
Tubuh ringkih kakek berjalan perlahan ke arah mereka. Kakek tidak sengaja mendengar pembicaraan antara istri dan putrinya yang berencana ingin meminjam uang tabungan yang telah menantunya siapkan dulu. Kakek tidak bisa mempercayai sejak pertama kali mendengar ucapan bibi sebab dia tahu betul seperti apa tabiat putrinya itu. Apakah Aish adalah anak yang telah lama tidak disukainya, kakek yakin putrinya tidak akan mengembalikan uang Aish jika sampai dipinjam. Bahkan jika dikembalikan, kakek juga yakin jika putrinya akan mempersulit Aish atau mungkin menolak untuk langsung membayarnya.
Kakek tahu dan ingin menghindari masalah ini. Karena jika tidak, Aish mungkin akan semakin tidak puas dengan keluarga ini.
"Ayah." Bibi merenggut takut melihat kakek.
Kakek tidak akan mengijinkannya mengambil uang Aish.
Kakek menatap bibi dan nenek tenang. Mata tuanya yang berkabut masih bisa bersinar tajam di usianya yang sudah rentan. Membuat bibi dan nenek malu pada saat yang sama.
"Aku tidak akan pernah mengijinkan kamu mengambil uang tabungan Aish." Kata kakek tegas.
Bibi membantah,"Ayah, kami tidak mengambil uang tabungan itu tapi kami ingin meminjamnya saja."
Bibi membenarkan ucapan kakek.
Kakek mendengus. Bagaimana mungkin dia tidak tahu apa maksud licik putrinya?
"Diam. Apa kamu pikir aku tidak tahu orang yang seperti apa kamu? Sungguh serakah! Itu adalah uang yang ditabungkan Mamanya untuk masa depan Aish. Kamu tahu kenapa dia melakukan itu?" Kakek bertanya tajam kepada bibi.
Bibi tidak menjawab pertanyaan kakek. Pertanyaan kakek tidak perlu dijawab, bahkan bila dia menjawab pun kakek tidak akan mendengarnya jadi lebih baik diam saja meskipun rasanya tidak enak ditegur di depan keponakannya.
"Itu karena Mamanya tahu keluarga ini tidak akan memberikan perlindungan kepada putrinya. Dia tahu kalian tidak akan memperlakukan Aish dengan baik oleh sebab itu Mamanya menyiapkan tabungan untuk masa depan Aish. Dan sekarang kamu dengan beraninya ingin meminjam uang yang telah susah payah dia tabungkan untuk Aish? Ketahuilah putriku bahwa Mamanya tidak akan pernah merelakan uang itu sampai jatuh ke tangan keluarga ini. Dia mengharamkan kalian menyentuh uang putrinya! Maka tidakkah kamu mengerti ini? Sejak kamu mendukung pengkhianatan kakakmu, maka sejak itu pula Mamanya telah mengharamkan kamu atas segala sesuatu yang dia tinggalkan kepada Aish."
Tidak ada satupun yang bisa menyentuhnya, tidak ada. Pemikiran menantunya pada saat itu sudah sangat jauh ke depan. Dia telah menduga putrinya akan kekurangan kasih sayang, di samping kan semua orang, dan diperlakukan jauh lebih buruk dari putri kedua Ayah. Mama Aish sudah menduganya.
Oleh sebab itu saat Mama Aish masih bisa berpikir jernih, dia segera menjual semua aset-asetnya dan menyiapkan sejumlah tabungan untuk Aish. Untuk masa depan Aish yang tumbuh besar tanpa sempat dia lihat.
__ADS_1
Wajah bibi langsung memucat. Tidak cuma bibi yang tidak nyaman dengan ucapan kakek, namun semua orang yang ada di sini juga merasa tidak nyaman. Pengkhianatan masa lalu, ini adalah jurang luka yang selama ini disepelekan keluarga. Padahal Aish tidak pernah baik-baik saja ketika mengetahui pengkhianatan yang keluarga Ayahnya lakukan kepada Mamanya.
Aish merasa sakit namun sayangnya tak mampu membenci sebab ini adalah keluarganya juga.
"Ayah, aku pasti akan mengembalikannya..." Kata bibi lemah.
Kakek mendengus dan hanya memasukkan kata-kata putrinya ke telinga kiri dan keluar dari telinga kanan.
"Jangan coba-coba, kamu tidak bisa mengusik hidup Aish lagi karena dia sudah tidak sendiri. Jika kamu sampai berani mengusiknya, percayalah orang itu akan sangat marah. Sudah cukup selama ini Aish menderita di rumah ini...." Sekarang dia telah kembali ke tempat yang semestinya, maka...
"Kamu tidak bisa mengganggunya lagi."
Kakek menutup matanya lelah. Dia baru berbicara sebentar saja namun emosinya seolah telah terkuras habis.
"Uhuk..." Kakek sontak mengangkat tangannya dan memegang dadanya.
"Apa kakek baik-baik saja?" Entah sejak kapan Aira berdiri di samping kakek.
Kakek membuka matanya yang berkabut dan baru menyadari semua orang telah mengelilinginya.
Wajah mereka sanga cemas. Mereka mengkhawatirkan kondisi kakek yang sudah fit lagi semenjak beberapa minggu ini. Mungkin... lebih tepatnya kakek sudah seperti ini sejak Aish meninggalkan rumah ini.
"Aku tidak apa-apa.." Jawab kakek lemah.
"Ayah sepertinya sedang tidak enak badan. Lebih baik Ayah masuk ke kamar saja untuk beristirahat agar tubuh Ayah lebih nyaman." Kata bibi cemas.
Bibi merasa bersalah melihat kakek sakit gara-gara berbicara dengannya. Tadi dia mungkin marah karena menurutnya kakek terlalu mengatur, namun saat melihat ekspresi kesakitan kakek, pikiran itu segera menghilang dari kepalanya. Dia tidak memperdulikan uang lagi karena yang terpenting sekarang adalah kondisi kakek.
__ADS_1
"Yah... istirahat di kamar." Kata kakek linglung.
Takut terjadi apa-apa dengan kakek lagi, mereka langsung membawa kakek pergi tanpa menyadari tatapan linglung kakek.
Kakek mengangkat kepalanya menatap langit yang terbentang luas jauh di sana. Hatinya bergetar syahdu merindukan Sang Maha Kuasa, namun ada sedikit rasa keengganan sekaligus harapan di dalam hatinya yang tenang.
Wahai Rabb ku, bila memang sudah waktunya maka aku tidak akan bisa melarikan diri dari ketetapan-Mu. Aku sungguh tidak punya keinginan apa-apa terhadap dunia ini kecuali hari itu, ya Rabb. Hari dimana cucuku menjemput kebahagiaannya, maka izinkan aku bertemu dengan hari itu, wahai Rabb ku. Izinkan aku melihat cucu terkasihku bahagia, cucu yang telah ku besarkan melebihi putriku sendiri...aku ingin melihatnya bahagia. Wahai Rabb ku... tolong sampaikanlah...
...****...
Semua orang sempat tegang melihat situasi kakek sebelumnya. Hati mereka digantung dengan berbagai macam pikiran negatif yang membuat hati gelisah. Baru setelah dokter memastikan tidak ada yang salah dengan kakek, kecemasan mereka semua perlahan surut.
Suasana rumah kembali tenang dan santai lagi.
"Bunda, apa benar Mama kak Aish meninggalkan tabungan yang banyak?" Tanya Aira kepada Bunda.
Aira langsung penasaran seberapa banyak tabungan Aish yang menyebabkan bibi dan paman tergoda untuk meminjam. Bahkan membuat kakek sangat marah tadi.
Bunda melipat pengelap kering di tangannya dan menaruhnya di atas rak.
"Benar, Mamanya telah meninggalkan tabungan untuk masa depan kakakmu." Jawab Bunda lembut.
Berita ini sudah dia ketahui 15 tahun yang lalu dan sempat menimbulkan keributan di rumah karena uang itu tidak sedikit. Banyak keluarga yang ingin meminjamnya tapi Ayah tetap kukuh mempertahankannya karena ini adalah amanah langsung dari Mama Aish yang tidak boleh diganggu gugat.
Aira mengerjap ringan,"Seberapa banyak, Bun?
Pasti jumlahnya banyak. Kalau enggak, bibi enggak mungkin berani memikirkannya. Batin Aira menebak.
__ADS_1