
"Habib Thalib sudah lama tidak pulang ke pondok pesantren, aku... Aku sudah lama merindukan habib. Saat habib Thalib pergi aku membuat proposal dan mengirimnya ke kantor habib. Apakah habib Thalib sudah membaca proposal ku? Lalu... Bagaimana tanggapan habib Thalib tentang proposal yang kukirim?" Malu bercampur gugup, dia memberanikan diri bertanya mengenai proposalnya.
Dasarnya sudah beberapa hari sejak habib Khalid pulang ke pondok pesantren tapi masih belum ada kabar balasan sedikitpun dari sang habib. Padahal dia sangat penasaran bagaimana reaksi sang habib. Apakah sang habib tertarik atau dia masih memiliki kekurangan dan kelebihan yang belum ditulis di proposal. Jika masih kurang pastinya dia tidak akan masalah untuk membuat proposal yang baru. Dan jika sang habib sudah merasa cukup dan tertarik dengan proposal itu, maka mereka bisa bertemu dan membicarakan langkah serius selanjutnya.
"Oh, maaf aku tidak tahu bahwa kamu mengirim proposal." Kata-kata habib Khalid langsung membuyarkan khayalan tingginya.
Aira tersenyum tipis,"Tidak apa-apa, habib. Aku masih bisa menunggu lebih lama-"
"Karena semua proposal yang masuk ke kantor ku telah kukirim ke kertas bekas untuk di daur ulang kembali." Potong sang habib acuh tak acuh.
Senyuman Aira membeku. Perlahan, rona merah di wajahnya menguap entah ke mana hingga menyisakan warna pucat pasi bagaikan pasien yang kekurangan darah.
"Habib Thalib... kenapa? Apakah aku harus mengirim proposal ulang lagi?" Aira memaksakan senyumnya.
"Tidak perlu. Aku tidak membutuhkannya. Bahkan jika kamu mengirim 10 kali pun, aku tetap tidak akan membutuhkannya. Hasil akhirnya akan tetap sama, semua kertas-kertas yang tidak berguna akan dikirim ke pabrik kertas bekas untuk didaur ulang kembali. Lalu uangnya akan diberikan kepada pondok pesantren agar bisa dimanfaatkan." Saat mengucapkan kata-kata ini, Aira bertanya-tanya apakah habib Khalid memiliki hati nurani?
__ADS_1
Mengapa habib Khalid bisa tersenyum saat bersama dengan Aish, tapi mengapa tidak dengan dirinya?
Dan dia cemburu mengapa sama habib bisa tertawa dan menetap Aish tanpa canggung sedangkan dirinya hanya dilirik sedetik, lalu berpaling berpura-pura melihat arah lain.
Mengapa sang habib memberikan perhatian yang berbeda kepada mereka berdua?
Memang apa kekurangannya?
Dia jauh lebih baik, lebih pintar, lebih berprestasi daripada Aish. Tapi kenapa Aish diperlakukan jauh lebih baik dibandingkan dirinya oleh sang habib?
Saat ini sakit yang Aira rasakan di hati sungguh tak terkira. Dia belum pernah diabaikan siapapun saat tinggal di kota. Tapi di sini, hanya karena Aish, orang-orang tidak terlalu menghargainya.
"Kenapa habib tidak mau membaca proposal ku? Apakah kak Aish pernah mengatakan sesuatu yang buruk tentang diriku kepada habib? Tolong jangan percayai apa yang dia katakan. Dia bohong habib. Aku tidak pernah mengganggunya dan berbuat buruk kepadanya. Malah justru sebaliknya. Dialah yang selalu menggangguku dulu. Dan dialah yang selalu membuat masalah kepadaku. Jika habib tidak percaya, tolong telepon kedua orang tuaku. Mereka pasti mengatakan yang sebenarnya bahwa kak Aish lah yang selalu mengambil tindakan buruk kepadaku." Aira buru-buru menjelaskan kepada habib bahwa apa yang dikatakan Aish tentangnya tidaklah benar.
Justru Aish yang suka mengganggunya saat masih tinggal di kota. Dia mengatakan apa yang dia bisa katakan sambil berharap sang habib mempercayainya. Tapi sayang sekali, habib Ali bukan orang bodoh. Dia jelas sangat tahu bila kekasihnya lah yang sering diinjak-injak di rumah itu. Logika saja, seorang anak yang diasingkan di sebuah keluarga takkan pernah memiliki kekuatan untuk melawan apalagi melakukan penindasan.
__ADS_1
Kalaupun bisa, itu adalah bentuk perlawanan atas semua penderitaan yang dilalui oleh korban ketidakadilan.
"Jangan asal bicara. Dia tidak pernah mengatakan hal-hal buruk tentang kamu. Dan penolakanku terhadap kamu murni dari diriku sendiri. Dia tidak ada sangkut pautnya dalam masalah ini. Lagi pula kenapa aku harus menerima proposal kamu?" Mata gelapnya melirik ke arah Aira, dingin dengan rasa ketidakpedulian yang tak tersamarkan. Kesan hangat dan ramah yang selalu melekat pada dirinya, pada saat ini hilang entah kemana digantikan oleh mata dingin itu, lalu dia melanjutkan perkataannya,"Apakah kamu...layak untukku?"
Bom
Apakah dia layak untuk seorang habib?
Untuk sesaat Aira tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya. Tenggorokannya tercekat, tak mampu mengeluarkan suara. Dan hatinya... hati yang baru saja melambungkan harapan tinggi dalam waktu yang sangat singkat hancur meninggalkan rasa sakit yang terus-menerus berdenyut setiap kali dia bernafas. Sakit, hatinya sangat sakit, pertanyaan sang habib tepat mengenai jantungnya. Sebuah pertanyaan yang singkat namun memiliki bobot yang sungguh sangat berat. Selama ini dia selalu berpikir bahwa dirinya cukup untuk sang habib. Dirinya selalu menganggap dirinya spesial dan layak untuk seorang habib. Tapi mendengar pertanyaan singkat dari sang habib tadi, dia tiba-tiba kehilangan kepercayaan diri.
Apakah di serendah itu?
Bagaimana mungkin Aish jauh lebih baik daripada dirinya?
"Kenapa... Kenapa aku tidak layak untuk mu, habib?"
__ADS_1