
Senyuman di wajah Aira langsung menjadi kaku. Sebelumnya dia sangat jelas mendengar bahwa Nasha kekurangan orang, oleh sebab itu dia mengambil keberanian untuk berbicara dan menawarkan diri. Tapi Nasha tidak mau menerima itikad baik darinya. Dia menolak menerima.
Di dalam hati dia mencela perilaku Nasha. Tanpa bertanya juga dia tahu kalau Nasha tidak ingin melihatnya datang. Dan semua ini disebabkan oleh Aish. Tiada lain dan tiada bukan orang ini. Memikirkannya saja membuat Aira marah. Sebenci itu Aish kepadanya?
"Baik kak, aku menerima keputusan kakak. Aku akan menunggu panggilan dari kakak besok. Kuharap aku bisa datang membantu." Dia tersenyum kecil, terlihat menyedihkan karena ditolak oleh Nasha.
Salah mengucapkan salam, Nasha dan temannya langsung masuk ke gedung asrama. Mereka naik lantai atas karena kamar mereka ada di lantai atas. Para senior memiliki tingkatan sendiri. Dan setiap lantai di gedung ini menunjukkan seberapa tinggi tingkat senior tersebut. Sedangkan Aish dan Aira, mereka masih junior, jadi mereka bersatu dengan adik kelas yang lain di lantai 1.
"Huh, karena kamu tidak mau membawaku pergi, maka aku akan pergi sendiri. Kamu tidak tahu saja hubungan Umi dengan keluargaku sangat baik. Umi pasti menerima kedatanganku besok. Aku yakin kamu akan malu di depan Umu karena telah menolak ku datang. Hah... Seperti yang aku pikirkan. Dia tidak sebaik yang orang-orang bicarakan. Sayang sekali orang seperti dia menjabat sebagai ketua kedisiplinan asrama putri, ck..ck.."
Karena Nasha menolak kedatangannya, maka dia bisa pergi sendiri. Toh, Umi dan Abah memiliki hubungan yang sangat baik dengan Ayah. Mereka berdua tidak mungkin menolak kedatangan dirinya karena Ayah sangat dihormati oleh mereka berdua. Aira berpikir mudah. Dia lupa jika Ayah melakukan banyak hal agar dia bisa masuk ke dalam pondok pesantren. Jika hubungan mereka dekat, Ayah seharusnya tidak perlu melakukan banyak hal agar Aira bisa masuk ke dalam pondok pesantren.
"Masalah beres. Sekarang akhirnya aku bisa tidur dengan nyenyak. Hum... Aku sudah tidak sabar menunggu hari esok."
...*****...
Pulang dari kantin wajah Aish terlihat cemberut. Tadi siang habib Khalid berjanji untuk bertemu malam ini. Dan sekarang sudah malam, mereka tidak jadi bertemu karena habib Khalid tiba-tiba dipanggil oleh seseorang. Aish tidak tahu siapa yang memanggilnya karena habib Khalid tidak mengatakan apa-apa. Tetapi melihat ekspresi wajahnya, orang yang datang mencari mungkin sangat penting sampai-sampai membuat habib Khalid kewalahan.
"Hei, kalian berdua kenapa? Aku perhatiin dari tadi sore kalian berdua sering menghela nafas berat. Ayo katakan, mungkin saja aku bisa membantu."
__ADS_1
Saat menoleh ke samping dia menyadari kalau Gisel dan Dira hari ini lebih banyak diam. Awalnya dia pikir mereka sedang mengantuk atau mager tidak ingin melakukan apa-apa. Ketika mereka bertiga makan malam di kantin, dia mulai menyadari kalau ada sesuatu yang salah dengan mereka berdua. Makanan kantin yang biasanya menarik perhatian mereka tiba-tiba jadi tidak menarik. Yang paling mengejutkan adalah Dira sampai tidak mau makan. Padahal dia mengenal sahabatnya ini dengan baik. Rasa cintanya terhadap masakan kantin melebihi makanan-makanan yang ada di restoran.
"Nggak apa-apa, Aish. Kami cuma nggak mood aja." Gisel menjawab dengan senyum tipis.
Sementara Dira berbaring di samping Aish diam-diam menutup mata berharap dirinya bukan bagian dari dunia ini. Sebab rasanya sangat menyakitkan. Sakit sekali, hingga membuatnya kesulitan bernafas.
Ini adalah kenyataan pahit yang tak pernah ingin dia dengar dalam hidupnya. Namun jika dia tidak mendengar, maka selama sisa hidupnya, dia akan hidup dengan tipuan mereka.
"Kamu bilang nggak apa-apa, tapi..." Mengusap wajah basah Dira karena air mata, Aish menemukan bahwa dirinya terlalu sibuk dengan urusan cinta sampai-sampai tidak memperhatikan sahabatnya sendiri.
Dia merasa malu juga bersalah. Karena kedua sahabatnya selalu ada setiap kali dia sedih dan kesakitan.
Dira selama ini selalu ceria. Di antara mereka bertiga, Dira adalah satu-satunya orang yang lebih sering membuat tawa dan memiliki tampilan konyol. Tipe seperti Dira, pasti sulit menangis. Tapi sekalinya menangis, Aish dan Gisel tahu, hatinya pasti sangat terluka.
"Aish," Dira memiringkan tubuhnya membalas pelukan sang sahabat.
Alhasil suara tangisan yang pecah direndam dalam pelukan Aish.
"Oke, cerita sama aku apa yang terjadi. Maafin aku karena terlalu sibuk dengan urusan diri sendiri sampai lupa dengan urusan kalian. Padahal di saat aku sedang down, kalian selalu ada untuk aku." Kata Aish tulus mengungkapkan betapa menyesal dia dari dalam hati.
__ADS_1
Dira tidak mengatakan apa-apa dalam masalah ini, bukan karena tidak mau berbicara atau membuat komentar, tapi lebih tepatnya dia tidak bisa berbicara karena hatinya begitu sesak. Karena dia tidak bisa berbicara, akhirnya Gisel memutuskan untuk menceritakan apa yang terjadi tadi pagi.
"Aku tidak bisa menghibur Dira, selama kami di luar dia terus menangis. Maksudku itu wajar saja karena siapapun yang ada di posisi dia pasti akan merasakan hal yang sama. Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" Gisel menatap Aish serius.
Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Gisel, sungguh, Aish sangat marah. Dia dulu pernah berpikir bahwa mungkin dia adalah satu-satu orang yang tidak dibutuhkan oleh orang tuanya di dunia ini. Tapi sekarang dia salah besar karena orang yang ada di sekitarnya juga merasakan hal yang sama.
Menurutnya kasus Dira jauh lebih berat daripada miliknya. Di sisinya, Ayah yang sibuk membahagiakan Bunda dan Aira. Tapi di sisi Dira, baik Papa ataupun Mama, mereka sudah memiliki keluarga masing-masing tanpa sepengetahuan Dira.
Hati siapa yang tidak hancur ketika mengetahui kebenaran pahit ini?
"Intinya jangan lari dari masalah. Aku tahu sakit rasanya melihat orang tuamu membesarkan dirimu dalam Kebohongan. Aku juga mengerti rasanya saat mengetahui orang tua lebih condong mengurus keluarga baru daripada diri kita sendiri. Sakit, pastinya. Namun kamu tidak boleh melarikan diri, Dira. Kamu harus berjuang untuk membahagiakan dirimu sendiri. Tunjukkan kepada mereka bahwa kamu bisa hidup lebih baik meskipun tanpa mereka. Suatu hari ketika mereka melihat kamu memiliki kehidupan yang sangat baik, jauh dari dugaan mereka, ketahuilah , hati mereka akan terbakar penyesalan. Kamu harus bersyukur karena baik keluarga Papa dan Mama, mereka semua selalu ada di sisi mu. Justru dengan keberadaan mereka, Kamu harus berjuang bertahan hidup. Seperti aku misalnya. Sejak kecil kakek selalu di sisiku. Sementara keluarga Mama jarang memikirkan aku. Mereka hanya mengirimkan uang belanja perbulan yang menurutku tidak terlalu berharga. Rasanya sangat membuat frustasi karena aku hanya memiliki kakek yang paling peduli dengan diriku. Tapi aku berpikir lagi, justru karena ada kakek di dunia ini aku harus bertahan hidup. Aku harus bersabar menghadapi mereka semua karena kakek berharap aku memiliki kehidupan yang baik. Dan qodarullah, kehidupanku sekarang sangat baik. Satu demi satu hal baik mendatangi, mungkin untuk harga kesabaran ku selama ini. Saat pindah ke pondok pesantren Ayah memberikanku tabungan yang telah Mama siapkan untukku. Selain tabungan Mama, dia juga memberikanku uang belanja yang cukup besar. Aku tidak sombong karena memiliki banyak uang, tidak, dan aku juga tidak pernah mengatakan kepada keluarga Ayah bahwa aku memiliki banyak uang. Tapi meskipun begitu mereka tetap mengetahuinya. Lalu satu demi satu keluarga Ayah datang kepadaku. Mereka memohon dengan nada lembut yang tidak normal untuk meminjam uangku tapi segera ku tolak. Setelah mereka ku tolak, datang lagi Ayah. Dia ingin meminjam uang itu untuk bibi-bibi ku yang membutuhkan. Tapi lagi-lagi ku tolak. Setelah berkali-kali mendapatkan penolakan, mereka mengecap ku sebagai anak tidak berbakti dan sombong. Padahal itu adalah hakku, dan jika mereka sadar untuk semua perbuatan yang telah mereka lakukan kepadaku, mereka tidak akan mengatakan kata-kata itu. Dari sini aku tahu bahwa mereka cemburu dan pasti sangat menyesal setelah memperlakukanku buruk. Lucu ya, pikiran manusia yang serakah mudah sekali ditebak. Aku merasa mereka menyesalinya sekarang dan berharap waktu bisa diputar kembali. Itu sama dengan dirimu Dira. Kamu masih punya banyak orang-orang yang mencintai kamu jadi gunakan mereka sebagai motivasi kamu untuk bertahan. Mungkin saja mereka telah menyiapkan banyak uang misalnya sebagai penunjang hidup mu hingga membuat keluarga tirimu terbakar amarah cemburu. Melihat mereka cemburu merupakan kepuasan yang akan terus membuatmu tersenyum suatu hari nanti."
"Nah, kok kamu tahu, Aish?" Entah sejak kapan Dira berhenti menangis dan mendengarkan apa yang Aish ceritakan kepadanya.
Aish dan Gisel bingung,"Apanya?"
Dira mengusap ingusnya yang meler gara-gara terlalu banyak menangis,"Kalau keluargaku telah menyiapkan uang untukku. Sebelum kakek dan nenekku meninggal, mereka menulis namaku dalam surat wasiat bahwa setelah menikah nanti aku akan mewarisi beberapa properti keluarga dan tabungan mereka. Paman dan bibi bilang itu adalah permintaan maaf dari keluarga kepadaku. Saat itu aku bingung kenapa mereka meminta maaf kepadaku dan memberikanku harta yang sangat besar. Tapi sekarang aku mengerti. Ternyata ini adalah kompensasi dari mereka untuk kesalahan yang telah dilakukan kedua orang tuaku. Hehehe... Sekarang aku kaya raya. Aku lebih kaya dari Papa dan Mama!" Ceritanya sambil tertawa konyol.
Aish dan Gisel saling memandang,"...." Uang adalah obat terbaik di dunia ini.
__ADS_1