
Semuanya terjadi begitu tiba-tiba, tidak ada yang pernah menyangka bencana ini akan datang ke rumah mereka. Perusahaan yang selama ini berjalan dengan kokoh dan baik-baik saja tiba-tiba runtuh hanya dalam semalam. Siapa yang akan merasa baik-baik saja setelah melihat semua ini?
Tidak, hati semua orang dipenuhi perasaan cemas.
"Ya Allah, Bunda... Apa yang sedang terjadi dengan perusahaan kita? Mengapa mereka tiba-tiba memutuskan hubungan kerjasama dengan kita? Perusahaan kita.... Selama ini selalu baik-baik aja kan? Ayah juga tidak pernah cuti dan selalu hadir tepat waktu di sana, jadi bagaimana mungkin kita..." Aira tak mampu melanjutkan kata-katanya lagi.
Perusahaan itu adalah tulang punggung mereka, sumber keuangan mereka. Jika perusahaan itu runtuh maka ke mana mereka harus mencari nafkah?
Apakah mereka harus mengulang dari nol? Biaya yang dibutuhkan jauh lebih besar dan tidak langsung menjadi sukses hanya karena mereka mengulang kembali. Lalu apa yang harus mereka lakukan untuk menyelamatkannya?
Tentu saja berusaha mencari dana keuangan?
Di mana?
Di manapun dan kemanapun, tidak ada yang peduli selama semuanya bisa dibayarkan.
"Ini ujian, Nak. Sudah...jangan terlalu kepikiran. Ini adalah urusan para orang tua. Sedangkan kamu masih anak kecil dan harus fokus belajar. Bunda yakin perusahaan kita pasti baik-baik aja jadi kamu tidak perlu khawatir." Bunda menyesal menceritakan masalah ini kepada putrinya.
Sekarang putrinya jadi kepikiran.
"Aira tahu Bunda. Soal dana... Mengapa kita tidak meminjam dulu dari kak Aish? Dia punya banyak uang yang masih belum tersentuh." Aira tiba-tiba teringat dengan segunung tabungan Aish yang masih belum terpakai.
Karena dia tidak bisa mendapatkannya maka korbankan saja uang itu untuk keluarga. Toh Aish juga berasal dari keluarga yang sama dan harus ikut membantu untuk menyelamatkan keluarga mereka.
"Jangan pikirkan tentang itu. Paman dan Bibimu serta Nenek pernah mengangkat topik ini. Tapi langsung ditolak oleh Ayah dan Kakek. Mereka tidak mengizinkan kita menggunakan uang itu. Dan jika kita nekat menggunakannya, maka keluarga dari pihak Mama Aish akan turun tangan. Ini adalah uang dari keluarga mereka jadi kita tidak bisa menyentuhnya. Lupakan masalah uang ini, Nak. Kita masih bisa meminjam kepada orang lain." Bunda sangat menyayangkannya dan berharap menggunakan uang itu juga untuk menyelamatkan perekonomian keluarga.
Tapi Ayah dan Kakek tidak setuju, jika mereka nekat maka pihak keluarga dari Mama Aish juga akan turun tangan.
"Aira mengerti. Aku hanya memberikan solusi saja. Karena tidak bisa membantu maka Aira hanya bisa berdoa dari sini." Kata Aira muram.
__ADS_1
Sungguh menjengkelkan pikirnya. Keluarga Mama Aish bagaikan parasit yang mengganggu. Jika tidak ada mereka maka keluarga pasti baik-baik saja sekarang.
Setelah berbicara sebentar dengan Bunda, Aira diminta untuk menutup telepon karena waktu sudah habis.
Menghela nafas berat, Aira keluar dari bilik telepon dan berjalan pulang menuju asramanya. Untung saja hari ini hari minggu, selain dari kegiatan keagamaan mereka tidak punya aktivitas apa-apa dan boleh beristirahat.
Jadi Aira menghabiskan waktunya untuk tidur, menebus waktu-waktu tidurnya yang dikorbankan untuk bangun shalat malam.
...*****...
Aish meregangkan badannya yang pegal karena terlalu asik belajar mengulas kembali ujian hari ini. Hari ini tepat sebulan setelah habib Khalid pergi ke luar kota. Sampai dengan hari ini belum ada kabar darinya. Bohong bila Aish tidak merasa cemas. Dia sungguh sangat merindukan sang habib dan pada saat yang sama sangat marah karena sang habib mengingkari janjinya. Katanya akan pulang 2 minggu lagi, tapi sudah sebulan berlalu dan belum ada kabar juga. Semua ujian di pondok pesantren bahkan dilalui tanpa melihat sosoknya sekalipun. Aish kecewa. Nama meskipun kecewa dia tidak pernah menghentikan kegiatan belajarnya. Ada suara di dalam hati yang selalu mengatakan bahwa sang habib akan segera pulang dan dia harus bersabar.
"Kalian mau ke mana?" Aish tercengang kaget melihat teman-teman kamar mulai mengemasi barang-barang mereka.
"Kita mau pulang Aish. Ini kan hari terakhir kita ujian dan setelah ini kita tidak punya kegiatan apapun lagi di pondok pesantren. Jadi pondok pesantren mengizinkan kami pulang selama seminggu sambil menunggu nilai ujian akhir kita keluar." Siti menjawab dengan senyum sumringah di wajahnya.
"Pulang?" Aish baru mendengar kabar ini sekarang.
"Kamu nggak tahu ya? Nggak heran sih soalnya waktu-waktu ini kamu terlalu fokus belajar dan terkadang kamu melupakan waktu karena terlalu asik belajar." Siti sangat kagum dengan perubahan teman sekamar ini.
Entah apa yang membuat Aish sangat termotivasi untuk belajar, tapi perubahannya sangat jelas. Dan yang paling mengagetkan adalah Aish ternyata sangat mudah belajar. Dia tidak terlalu sulit memahami sesuatu dan membuat para guru menyukainya. Ternyata rendahnya nilai Aish di sekolah dulu bukan karena Aish bodoh tapi karena dia malas belajar. Lihat saja saat ini, di rajin belajar dan nilainya pun tumbuh pesat. Bahkan teman-teman di kelas curiga jika Aish bisa masuk 10 besar ujian ini.
"Ah..." Aish menggaruk kepalanya malu.
"Apakah kita harus pulang?" Dia tidak mau pulang karena dia tidak memiliki tempat di rumah itu.
"Kalau kamu tidak mau pulang tidak apa-apa. Pondok pesantren tidak mewajibkan. Dan banyak kok santri dan santriwati yang memilih tinggal di pondok pesantren sampai hasil nilai keluar, jadi pondok pesantren tidak pernah sepi."
Aish langsung lega mendengarnya.
__ADS_1
"Oh, kalau begitu aku tidak akan pulang. Ngomong-ngomong di mana Gisel dan Dira?" Dia yakin mereka tidak akan.
"Mereka berdua lagi di kantin. Katanya mau belanja beli gorengan untuk memuaskan dahaga mereka gara-gara ujian." Siti tersenyum geli.
"Anak itu!"
Setelah mengucapkan beberapa kata dengan Siti, dia lalu menutup bukunya dan keluar mencari keberadaan mereka berdua.
Untungnya kantin asrama masih buka dan ini adalah hari terakhir dibuka karena kantin ini hanya dibuka saat pondok pesantren mengadakan ujian. Jujur saja makanan di kantin asrama jauh lebih baik daripada makanan di kantin pondok pesantren yang selalu buka setiap hari. Selain itu kantin asrama tidak membatasi pembelian dan sangat dekat jadi selama ujian para santriwati jarang ke kantin pondok pesantren untuk belanja.
"Aish kamu di sini!" Dari jauh Dira dan Gisel berlari kencang.
Jilbab mereka sampai miring gara-gara berlari.
"Kalian kenapa?" Tanya Aish lucu seraya mengulurkan tangannya memperbaiki jilbab kedua sahabatnya.
"Aish ada kabar penting!" Kata Dira ngos-ngosan.
"Kabar apa?" Tanya Aish tidak terlalu tertarik.
"Habib Thalib sudah pulang!" Kata Gisel membawa kabar gembira.
Namun sebelum Aish benar-benar gembira, Dira langsung menjatuhkan bom kepada Aish.
"Tapi pulang sama wanita lain! Katanya dia adalah calon istri habib Thalib!"
Sret
Hati Aish berdenyut sakit.
__ADS_1