
Siang harinya semua orang bergegas kembali ke asrama untuk membersihkan diri dan bersiap melaksanakan sholat dzuhur. Pekerjaan di sawah untuk sementara ditunda dulu dan akan dilanjutkan setelah sholat ashar nanti.
Semua orang sangat senang karena setelah berpanas-panasan dari pagi hingga menjelang dzuhur, mereka akhirnya diizinkan untuk beristirahat. Pondok juga tidak melarang para santri atau santriwatinya tidur siang. Malah mereka menganjurkan untuk memanfaatkan siang ini sebagai ajang istirahat sebelum bekerja lagi di sore hari.
"Belum apa-apa badan aku udah pegal-pegal aja." Keluh Dira sambil memutar-mutar lengan kanan dan lengan kirinya secara bergantian.
Tidak hanya Dira saja yang merasakannya, namun Aish dan Gisel juga tidak luput. Maklum, mereka belum pernah melakukan pekerjaan berat dan berjemur lama di bawah sinar matahari. Sekalinya bekerja, badan mereka langsung K.O.
"Aku mau mandi. Badan aku udah lengket banget soalnya." Badan Gisel sudah lengket karena keringat.
Dia tidak tahan merasakannya dan ingin segera pergi mandi.
"Ya udah, kita harus cepat-cepat balik ke asrama biar bisa masuk ke kamar mandi. Kalau kita telat sedikit aja, kamar mandi pasti langsung penuh." Desak Aish juga tidak tahan dengan lengket di badannya.
Mereka tidak bisa menunda lagi. Setelah meletakkan keranjang di pinggir sawah, mereka langsung pergi dari sawah. Bergegas pulang ke asrama agar bisa mandi secepatnya.
Tidak hanya mereka saja yang memiliki ide ini. Hampir sebagian santriwati memiliki pikiran ini. Mereka ingin segera mandi untuk mengusir lengket dan gerah yang telah membanjiri badan.
Namun saat berjalan melewati jalan setapak pondok Aish tidak sengaja melihat Khalisa sedang berbicara dengan dokter Ira di depan klinik pondok. Aish tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi jika dilihat dari ekspresi di wajah mereka, Aish menduga bila hubungan mereka berdua sangat baik.
"Sakitnya ternyata enggak separah yang Meri katakan." Ucap Gisel mengejek.
Dira mendengar ejekannya dan secara alami mengikuti kemana arah Gisel melihat.
Begitu melihat Khalisa, dia tersenyum sinis,"Aku harap dia enggak membuat masalah lagi."
Aish juga berharap tapi dia meragukannya karena orang seperti Khalisa adalah karakter orang yang diam-diam menghanyutkan. Di depan mungkin dia berprilaku sangat baik dan penurut, tapi di belakang, dia memiliki pikiran yang tidak bisa ditebak. Tentu saja itu adalah pemikiran yang jahat, kalau tidak, kenapa dia sampai bisa di posisi itu?
"Abaikan saja dia. Kita tidak punya urusan apa-apa lagi dengannya." Kata Aish santai.
__ADS_1
Gisel mendengus,"Bagus kalau dia enggak punya pemikiran apa-apa sama kita."
Aish menggelengkan kepalanya tidak perduli. Dia menarik pandangannya ke jalan tanpa niat memperlambat langkah kakinya.
🌺🌺🌺🌺🌺
Dokter Ira melepas kepergian Khalisa di depan pintu masuk klinik pondok. Setelah melihat adik sepupunya itu pergi, dia lalu berbalik menutup pintu klinik serapat mungkin dan pergi ke arah yang berlawanan dari adik sepupunya.
Langkah kakinya sangat ringan hari ini. Meskipun hatinya sangat gugup dan jantungnya tidak bisa berhenti berdetak kencang, semua hal ini tak mampu menggoyahkan tekat yang ada di dalam hatinya.
"Dokter Ira?"
Di jalan dokter Ira seringkali berpapasan dengan beberapa santriwati yang baru pulang dari sawah pondok. Senyuman mereka sangat cerah dan manis, membuat suasana hati dokter Ira semakin terpacu dan langkahnya pun semakin ringan.
"Assalamualaikum, ustazah?"
Dokter Ira kini sudah sampai di depan kantor staf pondok pesantren. Kantor staf asrama putri dan putra bersebelahan jadi dari tempatnya berdiri dokter Ira bisa melihat beberapa Ikhwan yang sedang bekerja.
Pasalnya mata dokter Ira seringkali melihat ke arah ruangan staf asrama laki-laki. Pintu kantor staf selalu terbuka lebar dan tidak pernah ditutup selama jam kerja untuk memudahkan layanan kepada para santri.
Karena pintu selalu terbuka, normalnya pihak santriwati tidak akan berdiri di luar kantor karena para petugas laki-laki di dalam pasti bisa melihat mereka dari dalam.
Oleh sebab itu ustazah ini heran melihat dokter Ira yang tanpa malu-malu melihat ke arah kantor staf asrama laki-laki.
"Ustazah, apa aku boleh bertanya?" Tanya dokter Ira malu-malu.
Ustazah mengangguk sopan.
Menggigit bibirnya malu,"Ini ustazah, aku dengar habib Thalib sudah kembali dari perjalanan luar kotanya kemarin. Dan kedatanganku ke sini...aku...aku ingin bertemu dengan habib Thalib. Apa habib Thalib ada di kantornya?" Tanya dokter Ira malu-malu.
__ADS_1
Setelah mendengarnya, ustazah akhirnya mengerti darimana datangnya sikap aneh dokter Ara. Ini tidak mengherankan pasalnya ada banyak wanita ataupun santriwati yang datang mencari ataupun sekedar melihat habib Khalid. Namun sayang sekali, habib Khalid adalah orang yang bisa ditemui tapi tidak bisa dicari.
Dia pasti tidak akan melayani siapapun yang mencarinya selama itu berhubungan dengan lawan jenis.
"Dokter Ira datang di waktu yang tidak tepat. Habib Thalib baru saja pergi keluar dari kantor staf." Kata ustazah tidak enak.
Kantor habib Khalid tidak ada di sini, tapi di asrama staf. Biasanya, habib Khalid jarang keluar dari kantor pribadinya apalagi sampai ke kantor staf asrama, akan sangat aneh bila habib Khalid sering datang ke sini. Habib Khalid hanya datang ke sini untuk menyerahkan beberapa dokumen atau berkas, sisanya habib Khalid lebih banyak menghabiskan waktu di kantor pribadinya.
Namun hal yang sangat aneh adalah baru-baru ini habib Khalid sangat sering keluar. Dan yang lebih aneh lagi adalah habib Khalid tidak segan lagi bertemu dengan para santriwati. Meskipun hanya sekedar menyapa, tapi perubahan ini sangat besar.
Perubahan ini membuat para staf bertanya-tanya apakah habib Khalid sedang jatuh cinta?
Kalau tidak, mengapa habib Khalid tiba-tiba sering berbaur dengan anak pondok?
Namun sampai dengan detik ini, semua orang belum mendapatkan jawaban pastinya sehingga muncul berbagai macam rumor dikalangan para staf ataupun santri.
"Oh, habib keluar? Kalau boleh tahu dia pergi kemana?"
Ustazah menggelengkan kepalanya tidak tahu.
"Maaf, dokter Ira. Aku juga tidak tahu kemana habib Thalib pergi. Dia hanya bilang pergi sebentar saja."
Dokter Ira tersenyum tipis. Dia menganggukkan kepalanya kecewa.
"Begitu yah...kalau begitu, aku kembali dulu. Maaf telah merepotkan ustazah."
Ustazah menggelengkan kepalanya membantah. Tersenyum lembut,"Tidak merepotkan sama sekali."
Dokter Ira lalu mengucapkan salam dan pergi berbalik melewati jalan yang sama. Bila tadi dia datang dengan senyum sumringah penuh kegugupan, maka sekarang dia kembali dengan wajah muram tampak sangat kecewa.
__ADS_1
"Mengapa aku selalu sial. Setiap kali aku ingin dekat, habib Thalib pasti pergi entah kemana. Sedangkan Khalisa? Dia sangat mudah bertemu dengan habib Thalib tanpa perlu membuang tenaga seperti yang aku lakukan. Hah...apa yang Khalisa katakan itu benar jika habib sebenarnya menyukainya?" Gumam dokter Ira sedih.
Meskipun dia tidak mau mengakuinya, tapi setelah sekian banyak kegagalan dokter Ira mau tidak mau bertanya-tanya apakah habib Khalid sebenarnya menyukai adik sepupunya itu?