Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 5.8


__ADS_3

Entah disebut sebagai keberuntungan atau tidak karena mereka selalu bertemu dengan habib Khalid di waktu-waktu yang sangat genting seperti semalam saat Aish sedang memandangi stan makanan laki-laki ataupun disaat mereka sedang merencanakan pelarian. Jujur saja, tidak ada kenangan menyenangkan yang mereka dapatkan tiap kali bertemu dengan habib Khalid karena itulah mereka memiliki sedikit trauma dan antisipasi melihat habib Khalid. Pasti ada saja hukuman atau teguran yang harus mereka dapatkan, dan sebagai anak kota yang tidak suka diceramahi ataupun dibatasi, mereka memiliki keengganan yang sangat besar untuk mendengarkannya.


"Kalian membicarakan aku dengan orang yang tidak bersalah, hati-hati dengan lidah kalian." Nah, habib Khalid kembali menegur mereka.


Aish, Dira, dan Gisel langsung membuat barisan satu saf seperti biasanya, menarik perhatian kelompok Khalisa yang berjalan agak jauh dari mereka bertiga. Ketika melihat habib Khalid berdiri di luar pagar asrama, Khalisa tanpa sadar langsung mempercepat langkahnya agar bisa menyapa habib Khalid.


"Iya, habib." Jawab Aish tidak memasukkannya ke dalam hati.


Malah, ia terkesan mengacuhkan peringatan habib Khalid.


"Tidak mau meminta maaf?" Tanya habib Khalid masih dengan senyuman yang sama.


Mendengar pertanyaan habib Khalid, mereka bertiga sontak saling lirik, jelas ada keengganan di sana. Tapi demi menghindari hukuman lainnya di masa depan mereka masih mengucapkan kata maaf.


"Maafkan kami, habib. Kami tidak akan mengulanginya lagi." Kata Dira tidak berani melihat wajah habib.


"Benar, habib. Kami khilaf." Sahut Gisel juga tidak mengangkat kepalanya.


Tapi berbeda dengan Aish. Dia sengaja mengangkat kepalanya, menyapu wajah tampan habib Khalid dengan mata aprikot nya yang indah.

__ADS_1


"Tidak ada lagi di masa depan." Ucapnya lalu menundukkan kepala.


Habib Khalid sekali lagi kehilangan senyum diwajahnya untuk alasan yang tidak pasti. Wajah tampan itu membentuk ekspresi datar yang langka, menundukkan kepalanya, wajah tersenyum itu kembali terbentuk setelah merenung beberapa saat.


"Terima kasih. Aku harap kalian tidak akan mengulanginya lagi." Ucapnya seraya mengangkat kepalanya dan tanpa sengaja berpapasan langsung dengan pemilik mata aprikot itu.


Kelopak mata aprikot itu tanpa sadar bergetar, mengayunkan buku mata hitamnya bergerak panik karena tertangkap tidak siap melihat mata gelap tak berujung itu.


Aish spontan mengalihkan pandangannya menatap bawah. Wajahnya langsung menjadi panas dengan perasaan membengkak yang sangat memalukan. Belum pernah terjadi dirinya merasa semalu dan tidak seberdaya ini.


"Kami berjanji tidak akan mengulanginya, habib." Dira dan Gisel berjanji dengan sungguh-sungguh sambil berharap habib Khalid segera pergi.


"Baiklah, kalau begitu aku pergi. Assalamualaikum." Ucapnya sembari membawa langkahnya menjauh dari gedung asrama putri.


Punggung habib Khalid perlahan menjauh dari gedung asrama. Membawa langkahnya yang lurus terus menjauh tanpa sempat menoleh. Anehnya, langkah habib Khalid itu ringan dan tidak tergesa-gesa, tapi entah kenapa rasanya jarak mereka sudah sangat jauh.


Aish menghela nafas panjang melihat punggung tegap itu. Jantungnya yang sempat panik perlahan mulai kembali normal dan wajahnya yang terasa panas juga kembali normal meskipun masih meninggalkan sisa.


Habib Khalid akhirnya pergi dan Dira maupun Gisel sama-sama merasa lega sementara Aish berusaha bersikap normal setelah mendapatkan getaran tak terkendali barusan.

__ADS_1


"Apa yang sedang kalian bicarakan dengan habib Thalib, tadi?" Suara lembut Khalisa segera menarik mereka bertiga dari pikiran masing-masing.


Khalisa tadi sempat mempercepat langkahnya agar bisa berbicara dengan habib Khalid. Tapi sayang sekali, sebelum dia bisa menyapa, habib Thalib sudah berbalik pergi. Khalisa sangat menyesalinya karena telah membuang kesempatan berharga ini.


Secara alami Aish tidak akan menjawab Khalisa, apalagi gadis ini adalah saingan cintanya yang fenomenal, jadi mana mau dia berbagi informasi. Dan Gisel juga memilih untuk menutup mulutnya karena dari awal dia tidak pernah menyukai Khalisa. Sedangkan Dira...dia benar-benar tidak mau tapi harus berbicara karena tidak satupun dari temannya yang berinisiatif untuk menjawab.


"Habib Thalib hanya menyapa kami saja, tidak lebih." Kata Dira berbohong.


Khalisa, Meri, dan lainnya tidak percaya. Terutama Khalisa sendiri karena dari jauh dia sudah sangat memperhatikan interaksi mereka berempat.


"Oh, jadi seperti itu. Aku pikir kalian tadi berbicaralah banyak." Kata Khalisa dengan senyuman lembut di wajahnya.


Di bawah sinar matahari pagi, kulit pipinya memerah, bersinar lembut dengan sentuhan malu-malu yang menggelitik.


"Kami tidak berani. Oh, matahari semakin tinggi. Kami harus segera menyelesaikan tugas sebelum terlalu siang agar kami bisa belajar di asrama." Ucap Dira membual tanpa mengubah ekspresi sok serius di wajahnya.


Khalisa tersenyum tipis, mengangguk ringan dan mereka pun melanjutkan perjalanan mereka ke kamar mandi.


Seperti biasa, Aish, Gisel dan Dira mengambil langkah tercepat sehingga mereka bisa bebas secepatnya dan menjauh dari Khalisa. Tapi tetap saja rasanya menyakitkan melihat berapa kamar mandi yang akan mereka bersihkan saat ini. Dengan wajah pahit mereka mulai membersihkan kamar mandi. Setiap orang mengambil satu kamar mandi sehingga pekerjaan bisa diselesaikan secepatnya.

__ADS_1


"Dipojokkan masih belum bersih. Lihat masih ada sisa lumutnya. Ada juga beberapa sampah shampoo di dekat keran, harus segera dibersihkan agar tidak menumpuk di dalam pipa pembuangan nantinya." Sebagai pengawas, Khalisa menunjukkan beberapa hal yang harus dibersihkan di dalam kamar mandi.


__ADS_2