
Setelah selesai sarapan dia dibawa pergi jalan-jalan ke tengah sawah. Ini di luar ekspektasinya. Dia kira akan dibawa pergi keluar pondok pesantren untuk berkeliling, tahu-tahunya dia hanya diajak berkeliling sawah. Tidak ada yang spesial dari sawah tapi momen terpentingnya adalah tangannya tidak pernah dilepaskan oleh habib Khalid kemanapun mereka melangkah. Sambil berpegangan tangan mengelilingi sawah, mereka berdua membicarakan banyak topik pembicaraan yang menarik. Jujur, Aish menikmati waktu-waktu ini.
"Ada apa, kak?" Tiba-tiba habib Khalid membawanya bersembunyi ke semak-semak.
Aish langsung gugup. Mungkinkah ada orang yang melihat mereka berdua?
Gawat jika ada sampai yang melihat. Karir habib Khalid di pondok pesantren pasti akan dipertanyakan karena dia berduaan dengan dirinya yang notabene sebagai seorang gadis atau lawan jenis. Dan ditambah habib Khalid bukanlah sembarang orang, dia merupakan seorang habib! Orang lain tidak akan menerima kalau seorang habib berduaan dengan lawan jenis apalagi sampai berpegangan tangan.
"Bukan apa-apa. Tadi aku melihat seekor ular, jadi untuk berjaga-jaga aku menarik mu ke sini."
Ular!
Mendengar kata ular dia sontak memegang lengan habib Khalid. Bola matanya berputar melihat semak-semak di depan dengan rasa was-was. Dia takut jika ular itu mengikuti mereka atau mengintai dibalik rumput, menunggu mereka berdua lengah sebelum menerkam.
Di antara sebuah hewan di muka bumi ini, hewan yang paling ditakuti dan benci adalah ular. Bentuk ular yang licin dan berlidah panjang membuat Aish mengerut jijik. Belum lagi membicarakan bisa racunnya yang rata-rata belum memiliki penawar, ketidaksukaannya terhadap hewan ini semakin besar. Menurutnya ular adalah hewan bencana yang harus segera dilenyapkan.
"Jangan khawatir. Ularnya sudah pergi. Ular memang berbahaya tapi bagi mereka manusia juga berbahaya. Mereka lebih baik menghindari manusia saat tidak sengaja bertemu. Kalaupun mereka menggigit itu karena mereka merasa terganggu dengan manusia itu sendiri, jadi mereka terpaksa melancarkan serangan. Tapi lain kali kalau kamu ketemu dengan ular, lebih baik hindari agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan." Habib Khalid merasa lucu dengan reaksi Aish.
__ADS_1
Di sawah pondok pesantren rata-rata hewan melata sudah dibersihkan sehingga pondok pesantren membiarkan para santri dan santriwati bebas beraktivitas di sini. Sawah ini juga terawat dengan baik, sekelilingnya dipagari dengan tembok besi untuk mencegah hewan berbahaya masuk ke dalam. Kalaupun ada ular, mereka tidak akan berani mengganggu. Soalnya sudah bertahun-tahun tapi tidak ada kejadian manusia yang digigit ular di sawah ini.
Sementara ular yang habib Khalid maksud tadi, dia mengangkat lehernya tinggi mengawasi jalan setapak dipinggir sawah, sudah tidak ada lagi. Artinya pengganggu sudah pergi.
"Tanpa kak Khalid kasih tahu aku juga akan pergi kalau ketemu sama ular. Ular ini sangat berbahaya meskipun mereka kecil, jadi lebih aman melarikan diri daripada diam saja menunggu dipatok." Aish merasa ngeri membayangkan tubuh licin itu bergegas mengejarnya.
Dia tidak tahu apakah akan menangis atau berteriak jika ada seekor ular yang mengejarnya.
"Hahaha...bagus. Tapi ini sudah siang, sebaiknya kamu kembali dulu ke asrama. Kita akan bertemu lagi nanti malam." Habib Khalid melirik waktu di jam tangan tangan kiri, ini sudah siang dan dia juga memiliki janji dengan Abah. Ada sesuatu yang ingin dia bicarakan bicarakan.
"Iya kak, aku juga ada urusan lain di asrama. Em.. nanti malam kita akan pergi ke kantor kakak lagi?" Wajahnya langsung panas.
Dia masih ingat bagaimana dia bangun tidur. En, bangun di dalam pelukan sang habib dan mencium wangi khas milik sang habib, dia merasa bagaikan mimpi. Sampai detik ini hatinya meragukan apa yang telah terjadi. Karena dia tidak pernah membayangkan hari ini akan terjadi.... Dia tidak mengira bahwa ada hari di mana mimpinya akan menjadi kenyataan. Aish bahagia rasanya bertemu dengan orang yang mencintainya dengan serius dan tulus. Sang habib memperlakukannya dengan baik, memberikan perhatian yang manis, dan mengirimkannya hadiah-hadiah berharga yang tak terbayangkan.
Beberapa bulan yang lalu dia masih terpuruk dalam luka dan tenggelam dalam kecemburuan melihat adiknya hidup dengan kasih sayang melimpah, sementara dirinya diasingkan di dalam rumah sendiri dengan prasangka-prasangka buruk yang tak ada habisnya. Siapapun yang ada di posisinya pasti akan merasa putus asa seolah dunia dan seisinya sangat membenci keberadaannya. Namun lihatlah sekarang, kesepiannya tersapu bersih semenjak dia bertemu dengan orang-orang baik. Kini dia memiliki dua sahabat konyol yang selalu ada di sampingnya, dia bertemu dengan orang baik seperti Abah dan Umi yang memperlakukannya seperti keluarga. Dan dia juga memiliki hubungan yang baik dengan Nadira, gadis yang pernah membuatnya terbakar cemburu. Lalu ada juga teman-teman di pondok pesantren yang memiliki hati baik dan murni. Mereka tidak merendahkannya karena kurang ilmu dan memiliki akhlak yang buruk. Seringkali mereka juga membantunya untuk belajar dan memahami Islam sehingga perlahan-lahan Aish mulai berubah.
Tapi dari semua orang-orang yang peduli kepadanya, hanya satu orang yang paling spesial di dalam hidupnya. Karena orang ini tidak pernah menatapnya aneh, menghindari keberadaannya, dan menolak dirinya. Orang ini justru sangat peduli kepadanya, dia memberikan banyak hal-hal baik kepadanya, dan bahkan menjadikannya sebagai dunia, tempat terhangat yang pernah dirasakan dalam hidup ini.
__ADS_1
Hanya dalam beberapa bulan semuanya berubah drastis. Dan Aish sekarang mengerti buah dari kesabaran begitu manis rasanya.
"Bersediakah kamu?" Tanya habib Khalid balik.
Usapan lembut di wajahnya berhasil menarik Aish dari lamunan panjangnya.
"Oh... Maaf, kak Khalid tadi ngomong apa sama aku?"
Usapan lembut langsung berubah menjadi remasan di pipi. Habib Khalid gemas dengan tingkah konyol kekasihnya.
"Ketika sedang bersamaku, aku mohon jangan memikirkan orang lain atau apapun itu. Tapi perhatikan dan lihatlah aku, sebab aku juga akan melakukan itu kepadamu. Semalam sudah ku jelaskan kepada kamu kalau aku ini orangnya posesif dan berbahaya. Aku mudah cemburu, bahkan pada benda tak bernyawa yang kamu pikirkan. Harapanku adalah kamu menjadikanku sebagai dunia mu, sama seperti yang aku lakukan kepadamu. Dengarlah baik-baik, wahai Aish Rumaisha, sejak perasaan ini merasuk ke dalam dadaku, maka sejak itu pula aku jadikan kamu sebagai duniaku. Dunia yang akan aku bawa ke akhirat kelak, inilah harapan terbesarku dalam hidup ini. Sekarang... Apakah kamu mengerti apa yang aku maksud?"
Bug
Bug
Bug
__ADS_1