
Dini harinya dia terbangun karena jam biologis. Redup, hanya lampu tidur yang menyala di dalam kamar. Dia terjaga dalam keadaan linglung, melihat sekeliling kamar dengan mata antisipasi. Kelopak bunga mawar merah terberai di mana-mana, kacau balau tak beraturan dengan wangi yang tak terlukiskan. Ah, terkejut. Dia sontak menoleh ke samping kirinya. Ketika melihat sosok lembut nan menangis kini tengah tertidur lelap di dalam pelukan, barulah dirinya merasa tenang. Menghela nafas lembut, dengan gerakan hati-hati dia mengusap puncak kepala sang istri. Menyingkirkan helaian rambut panjang yang menutupi sebagian wajah istrinya. Begitu wajah istrinya tersingkap, hatinya sekali lagi dibuat meleleh melihat betapa cantik dan mempesona istrinya. Sudah beberapa jam berlalu namun warna merah itu masih belum surut dari wajah cantik istrinya. Belum lagi air mata yang masih belum mengering, semua ini mengingatkan dirinya pada malam manis yang telah mereka lalui. Hatinya melunak saat memikirkan bahwa istrinya sering sekali menangis tadi malam. Dirinya pun tak kuasa melihat istrinya terus menangis, namun keserakahan di dalam hati menolak untuk mendengarkan permohonan istrinya. Aneh saja, diri ini bukannya berhenti tapi malah semakin menggebu. Suara tangisan juga permohonan istrinya bagaikan rayuan fatal yang sangat sulit untuk dirinya hadapi. Yah, ini adalah pertama kali untuk mereka berdua. Pertama untuk satu sama lain, kebahagiaan di dalam hati sungguh tak bisa dicurahkan dengan kata-kata karena dia sangat bahagia.
Pernah sekali dia sangat cemburu kepada istrinya. Suatu hari dia mendengar pertengkaran istrinya dengan kedua sahabatnya di pondok pesantren, tepatnya di sawah. Saat itu istrinya baru pindah ke pondok pesantren. Tak nyaman tinggal di pondok pesantren, istrinya gatal ingin melarikan diri hingga membuat Abah datang mengeluh kepadanya. Jangankan Abah, dia saja, sang Habib, suami yang diam-diam mengejar istrinya, sebut saja Aish, saat itu sangat pusing bagaimana menghadapi Aish.
Pasalnya waktu itu Aish masih belum jatuh cinta kepadanya dan habib Khalid juga ragu dapat mempengaruhi Aish agar tetap tinggal di pondok pesantren.
Kebetulan sekali hari itu dia sedang mengecek tembok pondok. Rencananya dia ingin membuat tembok pondok pesantren semakin tinggi agar Aish tidak memiliki peluang untuk melarikan diri dari pondok pesantren. Namun di tengah-tengah perencanaan, tiba-tiba dia mendengar suara pertengkaran. Jika tidak mendengar suara Aish, dia tidak perlu turun tangan dalam masalah ini dan menyerahkan kepada bawahannya. Tapi dia mendengar suara Aish yang langsung membuat dirinya sangat panik. Buru-buru dia datang, dan tepat sekali. Apa yang didengar dari pertengkaran mereka?
Coba tebak, mereka mengungkit nama seorang anak laki-laki bernama Iyon. Atau sebut saja mantan pacar Aish. Bohong bila dia tidak marah saat itu. Dia sangat marah hingga sangat sulit membentuk senyuman di wajah. Padahal senyuman merupakan rutinitas yang selalu dia lakukan ketika bertemu dengan orang, entah dikenal ataupun tidak. Tapi hari itu, dia tiba-tiba bingung bagaimana caranya tersenyum di saat hatinya sangat sakit mendengar bahwa istri yang dia kejar ternyata memiliki laki-laki lain di dalam hatinya.
Marah sungguh marah. Itulah alasan kenapa dia begitu tega menghukum Aish bersama kedua sahabatnya masuk ke dalam sawah berlumpur. Saat mereka gagal menyelesaikan hukuman itu, dia tidak mau melunakkan hatinya dan memberi hukuman lain yang lebih berat lagi. Dia tahu bahwa Aish dan kedua sahabatnya adalah anak kota yang manja, mereka tidak terbiasa bekerja keras. Oleh sebab itu dia melempar mereka bertiga untuk membersihkan kamar mandi asrama putri. Akan tetapi ketika masalah itu terjadi, istrinya ditindas oleh orang lain tepat di dalam wilayahnya, jujur dia sangat menyesali apa yang telah dia lakukan. Hatinya sungguh semakin sakit ketika melihat darah menetes dari salah satu jari istrinya yang terluka. Hari itu bila dia tidak menahan diri, mungkin dia akan bergegas memeluk Aish dan memohon maaf kepadanya.
Tapi dia berhasil menahan diri dan memberikan hukuman kepada pelaku yang telah menindas istrinya, tentu saja harus menggunakan hukuman pondok pesantren.
Itu sudah berlalu, beberapa bulan lamanya tapi masih membekas di dalam hati. Dia pernah berpikir bahwa kehidupan di kota membuat istrinya mungkin menjadi gadis yang agak 'nakal'. Dan dia siap menerima konsekuensi itu sebab itu adalah pilihannya sendiri. Tapi apa yang dia temukan semalam?
Istrinya ternyata masih polos dan sangat murni. Selama ini Aish selalu menjaga dirinya, sungguh itu merupakan kabar gembira untuk semua penantian yang telah dia lakukan untuk mengejar Aish.
"Mas?" Tanpa sadar Aish terbangun.
Tapi dia masih mengantuk. Dia enggan bangun.
"Hem... tidurlah, aku di sini." Bisiknya lembut penuh kasih.
Padahal sekarang sudah hampir jam 04.00 pagi. Sudah waktunya untuk mendirikan salat malam. Namun sang Habib berpikir bahwa malam ini dia absen saja karena istrinya sangat kelelahan setelah sekian lama bekerja keras. Sang Habib juga berpikir bahwa dirinya berharap melaksanakan salat malam bersama istrinya, karena itulah dia memutuskan untuk menunda malam ini dan datang dalam keadaan siap di malam selanjutnya.
"Jam berapa sekarang, mas?" Aish biasa bangun untuk sholat malam.
Tapi ugh, badannya pegal-pegal. Terutama bagian pinggangnya, setiap kali mengingat kejadian semalam dia ingin sekali mencubit pipi suaminya.
__ADS_1
"Sebentar lagi jam 04.00. Kamu jangan banyak berpikir, tidur saja malam ini dan kita akan melaksanakan salat malam bersama-sama di malam selanjutnya."
Aish menganggukkan kepalanya lemah mulai jatuh tertidur kembali.
Sebelum tidur dia tidak lupa memarahi suaminya,"Mas Khalid sih... pinggang aku kan jadi sakit..." Keluhnya kepada sang suami.
Mendengar keluhan sang istri, habib Khalid lantas tertawa.
"Maaf..maaf, aku minta maaf. Tidurlah, aku akan memijat pinggang kamu." Tapi dia tidak berjanji untuk menahan diri di malam-malam selanjutnya.
Salahkan istrinya yang terlalu...um, terlalu sulit untuk diabaikan.
Tidak ada tanggapan lagi. Aish sudah jatuh ke dalam mimpi. Sementara suaminya masih tenggelam dalam kebahagiaan yang belum surut. Tanpa menunggu istrinya mengeluh lagi, dia dengan hati-hati memijat pinggang istrinya. Menekan tempat-tempat nyaman sehingga istrinya melenguh rileks di dalam tidurnya.
"Mimpi indah istriku." Bisik habib Khalid sembari mengecup puncak kepala istrinya.
...*****...
Mengganggu tidur ternyaman yang pernah aku rasakan, tapi sayang sekali aku tidak bisa marah karena pemilik suara tersebut merupakan pemilik hatiku.
Samar, mataku melihat bayangan seseorang tepat di atasku. Anehnya, wajah laki-laki itu sangat familiar. Em, dia mirip sekali dengan wajah kak Khalid- eh, inikan wajah suamiku!
Aku langsung terjaga dari tidurku. Melihat shock wajah tampan suamiku yang kini sudah berpakaian rapi dengan tampilan menyegarkan. Barulah aku ingat bahwa kami sudah menikah kemarin dan menyempurnakan pernikahan tadi malam. Lalu memori semalam tanpa bisa ku tahan berputar bebas di dalam kepalaku. Ah, sangat memalukan. Wajahku langsung panas ketika melihat apa yang telah kami lakukan semalam.
"Kenapa sayang, wajah kamu kok tiba-tiba merah?" Mas Khalid menempel punggung tangannya di atas keningku.
"Tidak panas, kok." Wajahnya kebingungan.
Aku tidak tahu apakah mas Khalid sedang serius atau sedang bercanda, karena wajah tampannya yang sedang kebingungan terlihat begitu imut. Ya Allah, mau berapa kali pun diri ini memandang, aku tidak bisa memalingkan wajahku dan aku sungguh tidak ada bosan-bosannya melihat betapa indahnya suamiku.
__ADS_1
Mungkin inikah yang dinamakan manisnya pernikahan?
Jika benar begitu, maka beruntunglah bagi pasangan-pasangan yang menikah. Karena hari-hari yang akan mereka lalui dipenuhi oleh berbagai macam rasa, namun rasa yang paling menonjol tentu saja sebuah kebahagiaan.
"Apa yang sedang kamu pikirkan, sayang?" Suara mas Khalid begitu lembut di dalam pendengaranku.
Hatiku kian terbuai olehnya.
"Aku nggak apa-apa kok, mas. Aku juga nggak lagi mikirin apa-apa. Um...yah, nggak boleh bohong sama mas Khalid. Jadi aku jujur aja kalau tadi sempat mikirin tentang pernikahan kita kemarin. Masih nggak nyangka kalau aku akhirnya menjadi istri mas Khalid. Aku senang.... banget, mas."
Yah kecuali bagian-bagian tubuhku yang pegal-pegal, aku sangat bahagia untuk semuanya. Seperti yang aku bilang tadi, masih nggak nyangka karena akhirnya menikah dengan laki-laki yang sangat aku cintai.
Mas Khalid mencubit puncak hidungku. Senyumnya hari ini begitu manis, um, setiap kali melihat senyum mas Khalid, jantungku pasti berdegup kencang dan tiba-tiba aku menjadi salah tingkah, sejenak aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan di depan mas Khalid.
"Sama seperti kamu, aku juga nggak nyangka kalau kita pada akhirnya bersama. Karena waktu yang aku habiskan untuk mengejar dirimu... Aku selalu bermimpi untuk memiliki hari ini. Tapi ketika hari ini benar-benar datang, aku sangat bingung dan bertanya-tanya mungkinkah ini nyata atau hanya mimpiku saja seperti malam-malam yang lain. Barulah ketika aku merasakan suhu tubuhmu yang hangat memeluk diriku, aku akhirnya benar-benar yakin bahwa kamu menjadi milikku seutuhnya." Suara mas Khalid serak dan berat, lagi-lagi mengingatkan aku pada apa yang kami lakukan semalam.
Duh, Aish! Kenapa kamu jadi seperti ini?
Dikit-dikit ingat semalam, dikit-dikit salah tingkah, dikit-dikit malu!
Aku tahu betapa konyolnya aku sekarang. Tapi aku sama sekali tidak bisa mengendalikan reaksi tubuhku. Rasanya sungguh tak bisa digambarkan dengan kata-kata!
Tapi, ugh, bagaimana ini. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi karena aku sangat malu sekarang. Oh, suara azan subuh!
"Mas Khalid sudah azan subuh, ya?" Aku mengubah topik pembicaraan.
Dia tiba-tiba tertawa. Mungkin tahu apa isi pikiranku.
"Yah, sudah azan subuh. Makanya aku membangunkan kamu. Kita akan shalat subuh bersama-sama di sini."
__ADS_1
Aku sangat bersemangat mendengarnya. Kami akhirnya sholat berdua lagi. Eh, tapi bukankah laki-laki lebih baik shalat di masjid saja?