihat Gisel diperlakukan baik oleh juru masak, mereka umumnya agak cemburu tapi perasaan itu berlalu begitu saja. Karena siapa yang bekerja keras pasti akan mendapatkan harganya.
Namun untuk beberapa orang yang ingin magang di sini. Mereka menyesal tidak bekerja keras untuk ditunjukkan kepada juru masak bahwa mereka berusaha. Jika juru masak melihat mereka, maka mereka akan diperlakukan sebaik Gisel. Dengar-dengar perhatian juru masak berarti Gisel positif magang di dapur umum.
"Terima kasih, kak. Aku tidak terlalu berani berharap. Tapi kata-kata baik kakak akan aku anggap sebagai doa. Namun sebelum kabar baik ini dikonfirmasi, aku tidak berani merayakannya. Jadi lebih baik kita menunggu saja." Kata Gisel rendah hati.
Dia memang memiliki harapan di hatinya tapi tidak berani mengatakannya. Lebih baik diam saja.
"Terserah kamu saja. Kamu adalah gadis yang baik, pantas ibu menyukai kamu." Ujar Wulan ikut senang untuk Gisel.
Gisel menjadi malu. Dia menundukkan kepalanya fokus memakan bubur di dalam mangkuk.
...*****...
Hari begitu saja berlalu. Dan Gisel lupa mengambil ponsel di kantor karena terlalu sibuk bekerja di dapur. Hari ini dia melihat Danis tapi tak bisa berbicara dengannya karena Danis terlihat sangat sibuk. Langkah kakinya tergesa-gesa entah ke mana. Gisel hanya bisa memandangnya dari jauh. Lalu begitu saja.
Di malam harinya, Gisel mandi malam dan langsung merebahkan dirinya di atas kasur. Badannya pegal-pegal semua, rasanya sangat tidak nyaman. Apalagi ketika memikirkan teguran yang didapatkan tadi pagi, dia malu dan masih sedih. Bila saja Aish dan Dira ada di sini. Mereka pasti tidak akan membiarkan orang menggertak nya. Sayang sekali kedua kakaknya tidak ada di sini sehingga dia merasa sangat kesepian.
Menoleh ke kanan. Laras sudah jatuh tertidur. Dia mungkin terlalu lelah sampai-sampai tidak sempat memainkan ponselnya. Suara dengkurannya bergema di dalam kamar mereka.
Gisel tidak terganggu. Dia malah merasa suara dengkuran Laras bagaikan lagu nina bobo untuk menemani malam sepinya.
"Aku harap hari esok lebih baik dari hari ini." Bisiknya berdoa sebelum jatuh terlelap.
...*****...
Pagi harinya setelah semua selesai melaksanakan shalat subuh, Gisel tiba-tiba dipanggil oleh juru masak dapur. Di bawah pengawasan diam-diam mata beberapa orang, Gisel berbicara dengan juru masak dapur.
Telinga beberapa orang langsung tegak mendengarkan pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Gis, hari ini kamu keluar ya ke pasar untuk membeli beberapa kebutuhan dapur. Ibu sudah menyiapkan daftarnya di sini. Jadi kamu tinggal mengikuti daftar ini. Beli sesuai dengan apa yang ibu tulis. Jika kamu tidak menemukan beberapa bumbu atau sayuran, maka jangan memaksakan diri untuk mencarinya. Soalnya nanti siang bahannya akan dipakai." Kata juru masak kepada Gisel sambil memberikan Gisel sebuah daftar. Dilihat-lihat daftarnya cukup banyak dan di setiap daftar ibu akan menuliskan secara rinci berapa kilo yang akan dibeli.
"Iya, Bu. Terima kasih telah mempercayai aku. Tapi aku takut orang-orang di pasar tidak menurunkan harganya kepadaku. Soalnya aku masih terlalu muda dan belum pernah turun ke pasar untuk membeli barang-barang ini." Dia dan kedua sahabatnya pernah pergi ke pasar, tapi mereka turun untuk membeli makanan saja dan beberapa pakaian.