
Semuanya terasa bagaikan mimpi. Dari saat ketika habib Khalid membawanya pergi hingga dia terbangun di atas tempat tidur yang sama, semuanya terasa begitu luar biasa. Karena hubungan ini terjadi begitu tiba-tiba, sejenak dia merasa bahwa ini tidak bisa dilakukan, ini adalah sebuah dosa besar karena mereka bukanlah mahram. Tapi ada suara di dalam hatinya yang mengatakan bahwa ini bukanlah sesuatu yang salah, apa yang mereka lakukan bukanlah sebuah dosa, dan secara alami ini harusnya wajar-wajar saja. Gila, kan?
Dia tidak tahu mengapa dia merasa seperti ini. Perasaan wajar yang belum pernah dirasakan dalam hidup ini. Selain dari habib Khalid, tak ada satupun laki-laki yang bisa membuatnya seperti ini.
"Allahuakbar...." Suara takbir pertama bergema di dalam kamar, menyusup hingga ke dalam pendengaran Aish dan merasuki bagian hati terdalamnya.
Ada getaran ringan di sana. Bukan manis, ah, memang ada rasa manis tapi lebih dari apapun itu yang paling mendominasi hatinya sekarang adalah kerinduan. Terakhir kali dia merasakan perasaan ini ketika habib Khalid memimpin shalat di masjid. Momen itu selalu berkesan di dalam hati, seakan-akan habib Khalid menjadi imam hanya untuknya seorang.
Terhanyut oleh perasaan ini, Aish menundukkan kepalanya, menatap permukaan sajadah di bawah sana. Lalu dalam harapan yang terbuai oleh mimpi, dia mengangkat kedua tangannya seraya mengucapkan nama besar Allah, Allahuakbar.
Kemudian dia terjatuh dalam pesona manisnya bersimpuh di hadapan Sang Pencipta, di waktu di mana Allah turun ke bumi bersama bala tentara untuk berbicara langsung dengan hamba-hamba yang merindu, mendengarkan hamba-hamba yang berkeluh kesah, mengabulkan doa-doa para hamba yang membutuhkan, dan merangkul para hamba yang sedang terjebak dalam kesedihan, keputus asaan, keterpurukan, serta kesakitan. Pada momen itu, Allah berbisik kepada mereka untuk menyampaikan sebuah kabar gembira bahwa beruntunglah mereka yang bersujud di sepertiga malam, meninggalkan tidur yang lelap untuk berbicara sejenak dengan Sang Pencipta, ketahuilah bahwa mereka yang beruntung itu adalah ciri-ciri penghuni surga yang pernah Allah jelaskan di dalam Al-Qur'an.
__ADS_1
"Assalamualaikum..." Sang habib mengakhiri dengan salam ke kanan dan diikuti oleh Aish di belakang.
Kemudian habib Khalid melanjutkan dengan dzikir dan doa. Butuh setengah jam untuk menyelesaikan semuanya sampai akhirnya mereka sampai ke-tahap untuk bermunajat kepada Allah subhanahu wa ta'ala.
Satu-satunya hal yang disesali oleh Aish adalah bahwa dia sama sekali tidak bisa mengerti bahasa Arab!
Bahasa yang dia pahami sangat dangkal dibandingkan dengan setiap patah kata yang diucapkan oleh sang habib. Padahal habib Khalid berdoa dengan lantang, namun sayang sekali Aish tidak bisa mengerti apa yang dia ucapkan.
"Kak Khalid, mengapa kita shalat tahajud di sini?" Setelah selesai Aish mengeluarkan suara untuk bertanya.
"Tidak suka?" Bukannya menjawab sang habib malah bertanya balik.
__ADS_1
Aish buru-buru menggelengkan kepalanya membantah.
"Enggak, aku suka banget, kak. Tapi kan kalau di masjid kita shalat berjamaah, terus kenapa kak Khalid tidak shalat di masjid?"
Habib Khalid tersenyum simpul.
"Bukannya sudah jelas? Itu karena kamu ada di sini. Kalau kamu ada di masjid, pasti aku shalatnya di sana. Tapi malam ini kamu ada di sini, lantas mengapa aku pergi ke masjid? Sholat berjamaah di masjid memang memiliki nilai tersendiri, namun shalat berjamaah dengan kamu juga memiliki nilai ibadah yang spesial. Lagi pula kita juga di sini shalatnya berjamaah."
Aish mengerti apa yang dikatakan oleh sang habib, tapi di saat yang sama dia sulit memahaminya.
"Jangan terlalu banyak berpikir. Sekarang ambil Al-Qur'an dan mulai hafalanmu. Aku ingin mendengar seberapa jauh kamu melangkah selama aku tidak ada."
__ADS_1
Rasa penasaran Aish langsung teralihkan ketika mendengar hafalan disebutkan. Setor hafalan kepada sang habib jauh lebih mendebarkan kepada Umi, ini membuatnya sangat gugup.
"Ba-baik, kak!"