Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 17.5


__ADS_3

Dira tersenyum lebar, matanya berbinar terang memandangi wajah gelap Khalif. Rahasia ini tentu membuat Khalif tidak bahagia karena ini berhubungan dengan nama baiknya di pondok pesantren. Bila nama baiknya rusak, maka Umum dan Abah akan memandangnya tidak enak dipandang. Kualifikasi nya untuk dekat dengan Nadira akan langsung turun drastis hingga dia hanya bisa menenggelamkan rasa dalam kerinduan.


Namun Dira sama sekali tidak tahu bila Khalif sangat ingin menjaga nama baiknya hanya untuk mengejar Nadira. Jika dia tahu, maka dia pasti akan sakit perut tertawa sebab menurutnya pasangan ini sejatinya sangat serasi.


"Abah dan Umi, ada sesuatu yang ingin ku katakan kepada kalian. Beberapa waktu yang lalu aku pernah memergoki seorang santri laki-laki masuk ke dalam sekolah santriwati. Dia memanjat tembok dan mengintip ke salah satu kelas lewat jendela. Aku tidak sengaja memergokinya dan bertanya apa yang dia lakukan mengintip di sekolah. Tapi dia bilang aku gila dan langsung berbalik memanjat tembok sekolah untuk melarikan diri. Awalnya aku tidak akan melaporkan masalah ini karena ku pikir dia tidak akan mengulanginya lagi dan melupakan pertemuan itu. Tapi yang tidak ku sangka adalah dia tiba-tiba membalas dendam kepadaku. Padahal meskipun aku memergokinya mengintip kelas santriwati dan menggunakan motor pagi kemarin, aku sama sekali tidak berniat melaporkannya kepada pihak pondok pesantren karena masalah ini menurut ku tidak terlalu fatal. Namun yang tidak ku duga adalah kebaikan ku dibalas dengan kejahatan. Tidak hanya memfitnah kami mencuri motor orang, tapi dia juga menggiring banyak orang untuk mengejar kami sehingga terjadilah sebuah kecelakaan. Dan sekarang, dia di sini berdiri di hadapan semua orang dengan sandiwaranya yang menyedihkan. Bertindak seolah-olah dia tidak tahu apa-apa dan hanya sebagai saksi yang tidak bersalah, bagaimana mungkin-"


"Apakah kamu sudah selesai berbicara?! Apakah kamu sudah selesai membuat masalah?!" Potong Khalif murka.


Tidak perduli dengan reaksi orang lain, dia berdiri menghadap ke samping dan berbicara lantang dengan Dira, nada suaranya yang tajam khas seorang laki-laki langsung mengintimidasi Dira.


Aish langsung menghalangi pandangan Khalif dari Dira, namun Dira sama sekali tidak gentar dengan intimidasi Khalif. Bukannya bersembunyi, tapi dia malah mendorong bahu Aish ke samping agar dia bisa langsung berhadapan dengan Khalif. Bagaimana mungkin dia, Dira Klarisa, orang yang biasa membuat masalah tiba-tiba dibuatkan masalah orang lain. Dira tidak akan pernah mentolerir nya!


"Kenapa? Kamu takut karena rahasia kamu dibongkar sama aku? Hey, jangan munafik jadi orang, apalagi kamu adalah seorang laki-laki, malu dong sama gender sendiri. Masa iya badan cowok tapi mulut bebek Mandarin, kan enggak lucu." Ejek Dira dengan senyuman lebar di wajahnya.

__ADS_1


Khalif mengepalkan tinjunya. Dia merasa terhina martabatnya sebagai seorang laki-laki dipertanyakan oleh gorila betina yang tidak tahu datangnya darimana. Sejak bertemu, harinya selalu saja apes dan tidak beruntung sampai-sampai dia bertanya, apakah Dira adalah parasit di dalam hidupnya?


"Siapa yang mulut bebek Mandarin? Dasar gorila betina, biasakan berkaca dulu sebelum berbicara. Lihat diri baik-baik, tidakkah kamu menemukan bahwa dirimu terlihat mirip dengan gorila betina yang ada di taman safari?" Tak mau kalah, Khalif balas mengejek.


Matanya yang jernih memandang angkuh ekspresi sembelit di wajah Dira. Sungguh aneh, pikirnya. Gadis ini memang memiliki karakteristik yang mirip dengan gorila sebab tidak bisa menjaga image nya di depan orang banyak.


Lihatlah Nadira dan gadis-gadis lain di pondok pesantren, mereka tertunduk ayu juga bersikap lembut tidak seperti gorila betina ini. Ucapan dan sikap kasar, mungkin adalah tabu untuk mereka tapi mengapa gadis ini beda sendiri? Batin Khalif meringis melihat Dira.


"Gorila betina, hah.." Dira mendengus tidak puas.


"Yo, jadi kamu mengakui bahwa kamu adalah monyet, hah?"


Khalif merasa bila Dira sangat tidak masuk akal,"Omong kosong, kapan aku mengakui itu?"

__ADS_1


Dira menatapnya bingung, pura-pura lebih tepatnya,"Baru saja."


Semua orang,"...."


Khalif menggertakkan giginya marah,"Aku tidak mengatakan itu! Aku jelas mengatakan bahwa kamu-"


"Ya, kamu adalah monyet." Potong Dira bersukacita.


Khalif terdiam. Dia sekarang tahu jika Dira sedang mempermainkannya. Dipermainkan di depan banyak orang dan di depan calon mertuanya, dimana Khalif harus meletakkan wajahnya?


Tidak!


Khalif tidak mungkin membiarkan Dira bersenang-senang begitu saja.

__ADS_1


"Ya, kamu memang gorila betina. Tidak ada yang bisa menandingi amukan mu sebagai gorila, apakah kamu puas nona gorila?"


__ADS_2