Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 26.5


__ADS_3

"Aira... Aira, tenang. Jangan berbicara terlalu cepat, nafas kamu tidak stabil sekarang." Bunda membujuk putrinya agar lebih tenang.


Lihat saja nafas putrinya yang tidak teratur, dia takut sewaktu-waktu terjadi apa-apa kepada Aira jika tidak segera menstabilkan diri.


"Demi Allah... Tak pernah sekalipun terbersit di dalam pikiranku untuk menjebak habib Thalib. Ya memang... Aku menyukai habib Thalib sejak pertama kali kami bertemu, aku juga mengirimkannya proposal meskipun tidak mendapatkan balasan darinya. Aku akui bahwa aku memang menyukainya. Tapi sampai menjebaknya dengan menggunakan obat-obatan terlarang, apakah aku serendah itu? Di samping itu aku memiliki trauma yang sangat dalam tentang obat-obatan ini. Keluargaku bisa menjadi saksi atas kejadian yang menimpaku beberapa bulan yang lalu. Gara-gara itu aku sampai dilarikan ke rumah sakit.... kejadian itu..." Aira dengan sengaja melirik Aish, mencoba menarik perhatian semua orang dan membangunkan kecurigaan.


Aish merasakan sebuah firasat buruk. Dia tahu bahwa kesalahan yang dilakukan di masa lalu akan diungkit kembali oleh Aira. Dia memejamkan matanya menyesal, mengapa dia melakukan tindakan bodoh itu?


Namun jika dia tidak melakukan kesalahan itu, maka dia mungkin tidak akan sampai di pondok pesantren- ah, pada akhirnya dia juga akan dikirim seperti yang kakek bilang. Mama pernah memintanya untuk dikirim ke pondok pesantren setelah usianya beranjak dewasa.


"Pada saat itu...kak Aish menaruh obat-obatan terlarang ke dalam minuman ku. Reaksinya seperti aku alami kemarin, aku mengalami kebingungan tidak dapat berpikir jernih dan tubuhku juga kesakitan, untungnya saat itu aku dilarikan di rumah sakit dan segera mendapatkan penanganan dari dokter sehingga tidak berdampak buruk kepada tubuh ku. Sungguh, hanya Allah yang tahu betapa takutnya aku pada waktu itu. Saking takutnya mungkin aku mulai mengembangkan trauma. Tanpa sadar aku mulai membenci obat, terlepas obat apa itu. Karena setiap kali aku melihat obat, alam bawah sadar ku segera mengirimkan alarm peringatan bahwa aku harus menjauhi obat itu. Jadi bagaimana mungkin diriku menjebak habib Thalib dengan obat-obatan, disaat diriku sendiri tidak bisa dan bahkan menghindari obat apapun itu. Untuk membuktikan perkataan ini, aku bisa menunjukkan surat medis dari rumah sakit tempat diriku di rawat. Bahwa benar diriku mengembangkan reaksi anti terhadap apapun obat yang aku lihat. Kesimpulannya apa? Kesimpulannya bukan aku pelaku yang membawa obat-obatan terlarang ke pondok pesantren dan aku juga tidak mungkin menjebak habib Thalib dengan obat-obatan itu hiks..." Nadanya sangat meyakinkan bahwa memang dirinya tidak pernah membawa ataupun menggunakan obat-obatan terlarang. Apalagi dia mengungkit masalah yang dilakukan Aish kepadanya dulu, kesaksiannya praktis membangunkan kecurigaan kepada Aish dan disaat yang sama menyelamatkan dirinya dari tuduhan sang habib.


Tapi Ayah merasa tidak nyaman Aira mengungkit kesalahan Aish di sini. Apalagi sekarang anaknya itu sedang menonton. Dia pasti malu karena kesalahannya dulu kembali di sebut-sebut.


"Kenapa harus mengungkit-" Ayah ingin memprotes putrinya tapi Bunda tidak mengizinkan Ayah berbicara.


Tanpa menunggu Ayah menyelesaikan ucapannya, Bunda langsung berbicara untuk mendukung pernyataan putrinya. Dia ini melepaskan putrinya dari tuduhan sang habib.


"Apa yang dikatakan putriku memang benar. Sejak keluar dari rumah sakit, dia membenci obat-obatan. Dan setiap kali jatuh sakit dia pasti akan menghindari minum obat karena kejadian itu sangat membayangi putriku. Adapun dalang dari kejadian ini aku yakin pelakunya adalah Aish, anak sambung ku. Aku tidak akan menutupi apapun lagi di sini-"


"Apa yang kamu lakukan?!" Bentar ayah tidak senang.


Bunda keras kepala,"Aku ingin keadilan untuk putriku. Aku tahu bahwa dia tidak bersalah. Dan aku tahu bahwa semua ini dilakukan oleh Aish. Jika bukan dia, memangnya siapa lagi yang akan menyakiti putriku?" Balas Bunda tidak mau mendengarkan suara Ayah.


Dia memang takut melihat suaminya marah, tapi kemarin seorang suami tidak akan bertahan lama. Bunda yakin setelah memanjakan Ayah di tempat tidur, Ayah tidak akan marah lagi kepadanya. Lagi pula menjaga nama baik putrinya, jauh lebih penting daripada apapun. Dan kali ini dia tidak akan pernah membiarkan Aish bersukacita atas kemalangan yang ditimpa putrinya.


"Aku tidak akan menutupi apapun lagi kepada kalian semua. Aku curiga bahwa pelaku yang menaruh obat-obatan di dalam air minum Aira dan habib Thalib adalah Aish. Bukan tanpa alasan Aku berbicara seperti ini. Sejak kecil putriku selalu diintimidasi oleh Aish. Dia sering membentaknya, memarahi Aira, dan menyusahkannya di sekolah. Selama menghadapinya aku terus bersabar dan berusaha meyakinkan diri bahwa Aish seperti ini karena dia masih menolak menerimaku sebagai Ibu sambungnya. Dan untuk menebus rasa sakit putriku, berkali-kali aku menghiburnya dan meminta dia untuk lebih bersabar lagi menghadapi amarah kakaknya. Namun suatu hari Aish mulai melewati batas. Acara ulang tahun putriku kemarin, Aish menggunting semua cadar putriku. Tidak hanya di situ saja, tapi dia juga menaruh obat-obatan terlarang di dalam minuman putriku ketika sedang menghadiri sebuah pesta sekolah. Seperti yang putri kukatakan tadi, dia jatuh sakit dan terpaksa dilarikan ke rumah sakit. Penjelasan dokter di rumah sakit itu sama persis dengan penjelasan dokter semalam, dan yang paling membuatku kaget adalah obatnya sama persis dengan obat yang diminum Aira saat kejadian itu!" Sekarang tuduhan langsung diarahkan kepada Aish oleh Bunda.


Apa yang Bunda katakan memang masuk akal apalagi mengungkit masa lalu. Namun tidak semua orang mempercayai apa yang Bunda katakan. Terlebih lagi orang-orang yang mengenal Aish. Mereka mempercayai Aish. Berbulan-bulan tinggal bersama Aish langsung mengubah pandangan mereka tentang anak kota.


"Ibu tiri kamu gila, Aish. Pantas aja kamu nggak betah di rumah. Orang modelan Ibu tiri kamu aja kayak gini." Ucap Dira mencela.


Hampir rata-rata orang yang hidup bersama Ibu tiri berakhir dalam kehidupan yang sulit. Jarang ada anak yang hidup bahagia bila memiliki Ibu tiri. Karena masuknya Ibu tiri ke dalam rumah juga mengubah Ayah menjadi Ayah tiri. Ini bukan lagi rahasia di dalam masyarakat, tapi bodohnya, masyarakat tidak mengambil pelajaran dari sejuta kisah seorang anak yang teraniaya di dalam keluarga yang memiliki Ibu sambung atau Ayah sambung. Mereka tetap mengulangi kesalahan yang sama, seolah-olah rumah akan tetap damai dengan kehadiran anggota baru.


Aish tersenyum kecut,"Tidak apa-apa. Sekarang semuanya sudah berlalu. Aku tidak lagi bersama mereka."

__ADS_1


Paling buruk dia akan pulang bersama bibi dan pamannya, yah... Ini jauh lebih baik daripada tinggal di rumah yang selalu membuatnya tersiksa.


"Tapi ini sangat menjengkelkan. Jelas-jelas putrinya yang salah, tapi dia malah menuduh kamu. Aku heran dengan sirkuit otak ibu tiri kamu." Ucap Dira kesal.


Aish yang dituduh terlihat sangat tenang, dia tidak marah dan tidak menunjukkan ekspresi apapun. Tapi Dira dan Gisel sangat mengenal baik sahabatnya ini. Lihatlah mata itu, tampak sendu. Mungkin dia sangat kecewa dengan tuduhan yang dilayangkan oleh Bunda kepada dirinya.


"Benar sekali. Aish pasti pelakunya. Anak ini memang selalu memberontak dan tidak senang melihat Aira bahagia. Tidak ada pelaku yang lebih memungkinkan daripada anak ini." Bibi ikut bersuara dan menuduh Aish sebagai pelaku.


Melihat Bunda dan bibi dengan sigap membantunya. Aira tidak mau membuang-buang kesempatan. Dia sengaja mengeraskan suara tangisannya, menangis sekeras mungkin sembari memeluk tangan Bunda.


"Kak Aish mungkin membenciku karena beberapa hari yang lalu aku pernah melihatnya... Aku melihatnya membuntuti kemanapun habib Thalib pergi. Habib Thalib pasti sangat risih dengan pendekatan kak Aish. Aku bermaksud menegurnya, tapi justru yang kudapatkan hanyalah balasan kemarahan dari kak Aish. Tak kusangka kak Aish tega melakukan ini kepadaku. Sungguh, aku sama sekali tidak merasa curiga dengan air minum yang harus berikan kepadaku kemarin saat di dapur. Baru sekarang aku memikirkannya dengan hati-hati, mungkinkah kak Aish sengaja menaruh obat-obatan terlarang di dalam minumanku saat di dapur. Dan mungkin di waktu yang sama kak Aish juga menaruh obat-obatan ke dalam minuman habib Thalib. Sebab kak Aish lah yang menyiapkan minuman untuk habib Thalib kemarin. Aku... sungguh tak dapat mempercayainya hiks..." Aira semakin menambah kayu bakar ke dalam api untuk membangkitkan kecurigaan semua orang.


Seperti yang Aira harapkan, Bunda dan bibi sangat marah mendengarnya. Mereka semakin yakin bila Aish adalah pelaku masalah obat-obatan ini. Tak kuasa menahan amarah di hati, bibi langsung berjualan cepat menghampiri Aish. Menyeret Aish keluar dari kerumunan di bawah pengawasan mata semua orang.


"Bibi, apa yang sedang kamu lakukan?" Aish terkejut dengan tindakan mendadak bibi.


Tangan yang mencengkram lengannya terasa sangat menyakitkan, Aish sampai meringis dibuatnya.


Semua orang langsung menahan nafas ketika melihat tangan bibi terangkat tinggi akan melayangkan sebuah tamparan ke wajah Aish. "Beraninya kamu melakukan ini kepada keponakan ku-"


Tangan yang terulur di depan wajah Aish tiba-tiba membeku.


Dengan nada dingin wanita itu berbicara,"Oh, betapa lancang dirimu ingin menjatuhkan tangan kepada keponakan ku? Pikirkanlah baik-baik sebelum melakukannya konsekuensi apa yang akan kamu dapatkan jika sampai membuat wajah cantik keponakanku mengalami cedera."


Kini semua orang kembali di kejutan oleh pengakuan wanita asing itu.


Melihat wanita itu kini telah berpindah ke sisi Aish, sang habib langsung menghela nafas lega.


"Keponakan? Jadi wanita yang datang bersama habib Thalib adalah bibi dari Aish?"


"Tidak, kedua wanita ini adalah bibi Aish. Tapi jelas sekali wanita yang satu lebih berpihak kepada Aira dan pilih kasih kepada Aish. Mungkin wanita itu adalah keluarga dari pihak Aish."


Berbagai macam spekulasi mulai timbul di antara para santriwati yang mengenal Aish.


"Keponakanmu? Jelas-jelas aku adalah bibinya! Aish tidak memiliki bibi seperti kamu." Ucap bibi sembari melepaskan tangannya dari wanita itu.

__ADS_1


"Ah," Wanita itu melirik Ayah dengan ekspresi acuh tak acuh.


Wajah Ayah tampak tidak terlalu baik ketika melihat wanita asing itu. Dia bertanya-tanya sejak kapan wanita itu ada di sini dan kenapa dia tidak mengetahui keberadaan wanita itu?


"Kenapa kamu tidak bertanya kepada kakakmu sendiri? Dia jelas lebih tahu siapa aku dibandingkan dirimu."


Ayah merasa tidak nyaman. Awalnya dia ragu mengatakan sesuatu dan ingin mengabaikan wanita asing itu, namun tatapan laki-laki tinggi itu membuatnya kesulitan.


"Rumi, apa yang sedang kamu lakukan di sini?" Ayah akhirnya berbicara.


"Rumi?" Bunda dan bibi bingung.


Mereka tidak pernah mendengar Ayah membicarakan wanita ini.


Terutama untuk Bunda sendiri, semakin dia memandang wanita itu maka semakin aneh perasaannya. Entah kenapa dia merasa bila wanita itu agak mirip dengan Arumi, Mama Aish, sahabatnya sendiri.


"Dia tidak mengatakan apa-apa tentang diriku? Kalau begitu perkenalkan, namaku Rumi. Namun orang-orang lebih akrab memanggilku sebagai Syarifah. Aku adalah adik dari Arumi, mantan istri kakakmu dan Ibu dari Aish Rumaisha. Kedatanganku ke sini karena ingin mengambil Aish dan membawanya pulang ke tempat yang seharusnya. Awalnya aku pikir semuanya berjalan dengan lancar, tapi apa yang ku lihat tadi ternyata telah menumbangkan harapanku. Melihat betapa kejamnya kalian kepada keponakan ku, bisa ku tebak bawa kehidupan keponakanku di rumah itu tidak bahagia, bukankah begitu mantan kakak iparku?"


"Syarifah? Dia seorang Syarifah lalu apakah Aish juga Syarifah? Tapi kenapa Ayah biasa-biasa saja dan tidak memiliki perilaku seharusnya yang dimiliki oleh seorang habib?" Ruangan persidangan kembali berdengung dengan berbagai macam suara-suara keraguan.


Keturunan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memiliki ciri-ciri yang sangat berbeda dengan manusia biasa. Ketika seseorang melihat atau berdekatan dengan keturunan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, mereka pasti mengerti apa perbedaan itu. Tapi ketika melihat Ayah, mengapa mereka tidak merasakan perbedaan itu?


"Bunda, dia bibi kak Aish? Lalu bukankah nasabnya juga.." Aira langsung ngeri membayangkan identitas tersembunyi Aish.


Jika dia benar-benar keturunan Rasulullah Saw, maka konsekuensinya tidak akan pernah bisa dibayangkan. Dulu Aira pernah mendengar jika keturunan Rasulullah Saw diganggu atau disakiti, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam akan memalingkan wajah terhadap orang tersebut di akhirat nanti. Benar atau tidaknya kata-kata ini Allahu'alam, Aira tidak mengetahuinya dengan jelas. Namun yang pasti dia merasa gelisah memikirkannya. Aneh saja dia sebelumnya tidak merasa bersalah ketika merencanakan jebakan ini kepada sang habib yang jelas-jelas sudah tidak diragukan lagi identitasnya, tapi malah merasa bersalah kepada Aish yang masih belum jelas.


"Kamu... adiknya Arumi?" Bibi tiba-tiba ragu.


"Aku tidak peduli apakah kamu seorang Syarifah atau tidak, selama putriku mendapatkan keadilan, identitasmu tidak berarti apa-apa untukku." Melihat keraguan bibi, Bunda mengulurkan tangannya ingin menarik tangan Aish akan tetapi sebuah tangan tiba-tiba menarik Aish menjauh sehingga tangan Bunda hanya mendapatkan udara kosong.


"Ah," Aish jatuh ke dalam pelukan hangat seseorang.


"Jangan coba-coba menyentuh istriku. Sebelumnya aku masih bisa tersenyum ketika kalian merendahkan dan menyalahkan ku, namun ceritanya akan berbeda kalau kalian sampai mengangkat tangan kepada istriku. Mengerti?" Suara dalam nan dingin itu bagaikan sebuah vonis hukuman mati bagi Aira.


"Is-istri? Habib Thalib sudah menikah dengan Aish?!" Seketika pondok pesantren gempar dengan berita ini.

__ADS_1


Bersambung...


Terlalu banyak, jadi cuma nulis segini. Kerasa kan perbedaan panjang dua bab ini dengan bab yang lain?


__ADS_2