
Malam harinya Aish duduk tafakur menghadap kiblat ditemani oleh kesunyian malam yang tak berujung. Dirinya termenung, memikirkan permintaan Ayah hari ini.
"Ayah berharap dapat menjadi walimu di hari pernikahan. Tolong izinkan Ayah menjadi gerbang pembatas antara kamu dan habib Thalib, menjadi jembatan yang harus habib Thalib lewati untuk mengesahkan kamu menjadi miliknya. Aisha putriku, Ayah tahu betapa berdosanya Ayah kepadamu selama ini. Ayah tahu betapa kejamnya apa yang telah Ayah lakukan kepadamu, Ayah menyadari betul betapa salahnya Ayah. Sesungguhnya Ayah tidak memiliki wajah untuk bertemu dengan kamu atau pun berbicara lagi setelah semua penderitaan yang kamu rasakan. Ayah harusnya tidak memiliki wajah, tapi anakku, hati ini tak mampu menanggung semua ini. Ayah...merasa bersalah karena itulah Ayah memohon kepadamu agar diberikan kesempatan, tolong berikan Ayah kesempatan untuk memenuhi kewajiban Ayah sebagai Ayah kamu. Tolong izinkan Ayah menjadi wali kamu, Nak... Ayah, mohon..." Suara Ayah lirih dengan nada memohon.
Saat itu, Aish tidak banyak bereaksi karena sejujurnya dia tidak pernah membayangkan suatu hari Ayah akan datang memohon kepadanya. Sungguh, hatinya bagai diremas oleh tangan tak kasat mata. Menggali titik paling rapuh di dalam hati hingga membuatnya tak bisa mengeluarkan air mata saking sakitnya.
"Ya Allah... apa yang harus aku lakukan? Ayah ku adalah cinta pertama ku di dunia ini sekecewa apapun luka yang ditorehkan kepadaku. Pantaskah aku menolak permohonan Ayah ku, wahai Allah?" Bohong bila hatinya tidak terguncang.
Tidak, bahkan dia sangat terguncang. Dia malah berharap bahwa Ayah yang akan menjadi walinya. Biar Ayah tahu dan melihat dengan kedua mata kepalanya sendiri bahwa dia akhirnya menemukan kebahagiaannya. Bahwa dia tidak akan kesepian dan menangis sendirian lagi. Dia seegois ini, tapi setelah sampai di titik ini, hatinya menciut tak berani memiliki ambisi sekejam itu kepada Ayahnya.
Terd...
Aish terbangun dari kesedihannya. Dia melirik ponsel di atas karpet. Ini adalah ponselnya. Bibi Rumi awalnya menahan ponsel ini agar dia tidak bisa saling menghubungi dengan habib Thalib. Tapi karena situasi canggung yang ditinggalkan oleh Ayah, bibi Rumi mengembalikan ponsel Aish dan memintanya untuk membicarakan masalah ini dengan habib Thalib. Sesungguhnya orang-orang di rumah ini tidak keberatan dengan permohonan Ayah sekalipun mereka tidak menyukai Ayah.
__ADS_1
Namun mereka adalah pihak wanita, mereka tak berhak mencampuri urusan pihak laki-laki, dalam artian dari pihak Ayah.
"Hallo, assalamualaikum, kak?" Yang menelpon adalah habib Khalid.
Orang yang akan dihubungi oleh Aish.
"Waalaikumussalam."
Diam. Habib Khalid tak bersuara lagi. Bahkan Aish tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Aish tersenyum malu.
"Kak Khalid sudah mendengarnya. Aish tak punya apa-apa lagi untuk dikatakan." Kata Aish galau.
__ADS_1
Di seberang sana habib Khalid tertawa kecil. Suaranya yang renyah dan candu segera membuat pipi Aish menghangat. Um, tawanya seolah memberikan ilusi bila sang habib ada di sini bersamanya. Lebih tepatnya Aish merasa bila habib Khalid tertawa tepat di samping telinganya.
"Jadi, apa jawaban kamu untuk masalah ini, sudah kamu membuat keputusan?" Tanya sang habib to the point.
Mata Aish kembali memerah.
"Aku tidak tahu..." Kata Aish bingung.
Satu sisi dia sangat berharap bila Ayah menjadi saksi hari bahagianya, tapi di satu sisi dia berharap Kakek juga menjadi saksi untuknya. Dia terjebak dalam dilema.
"Buatlah keputusan dari suara terdalam di hati kamu. Suara yang paling mendominasi pikiran kamu. Tapi ingatlah satu hal, istriku, Kakek pasti bangga dapat melihat kamu menjadi wanita dewasa. Dia bahkan akan mendukung keputusan yang kamu buat.." Kata sang habib dengan makna tertentu.
Aish termenung.
__ADS_1
"Berpikir secara dewasa..."