
Setelah makan kami berdoa segera pergi ke kamar tamu. Ketika masuk ke dalam kamar tamu, aku pribadi sangat shock melihat tumpukan hadiah di dalam kamar. Mulai dari kado-kado kecil hingga besar, tas-tas dari brand tertentu hingga kotak-kotak misteri yang sengaja ditaruh dengan kategori masing-masing.
Hadiah-hadiah yang kami temukan agaknya cukup mengejutkan. Mereka semua didominasi oleh pakaian, sepatu, alat masak, perhiasan cantik, dan bahkan yang paling parah adalah baju anak-anak. Kami berdua tidak tahu harus tertawa atau menangis melihat jejeran pakaian anak-anak yang kamu temukan dari beberapa kado.
Menurutku ini belum seberapa karena yang paling membuatku terkejut adalah tumpukan pakaian dinas berbagai macam gaya. Ada karakter kucing, rubah hingga kelinci. Bentuknya aneh-aneh, terlalu seksi dan sangat terbuka. Jujur, sebebas apapun aku di kota dulu sebelum masuk ke pondok pesantren, pergaulanku tidak sampai separah ini.
"Masya Allah, mereka semua perhatian banget sama kita ya, sayang? Tahu aja kalau kita lagi butuh-butuhnya pakaian dinas." Mas Khalid mengambil pakaian dinas karakter kucing berwarna hitam putih dan memamerkannya di depanku.
Ah, sungguh memalukan. Wajahku langsung panas ketika melihat pakaian itu dipegang oleh suamiku sendiri. Kesannya sangat berbeda dari suami dingin dan bijaksana yang selalu ditampilkan oleh suamiku ketika bertemu dengan orang lain.
"Mas Khalid nggak usah main-main. Udah, baju-bajunya kita sumbangin aja, ya? Soalnya aku malu pakai baju begini. Selain itu kan alangkah lebih baik bila seorang wanita menggunakan baju tertutup daripada menggunakan baju terbuka, khususnya untuk menyenangkan suami. Aku melakukan ini untuk kamu kan, mas?" Aku berdalih menolak tidak mau memakai baju seperti ini.
Ku tahu bahwa alasan ini memang terkesan asal-asalan. Sebab seorang istri patutnya menyenangi suami, dan tidak salah menggunakan baju-baju ini di depan suami. Toh, istri menggunakannya di depan suaminya bukan di depan orang lain apalagi seorang laki-laki.
Dan aku tahu bahwa suamiku akan membantah argumenku.
"Mau sumbangin ke mana? Hati-hati loh kalau mau sumbangin sesuatu apalagi itu berhubungan dengan pakaian. Kalau pakai ini kamu berikan kepada orang yang sudah menikah maka itu akan berguna, sebab pakaian ini yang akan membuat hubungan suami istri menjadi harmonis. Namun bila kamu memberikan pakaian ini kepada orang yang belum menikah maka aku rasa sebaiknya tidak untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Selain itu, ini adalah hadiah dari teman-teman kita istriku. Ini adalah bentuk hati mereka kepada kita atas pernikahan kita kemarin. Memang kamu tega memberikan hadiah yang telah susah payah orang berikan kepadamu kepada orang lain? Pernah bayangin nggak bagaimana perasaan pemberi hadiah kalau tahu hadiahnya kita berikan kepada orang lain? Saran aku sih jangan kasih ke orang lain dan cukup digunakan untuk diri sendiri. Di samping itu wahai istriku menggunakan pakaian-pakaian ini memang dilarang dan hukumnya haram bila kamu menggunakannya di depan orang lain. Tapi bila di depanku maka itu hukumnya sangat dianjurkan. Sebab kita berdua sudah halal satu sama lain jadi kenapa kamu malu menggunakan pakaian ini di depan ku? Lagian ya sayang kalau kamu pakai baju ini, artinya kamu ingin menyenangkan hati suami kamu. Jujur aku senang loh melihat kamu pakai baju-baju begini, soalnya satu-satunya laki-laki yang bisa melihat kamu menggunakan pakaian terbuka seperti ini hanyalah seorang. Cuma aku yang bisa melihat keindahan kamu, kecantikan kamu, dan segala sesuatu yang ada di dalam dirimu. Hanya aku seorang yang bisa melihat, menyentuh, dan merasakan atau bahkan menjaganya. Selain aku kamu tidak diizinkan melakukannya kepada orang lain. Kalau tidak," Sorot mata suamiku mengancam.
"Jangan salahkan aku menghukum kamu dengan hukuman yang belum pernah kamu bayangkan dalam hidup ini." Katanya membuatku takut.
Mulai dari nada dan tatapan tajamnya, aku tidak bisa mengabaikannya semudah itu. Mas Khalid kalau lagi mood serius tidak peduli apa, dia tidak akan pernah melupakan apa yang dia katakan dan sumpah, sebab dia akan terus mengingatnya.
__ADS_1
Tapi di sisi ini tiba-tiba mataku terbuka lebar- oh, maksudku semua pandanganku kepada mas Khalid langsung ditumbangkan hari ini. Mendengar mas Khalid mengucapkan kata-kata frontal di depanku tanpa rasa malu sedikitpun membuatku tiba-tiba tersadar bahwa mas Khalid ternyata sangat terbuka kepadaku. Tapi di depan orang-orang, tidak perduli siapa itu, dia selalu memasang wajah ramah namun terasing, bersikap tertutup seakan-akan bahwa dia adalah orang yang sulit didekati.
Padahal nyatanya mas kali di depanku adalah karena yang sangat posesif, protektif dan cemburuan. Terdengar menakutkan' kan, tapi sebenarnya nggak kok. Malah sikap seperti ini membuat aku merasa bahwa aku sangat dicintai oleh suamiku. Seolah-olah aku adalah satu-satunya wanita yang dapat masuk ke dalam matanya, selain aku, wanita manapun tidak dapat memiliki perlakuan spesial ini.
Masya Allah, betapa bersyukurnya aku disandingkan dengan laki-laki sebaiknya mas Khalid. Setiap kali memikirkan betapa beruntungnya aku bisa menikah dengan mas Khalid, hatiku tak henti-hentinya memuji dan bersyukur kepada Allah atas nikmat anugerah yang dia berikan kepadaku di dalam hidup ini sehingga aku dapat menikah dengan mas Khalid.
"Nah, kamu ngelamun lagi. Lagi mikirin siapa, hah? Kebiasaan banget aku ajak ngomong pasti kamu ngelamun. Jangan lakuin ini kalau ngomong sama aku, sayang. Aku nggak suka perhatian kamu teralihkan ketika bersama dengan diriku. Apalagi di saat aku lagi ngomong serius sama kamu, aku nggak suka, sayang."
Tuh kan, mas Khalid itu gampang banget merajuk kalau dia abaikan sebentar aja. Padahal aku lagi mikirin dia loh bukan mikirin orang lain.
"Mas Khalid jangan marah dulu. Maafin aku karena tiba-tiba melamun di saat masa Khalid sedang berbicara serius dengan ku. Dan sebenarnya aku lagi mikirin mas Khalid. Serius, setiap kali dekat sama mas Khalid dan mendengarkan apa yang mas bicarakan kepadaku, tiba-tiba aku berpikir bahwa aku sangat beruntung dapat menikahi mas Khalid. Selain itu aku juga sangat suka dengan sikap posesif dan protektif mas Khalid kepada ku. Mungkin karena kisah pahit Mama yang diabaikan oleh Ayah membuatku menumbuhkan pikiran bahwa aku mungkin orang yang sulit dicintai atau mungkin aku tidak bertemu dengan orang yang mencintaiku dengan tulus seperti orang-orang di luar sana. Sebab Mamaku mengalami hal yang sama dan kehidupanku di rumah Ayah juga tidak baik. Tapi setelah menikah dengan mas Khalid, dan ini baru beberapa jam kita tinggal bersama, hatiku rasanya sangat nyaman dan damai. Aku berpikir bahwa ternyata ini rasanya dicintai dengan tulus oleh orang yang kita cintai pula. Dan betapa puasnya aku ketika tahu bahwa mas Khalid sangat posesif dan protektif kepadaku, bagi orang lain mungkin terdengar menakutkan tapi bagiku pribadi aku sangat bahagia sebab aku akan merasa dicintai oleh mas Khalid. Aku sangat bahagia, mas." Entah apa yang membuat diriku dengan leluasa mengeluarkan semua isi pikiranku kepada mas Khalid. Mencurahkan apa yang kurasakan, dan mengungkapkan apa yang aku pikirkan kepada suamiku.
"Kemarilah," Dia mengeluarkan tangan kanan kepadaku.
Tanpa ragu aku memegangnya, lalu dalam sekejap mata diriku sudah ditarik ke dalam pelukan hangatnya.
"Terima kasih... Terima kasih istriku karena sudah mengerti hatiku. Sempat berpikir bahwa kamu takut dengan sifat serakah di dalam diriku, tapi ternyata kamu mau menerimanya dan bahkan menyukai keserakahannya. Aku memang seperti ini istriku, aku selalu serakah bila menyangkut tentang dirimu. Entah saja kapan pikiran gila ini tertanam di dalam hatiku, namun yang pasti aku tidak bisa berpaling dari dirimu. Karena kita berdua di sini, aku ingin menceritakan banyak hal kepadamu tentang semua yang kumiliki. 5 tahun yang lalu aku berhasil membangun sebuah perusahaan perhiasan di Timur Tengah dengan jerih payah kedua tangan ku sendiri. Perusahaan itu bukanlah harta yang diwariskan oleh orang tuaku, bukan pula harta yang dibagikan oleh keluargaku yang lain, tidak... Perusahaan itu adalah murni kerja kerasku sendiri untuk kamu."
Hah, untuk aku?
"Untuk aku, mas?"
__ADS_1
Mas Khalid tersenyum.
"Kamu ingat nggak cincin yang aku berikan kepadamu beberapa waktu yang lalu?"
Ingat, aku selalu membawanya ke mana-mana Karena bagiku cincin itu sangat berarti.
"Aku selalu mengalungkannya, mas." Kataku sambil menunjukkan kalung yang melingkari leherku.
Kalung ini sebenarnya liontin yang diberikan mas Khalid kepadaku di pondok pesantren dulu. Awalnya aku ingin menyimpan kalung ini karena terlalu berharga untuk dikenakan ke mana-mana, tapi mas Khalid memberikanku sebuah cincin, aku langsung berubah pikiran. Cincin itu tidak bisa dikenakan karena terlalu kecil, dan aku enggan meninggalkannya di dalam kotak karena terlalu berharga. Jadi aku memutar kepala, menyingkirkan mata kalung bertahtakan kupu-kupu berlian itu dan menjadikan cincin itu sebagai mata kalung. Sementara mata kalung kupu-kupu itu kusimpan dengan rapat di dalam kotak dan kini sudah masuk ke brankas di rumah kami.
Mas Khalid menyentuh cincin itu dengan tatapan lembut penuh nostalgia. Sama seperti diriku, mas kawin mungkin berpikir bahwa cincin ini juga sangat berharga baginya.
"Senang kamu selalu menjaganya dengan baik." Dia lalu menatap diriku,"Tahukah kamu bahwa cincin ini adalah saksi berdirinya perusahaan perhiasan ku?"
Bukankah cincin ini mas Khalid berikan kepadaku 5 tahun yang lalu ketika aku masih sakit di rumah sakit?
"Benar sekali." Seolah-olah mengerti kebingunganku, dia lanjut berbicara,"Cincin ini adalah produk pertama yang diproduksi oleh perusahaan ku dan satu-satunya model yang dimiliki oleh perusahaan ku, sebab aku sendiri yang membuat model cincin ini dan dibuat khusus untuk kamu."
Ah, ini adalah berita yang sangat mengejutkan. Mas Khalid sudah memikirkanku sampai sejauh itu di usia yang masih begitu muda?
"Ini adalah cincin yang khusus aku buat untuk pernikahan kita 5 tahun yang lalu. Namun sayang sekali saat itu kamu sedang sakit dan cincinnya kebesaran untuk kamu, jadi dengan menyesal aku menyimpan cincin ini di sisiku tapi tidak membuangnya. Pada saat itu aku berpikir bahwa suatu hari nanti aku akan memberikan cincin ini kepadamu. Dan qadarullah, hari itu pun datang namun sayang sekali lagi, cincin ini terlalu kecil untuk jari mu."
__ADS_1