Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 16.6


__ADS_3

"Ada apa ramai-ramai di sini? Apakah ada tamu yang datang ke pondok?"


Keluar dari dalam mobil, dia memperhatikan kantor depan pondok pesantren agak ramai seperti ada tamu penting yang datang berkunjung. Biasanya pondok pesantren akan seperti ini bila kedatangan tamu penting.


Nasifa mengikuti ke arah mana matanya memandang dan tidak terlalu perduli. Dia mengambil tas barangnya dari dalam mobil dan langsung pergi menuju ke arah rumah. Malam ini dia akan tinggal di rumah khusus untuk berbicara serius dengan Abah tentang adiknya yang semakin sulit diatur.


"Ish, kak Nasifa kenapa sih diem terus dari tadi pagi?" Nadira cemberut melihat kepergian kakaknya begitu saja tanpa mengajaknya kembali.


"Kak Nadira, assalamualaikum." Sapaan lembut dari junior menarik Nadira dari perhatiannya.


Dia langsung memasang senyuman di wajahnya tanpa ekspresi meninggalkan jejak ekspresi cemberut barusan. Baik senyum ataupun perilakunya begitu lembut serta ayu, setiap orang yang dekat dengannya tanpa sadar merasa nyaman.


"Waalaikumussalam, ada yang bisa kakak bantu, dek?" Tanyanya lembut.

__ADS_1


Beberapa junior yang datang menghampirinya segera menghela nafas lega. Sikap lembut nan ramah Nadira menyambut sapaan mereka adalah bukti bahwa Nadira merupakan orang yang mudah didekati.


"Enggak, kak. Kami hanya ingin menyapa saja. Kakak sepertinya baru pulang dari luar?"


"Iya dek, kakak baru saja pulang dari luar kota sama kak Nasifa. Sebenarnya tadi pagi habib Thalib juga ikut pergi, tapi enggak jadi karena tiba-tiba dia ada urusan. Sayang sekali." Ucapnya menyayangkan kepergian sang habib.


Sepotong informasi ini sangat penting dan berharga bagi santriwati. Setelah mendengarnya, mata mereka sontak membola kaget bersinar terang. Sesungguhnya mereka adalah pengagum Nadira dan berharap bila Nadira dapat bersatu dengan sang habib. Dan setelah mendengarkan sepotong informasi ini, pikiran mereka semua langsung berselancar entah kemana memikirkan berbagai macam skenario rumit.


"Apa...kak Nadira tadi pagi awalnya akan pergi dengan habib Thalib?" Tanya junior itu sambil menekan kegembiraan di hatinya.


Nadira tersenyum malu.


"Rencananya begitu. Tapi tiba-tiba habib Thalib membatalkannya karena ada urusan yang harus diselesaikan di pondok." Bisiknya malu-malu.

__ADS_1


Namun bibirnya yang mengkerut tampak cemberut terlihat sangat manja di depan para junior. Mereka pikir Nadira pasti sedih tapi tidak mampu mengatakannya kepada sang habib.


"Oh, tadi pagi, yah? Apa jangan-jangan urusan mendesak itu adalah kecelakaan tadi pagi?" Salah satu junior teringat dengan kecelakaan lucu yang terjadi tadi pagi.


Kecelakaan ini terjadi tidak jauh dari pondok dan langsung menyebar di telinga para santri serta santriwati. Sejak berita itu menyebar, orang pondok tidak bisa berhenti tertawa atau membicarakan betapa sial orang yang mengalami kecelakaan tersebut.


Kening Nadira mengkerut cemas,"Siapa yang kecelakaan, dek?" Dia harap habib Khalid baik-baik saja.


Tapi eh, bukankah dari bicara junior tersebut habib Khalid tidak mengalami kecelakaan tapi mungkin membantu mengurusnya?


Yah, semoga saja.


"Itu kak, orang yang kecelakaan adalah kak Aish, kak Dira, dan kak Gisel. Kata orang mereka bertiga mau kabur dari pondok pakai motor orang tapi ketahuan santri lain dan dikejar-kejar banyak orang. Alhasil, mungkin karena panik mereka bertiga berserta motor masuk ke dalam sawah orang." Cerita junior itu dengan tawa tertahan.

__ADS_1


Masalah ini agaknya sedikit lucu untuk sebagian orang karena menurut mereka kelompok Aish terlalu apes sampai jatuh ke sawah orang yang baru ditanami padi.


"Aish?" Mendengar nama ini hati Nadira langsung menjadi sesak.


__ADS_2