Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 30.2


__ADS_3

"Benar sekali, kebahagiaan suami memang terletak pada istrinya. Namun katakan kepadaku, istri seperti apa yang membuat suami bahagia?" Tanya sang Habib lagi dengan nada suara yang begitu lembut.


Aish berpikir hati-hati. Dia meringkas semua pengetahuan yang telah dia dapatkan selama membaca buku beberapa hari ini.


Dia bilang,"Istri yang setia, penurut pada suami, patuh pada perintah suami dan menjadi harta yang paling berharga untuk suami di rumah. Istri yang seperti inilah yang akan membuat suami bahagia. Apa aku benar?"


Jawaban istrinya tidak salah. Malah semuanya benar. Sang Habib suka dengan jawaban istrinya. Sangat cerdas. Dan yang lebih menggelitik lagi, tatapan hati-hati dari mata aprikot istrinya yang berair, masya Allah, sungguh ketahanannya sedang diuji saat ini.

__ADS_1


"Benar, hal ini sudah dibahas oleh Rasulullah Saw kepada salah satu sahabatnya. Nabi Muhammad pernah bersabda kepada Umar bin Khattab bahwa istri yang salihah adalah yang membuat suami bahagia ketika memandangnya. Yaitu, 'maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri salihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan menaatinya, dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya'.” (HR. Abu Dawud no. 1417. Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah).


"Aish mau jadi istri saliha untuk aku, tidak?" Setelah membaca sepenggal hadis, Habib Khalid bertanya serius kepada istrinya.


"Tentu saja aku mau, kak. Memangnya istri mana yang tidak mau jadi istri yang baik untuk suaminya?" Untuk jawaban ini Aish sangat serius.


Ini menyangkut masa depannya di akhirat kelak.

__ADS_1


Aish melihat bila bibir suaminya memang membentuk senyuman. Tapi dia tahu betul bahwa senyuman itu tidak nyata. Um, semakin lama dilihat maka semakin jelas rasanya bahwa ada binatang buas yang tengah tersembunyi di dalam senyuman itu- ah, ini bukan senyuman tapi seringai mahluk buas yang tengah mengintai mangsanya.


Memikirkannya saja membuat Aish merinding.


"Bukan begitu, kak. Aku... malu. Sungguh, aku malu."


Sang Habib mengecup kening istrinya lama, lalu menjauh,"Istriku, pernikahan adalah ibadah terpanjang di dunia ini. Bukan soal cinta saja, tapi kenyamanan."

__ADS_1


Menghabiskan hidup dan menua bersama kekasih idaman bisa dikatakan sebagai suatu impian bagi setiap orang, sehingga sudah banyak yang melakukan pernikahan. Oleh karena itu, hampir setiap pasangan laki-laki dan perempuan ingin sekali untuk mewujudkan suatu pernikahan yang di mana pernikahan bisa membuat kedua pasangan hidup bersama.


"Aku ingin membuat kenyamanan di dalam rumah tangga kita. Memang benar malu itu adalah sebagian dari keimanan tapi dititik-titik tertentu. Namun lain halnya jika sudah berada di dalam rumah tangga. Malu bagiku tidak terlalu diperhitungkan. Jujur saja, aku berharap kamu bersikap berani di depan diriku. Jangan merasa malu dan menyia-nyiakan kesempatan karena hubungan kita dipenuhi oleh ladang amal ibadah. Jadi raub sebanyak yang kamu mampu, jangan menahan diri, toh aku juga melakukan hal yang sama kepada dirimu. Contohnya, menyenangkan hati suami dengan mengikuti keinginannya. Hal kecil ini membuatku sangat senang, tahu tidak?"


__ADS_2