Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 23.3


__ADS_3

Gadis dan yang lainnya penasaran kenapa Nasha cuma mencari mereka bertiga?


Mungkinkah mereka membuat masalah lagi? Batin Gadis antusias.


Jika mereka bertiga dihukum lagi, dia akan sangat senang karena kesombongan mereka langsung dibalas sama Allah. Siapa suruh memamerkan kekayaan di depan banyak orang, ujung-ujungnya juga ditegur sama Allah.


"Kakak mencari kami bertiga? Apakah ada sesuatu yang kakak butuhkan dari kami?" Aish berharap itu tidak ada hubungan dengan rumor yang beredar sekarang.


Dia tidak ingin masalah ini masalah ini kian membesar. Sejujurnya dia menebak bahwa orang yang menyebarkan rumor ini dengan sengaja mungkin antara Aira atau Leni. Mereka berdua orang yang paling tahu apa yang terjadi di kota. Selain itu ketika bertengkar malam itu, Aira sempat mengungkit mengenai masa lalu Gisel dan didengar oleh banyak orang. Bukan tidak mungkin bila gara-gara ucapan Aira malam itu membuat masa lalu Gisel tersebar di pondok pesantren.


Hum, Aira.


Suatu hari nanti aku akan memberikan kamu pelajaran. Batinnya kesal.


"Semalam sehabis pulang dari rumah Umi, awalnya aku ingin datang ke kamar kalian untuk berbicara tapi tiba-tiba aku ada urusan jadi kabarnya tertunda. Hari ini ada tamu di rumah Umi dan dia memintaku untuk membawa kalian ke sana. Umi juga bilang bahwa kalian akan ikut membantu memasak di dapur bersama yang lain. Karena tamu yang datang cukup banyak, Umi berharap kalian tersedia datang membantu." Jawab Nasha menjelaskan.


Sebenarnya Aish datang ke sana bukan untuk membantu tapi Umi tidak mengatakan mengapa Aish diundang ke sana.


"Masya Allah, kami bertiga tidak masalah pergi ke sana untuk datang membantu. Lagian kami tidak punya kegiatan apa-apa di pondok pesantren selain tidur atau membaca buku. Jadi daripada tiduran terus lebih baik pergi ke rumah Umi untuk membantu." Dia tidak menolak permintaan Umi karena dia sendiri bosan di asrama terus.


Siapa tahu di rumah Umi, dia bisa bertemu dengan habib Khalid, kan? Jadi tidak ada salahnya pergi.

__ADS_1


"Iya kak, kami bosan di asrama terus. Untung kakak menawarkan kami pekerjaan jadi hari ini hidup kita sedikit berwarna." Dira juga setuju untuk pergi ke sana.


Awalnya dia menikmati hari libur di pondok pesantren. Dia bisa tidur sepuasnya, rebahan sepuasnya, melakukan apapun yang dia suka tanpa ditegur oleh siapapun. Tapi setelah beberapa hari dia mulai bosan dan merindukan ponselnya yang disita oleh pondok pesantren. Kalau ada ponsel dia tidak mungkin mati kebosanan karena ada banyak sekali hiburan di dalamnya. Dia bisa chatting dengan orang-orang, menonton film atau video, ataupun berbelanja di toko online, ini adalah surga di rumah. Tapi di sini dia tidak bisa mengaksesnya!


"Alhamdulillah. Aku senang mendengarnya. Umi bilang kalian bisa datang ke rumah setelah selesai makan siang dan cukup istirahat. Tidak usah terlalu buru-buru karena tamu akan datang nanti sore."


Setelah mendengar pengaturan Nasha, Dira cukup puas karena setelah makan mereka bisa beristirahat sebentar.


"Kak Nasha, bolehkah aku juga ikut datang membantu ke rumah Umi? Aku juga bosan di asrama terus tanpa melakukan apa-apa." Melihat mereka berbicara dengan lancar, Gadis buru-buru menyela.


Dia juga ingin mendapatkan bagian dari tugas ini. Memangnya siapa yang tidak mau berkunjung ke rumah Umi?


Itu merupakan tempat yang didambakan banyak santriwati karena bisa bertemu dan berbicara dengan Umi adalah pengalaman yang sangat berharga. Kalau bisa akrab dengan Umi, salah satu manfaat yang bisa didapatkan Gadis yaitu bisa diperkenalkan dengan sosok ustad-ustad muda di pondok pesantren. Kalau Umi sudah memberikan rekomendasi, rata-rata para ustad tidak akan menolak.


Tapi Gadis dalam suasana hati yang buruk. Dia telah tersinggung sesudah ditolak oleh nasha. Kesannya Nasha pilih kasih karena lebih mengutamakan Aish dan kelompoknya daripada yang lainnya.


"Baiklah karena kalian sudah setuju maka aku tidak punya apa-apa lagi untuk bicarakan. Aku akan pergi duluan ke rumah Umi, nanti kalian akan datang menyusul. Assalamualaikum semuanya." Setelah mengucapkan salam perpisahan, Nasha dan temannya segera pergi ke rumah Umi.


Di luar stand kantin, mereka berdua sudah ditunggu oleh teman-teman kamar yang lain. Semua orang sangat bersemangat datang ke rumah Umi.


"Aku sudah kenyang. Bolehkah aku pergi dulu?" Entah sejak kapan Gadis telah menghabiskan makanan yang ada di atas piringnya sementara yang lain masih belum habis.

__ADS_1


"Tidak apa-apa kamu duluan pergi saja, nanti kami akan menyusul." Teman kamar yang lain membalas.


Gadis mengangguk mengerti, dia kemudian mengucapkan salam dan keluar dari kantin. Begitu keluar dari kantin dia berjalan ke jalan setapak yang berlawanan arah dari arah asrama. Tujuannya adalah ke rumah Umi. Baginya penolakan Nasha tidak membuat semangatnya surut. Jika Nasha menolak, maka segera datangi Umi. Dia percaya Umi tidak akan menolak bantuan gratis. Jadi setelah membuat pertimbangan singkat, dia memutuskan untuk pergi ke rumah Umi.


...*****...


Sesampai mereka di rumah Umi, dia dikejutkan oleh Aira. Padahal Aira sudah ditolak semalam olehnya tapi mengapa dia tiba-tiba ada di rumah Umi sekarang?


"Kak Nasha sudah datang. Umi bilang kakak bisa langsung ke dalam untuk menemuinya." Ucap Aira dengan senyuman manis di bibir.


Hari ini dia nekat datang ke rumah Umi. Dengan alasan merindukan rumah, dia memohon kepada Umi agar diizinkan tinggal dan ketika mengobrol dengan Umi, dia sempat menyinggung masalah acara hari ini. Aira mengatakan bila dirinya sanggup membantu ke rumah Umi tapi Nasha menolak kebaikannya. Padahal niatnya baik tapi masih ditolak. Dia mengeluh kepada Umi bahwa dia sangat sedih. Untungnya Umi berhati lembut, tidak hanya diizinkan tetap tinggal tapi dia juga meminta Aira untuk ikut membantu membersihkan rumah bersama santriwati yang lain. Aira sangat puas. Hasil inilah yang dia inginkan. Cuma sayang sekali dia tidak bertugas di dapur. Tapi tidak bertugas bukan berarti dia tidak bisa masuk. Dia memiliki segudang cara untuk masuk ke dapur nanti.


"Terima kasih. Kalau begitu aku akan masuk ke dalam." Ucap Nasha dengan senyuman tertahan.


Meskipun bingung kenapa Aira di sini, dia tidak berkomentar atau bertanya karena itu adalah keputusan Umi jika Aira tetap di sini.


"Nasha, dia bukannya orang yang ngomong sama kita semalam, kan?" Temannya berbisik.


Nasha mengangguk.


Bingung,"Kenapa dia ada di sini? Semalam kan kamu sudah menolaknya?"

__ADS_1


Jangankan temannya, dia juga bingung kenapa Aira bisa ada di sini.


"Entahlah, itu urusan Umi. Kita tidak bisa berkata apa-apa kalau Umi memang mengizinkannya." Ujar Nasha tidak mau ambil pusing.


__ADS_2