
Mereka sama-sama tidak punya tempat tujuan. Akan kemana mereka sesudah keluar dari pondok pesantren. Mulut berbicara ingin keluar kota untuk mencari pekerjaan ataupun memulai bisnis. Tapi faktanya jauh di dalam hati mereka berdua takut. Mereka masih belum seberani itu untuk memulai sebuah karir. Pikiran mereka masih kekanak-kanakan, mereka membutuhkan perlindungan. Kalaupun ingin membangun bisnis mereka masih merasa rentan dan rapuh. Alangkah lebih baik jika mereka memiliki orang-orang yang mau melindungi mereka dari belakang sehingga mereka tidak takut terjun ke dalam masyarakat.
Namun fakta yang ada adalah mereka sendiri. Mereka tidak punya siapapun untuk diandalkan kecuali diri mereka sendiri.
"Kita lihat saja nanti. Kalau aku nyaman bekerja di sini, mungkin aku akan tinggal di sini juga." Dira tidak berkomitmen akan benar-benar bekerja di sini.
Selain tidak tertarik, dia juga menyadari bahwa kemampuannya tidak sejauh itu. Dia tidak bisa melakukan pekerjaan kasar. Patutnya dia adalah orang yang dilayani. Begitulah dia dibesarkan di dunia ini.
...*****...
Hari-hari dilalui dengan membosankan. Sampai akhirnya hari kelulusan tiba. Gisel dan Dira sama-sama lulus. Mereka sangat senang, tapi itu sementara karena tanpa Aish semuanya terasa membosankan.
Setelah kelulusan mereka tidak lagi boleh tinggal di pondok pesantren. Mereka harus segera menentukan pilihan. Apakah akan melanjutkan sekolah di sini atau pulang ke kampung halaman masing-masing untuk memulai pendidikan yang lain. Untuk Gisel sendiri dia tidak memilih keduanya. Pertama katakan saja Gisel bodoh karena dia kesulitan memahami pelajaran yang ada di pondok pesantren. Jangankan membaca kitab gundul, bahasa Arab saja dia masih belum bisa. Dan dia menyadari betul bahwa nilai kelulusannya berasal dari rasa kasihan pondok kepadanya dan Dira. Karena dia tidak memiliki kemampuan dalam belajar, dia tidak akan melanjutkan sekolah di sini ataupun di luar. Kedua tabungannya pas-pasan. Untuk uang sebanyak itu tidak mampu menyokong biaya kuliahnya di dalam pondok ataupun di luar, sehingga minatnya untuk melanjutkan sekolah turun. Dan ketiga ataupun terakhir, dia tidak bisa pulang ke rumah karena dia sudah diusir oleh keluarga paman dan bibinya. Bahkan sejak datang ke pondok pesantren hingga hari ini, mereka tidak pernah menghubunginya untuk sekedar menanyakan kabar saja. Jangankan menghubunginya, peduli apakah dia punya uang belanja atau tidak saja mereka tidak melakukannya. Maka dari itu dia tidak bisa pulang ke rumah karena dia tidak punya rumah.
__ADS_1
Satu-satunya jalan untuknya sekarang adalah tetap tinggal di pondok pesantren untuk bekerja. Tidak apa-apa gajinya sedikit tapi yang penting konsisten setiap bulan dan dia juga memiliki tempat untuk tidur.
"Ambil ini." Dira memberikan Gisel sebuah amplop putih.
San Gisel menyentuhnya, dia langsung tahu apa isi amplop itu.
"Aku tidak bisa menerimanya." Dia menolak.
Sebab mereka berdua benar-benar di posisi yang sama, ini murni pendapat Gisel.
Dia sama sekali tidak menyangka kalau pada akhirnya dia tetap akan mewarisi bisnis keluarga. Dia kira memegang saham saja sudah cukup, tapi ternyata dia harus menjalankannya langsung. Kalau dia tidak mau melakukannya, maka kedua papanya pasti akan membuat masalah.
Jujur, dia tidak mau meninggalkan Gisel di sini. Ketika mendapatkan kabar dari mereka, dia sempat membicarakan situasi Gisel kepada mereka. Dira berniat ingin membawa Gisel kemanapun dia pergi apalagi untuk menjalankan bisnis keluarga. Tapi mereka tidak mengizinkan karena sebelum benar-benar mewarisi, dia akan di sekolahkan dulu dan dididik secara ketat, mungkin di luar negeri. Gisel tentu saja tidak cocok mengikuti Dira. Jadi mereka memberikan sedikit kompensasi kepada Gisel untuk menenangkan keresahan hati Dira.
__ADS_1
"Jadi kamu akan pergi?" Suara Gisel tercekat. Di depan sahabatnya, dia berusaha setenang mungkin dan menahan tangisannya agar tidak terlalu memalukan.
Dira tersenyum pahit.
"Aku nggak mau. Aku juga berharap tetap tinggal di sini bersama kamu. Tapi aku nggak bisa."
Gisel mengangguk mengerti. Dira berasal dari keluarga terhormat. Baik keluarga mama ataupun papanya merupakan keluarga pebisnis. Tidak mengherankan melihat situasi Dira sekarang. Karena bagi kedua pihak keluarga, Dira adalah satu-satunya penerus mereka yang sah.
"Aku mengerti. Semoga sukses, ya. Aku mendoakan yang terbaik untuk kamu dan Aish. Tapi maaf, aku nggak bisa menerima uang ini. Terlalu banyak untukku." Gisel tidak tahu seberapa banyak uang di dalam, tapi dia tahu jumlahnya pasti sangat banyak.
Dia tidak mau memanfaatkan sahabatnya. Uang yang diberikan Aish waktu itu adalah murni karena dia tidak tahu apa-apa. Tahu-tahu Aish sudah menaruh 10 juta di bawah bantalnya. Itu terlalu banyak. Dia ingin mengembalikannya tapi tidak bisa. Tepatnya dia tidak tahu harus memberikan uang itu ke siapa. Bahkan saat membahasnya ketika mereka bertemu di acara pernikahan saja, Aish sangat marah. Katanya Gisel tidak menghargai isi hatinya. Jadi dengan hati yang sangat hangat juga sedih, dia terpaksa menerima uang itu dan langsung menabungnya di bank.
"Jangan menolaknya... Aku mohon.." Lama menahan, bila akhirnya menangis duluan.
__ADS_1
"Kamu dan Aish adalah satu-satunya sahabatku di dunia ini. Kalian berdua mau berteman denganku tanpa memandang identitasku ataupun latar belakang keluargaku. Aku sungguh sangat bahagia. Dan sama seperti Aish memperlakukan kamu, bagiku kamu adalah adikku. Maka wajar saja aku berbagi dengan dirimu, jika tidak, aku benar-benar manusia yang tidak memiliki hati. Selain itu aku takut... Aku tidak tahu kapan kita bertemu lagi karena itulah aku memberikan kamu uang ini. Jika kamu tidak mau menerimanya maka aku akan sangat bingung dan sedih. Maka tolong menerimanya... Jika kamu mau menerimanya, aku akan merasa tenang meninggalkan kamu di sini. Aku mohon..."
Mendengar permohonan dan suara tangis sahabatnya yang menyentuh hati, Gisel tak kuasa lagi membendung air matanya. Dia menangis keras dan memeluk sahabatnya dengan erat.