Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 26.14


__ADS_3

"Sudah ditanyakan?" Sang suami bertanya.


Bibi Rumi menggelengkan kepalanya. Hari ini di dalam suasana hati yang baik dan menghabiskan waktu merangkai bunga mawar kering untuk keponakannya sebagai hadiah 'selamat datang' kepada keponakan terkasihnya. Bunga mawar kering yang sengaja dia bawa dari rumah adalah bunga mawar merah kering. Hei, meskipun kering jangan salah, wanginya sangat semerbak. Memanjakan indra penciuman hingga membuat tubuh rileks. Hampir semua orang di dalam keluarga menggunakan wewangian bunga mawar untuk uangnya alami di dalam rumah. Tidak ada alasan khusus, selain memiliki wangi yang manis, bunga mawar juga melambangkan kasih sayang yang kerap kali diduga alasan kenapa bunga mawar ini bertebaran di rumah. Padahal kenyataannya tidak begitu. Para leluhur hanya suka dengan bunga ini jadi mereka menanam dan mengeringkannya untuk digunakan di rumah. Bahkan ada beberapa anggota keluarga yang sengaja mengambil pendidikan pembuatan parfum sehingga mereka bisa mengekstraksi minyak di dalam bunga mawar untuk dijadikan sebagai parfum alami tanpa kandungan alkohol.


"Belum, mas. Nanti habis makan malam, Paman sendiri yang ngomong sama Aish. Aku rasa dia pasti tidak keberatan pulang ke rumah. Karena dia tidak punya rumah selain rumah kita dan keluarga Ayahnya juga memiliki masalah di dalam karakter mereka, jadi membiarkan Aish pulang ke bukan pilihan yang baik." Kata bibi Rumi sambil tersenyum.


Sang suami terdiam. Melihat istrinya yang tengah tersenyum, ragu, dia kemudian bertanya,"Lalu, bagaimana dengan habib Thalib? Sekarang keponakan kita tahu jika dia telah memiliki suami. Dan sewajarnya pasangan suami istri tidak berpisah, apalagi saat ini mereka sedang dilanda kasmaran."

__ADS_1


Bibi Rumi tak menganggap pusing kekhawatiran suaminya.


"Kalau habib Thalib mau, dia bisa ikut bersama kita ke rumah. Untuk sekarang, tak mungkin dia membawa Aish ke keluarganya. Mas tahu sendiri'kan kalau keluarga habib Thalib semuanya hampir menetap di Qatar, Mesir dan Yaman. Mereka berpencar di beberapa negara. Butuh banyak perjalanan dan kesiapan menuju ke sana. Mereka mungkin tidak pergi ke sana secepat itu." Ketika mengungkit masalah tempat tinggal pasangan baru itu, hati bibi Rumi dilanda dilema.


Ikut senang melihat keponakannya memiliki orang yang akan selalu menjaganya dengan sepenuh hati, tapi pada saat yang sama dia tidak rela melepaskan Aish begitu saja. Dia sangat berharap Aish menetap di Indonesia, di rumah bersama keluarga yang lain untuk menebus tahun-tahun penuh kerinduan.


"Okay, jangan terlalu dipikirkan. Aku akan berbicara kepada habib Thalib tentang masalah tempat tinggal mereka. Selain itu ada Paman. Habib Thalib pasti akan mendengarkan nasihat Paman dan mempertimbangkannya. Jadi kamu jangan khawatir."

__ADS_1


Bibi Rumi akhirnya diyakinkan oleh sang suami. Hatinya kembali terasa ringan. Dengan senyuman cerah di wajah, dia kembali fokus merangkai bunga mawar kering dan menyusunnya secantik mungkin sembari memastikan wanginya memanjakan indra penciuman.


"Aish pasti akan menyukainya, mas. Soalnya kak Arumi dulu juga suka dengan bunga mawar kering yang aku rangkai. Katanya cantik."


Sang suami tersenyum lembut, dia mengusap puncak kepala istrinya penuh kasih. Arumi dan Rumi memiliki jarak usia yang lumayan jauh. Dan mungkin karena jarak ini, mereka sangat lengket dan tak terpisahkan selama tahun-tahun bersama.


"Em, dia pasti sangat senang."

__ADS_1


__ADS_2