
"Enggak boleh lewat pintu ini, Nak. Kalau kalian mau keluar ya lewat pintu samping. Bukankah pondok sudah menyiapkan akses di pintu samping?" Tanya satpam tua itu kepada mereka.
Dira tidak sabar. Ingin sekali dirinya menjejali orang tua ini sejumlah uang agar bisa menerobos keluar. Maksudnya yah, ingin memberikan sedikit tip bukan mau menyogok atau menyuap kok. Dia kan anak yang baik jadi mana mungkin melakukan tindakan kriminal seperti memberi suap atau sogokan.
"Pak, ini sangat mendesak. Kami harus segera keluar atau kami akan ketinggalan kalau terlambat." Desak Gisel memohon.
"Maaf, Nak. Bapak tidak bisa melakukannya karena ini sudah aturannya. Jika kalian sangat terdesak lebih baik sekarang kalian segera berlari ke pintu samping agar bisa menyelesaikan masalah kalian." Tolak satpam itu masih kukuh dengan pendiriannya.
Dira dan Gisel kewalahan menghadapi satpam keras kepala ini. Entah berapa banyak kata yang diucapkan saat menghadapinya, namun satpam ini sama sekali tidak bergeming.
Sementara Dira dan Gisel terjerat dengan satpam tua itu, Aish di belakang malah sibuk menatap ke arah luar. Dengan kepala matanya sendiri dia melihat Nadira dan Nasifa masuk ke dalam mobil sang habib. Duduk di kursi depan, sang habib sepertinya tidak keberatan dengan langkah yang Nadira buat.
Aish cemburu. Hatinya yang sudah sakit semakin sakit lagi. Ngilu rasanya. Ia menahan nafas sekuat tenaga untuk menahan air matanya jatuh.
"Sudah pergi. Jangan membuat keributan lagi." Kata Aish sembari membuang muka.
Ia merasa sangat kesal dengan dirinya sekarang. Baru melihat ini saja ia langsung cengeng dan mau menangis. Padahal ini tidak seberapa tapi mentalnya begitu mudah diruntuhkan.
"Pergi?" Dira melihat tempat parkir mobil habib Khalid kosong.
Baik habib Khalid maupun Nasifa dan Nadira menghilang bersama mobil itu.
"Ya." Kata Aish dengan senyum kecut dibibir nya.
Dira marah,"Ke arah mana?"
Aish tidak mau menjawab bukan berarti Gisel tidak mau berbicara.
"Ke arah kanan. Kayaknya sih mereka mau ke pasar." Ujar Gisel memberitahu.
Dira mengepalkan tinju penuh perjuangan.
__ADS_1
"Susul!" Putusnya bersemangat.
"Baik!" Gisel setuju.
Aish memutar bola matanya lucu. Geli saja melihat perjuangan kedua sahabatnya yang sangat bersemangat mengurus kisah cintanya.
"Jangan konyol. Kita enggak usah pergi." Kata Aish menolak.
Dira dan Gisel menatap Aish tidak setuju.
"Aish, saat kamu mengejar seseorang, kamu harus berdedikasi dan pantang menyerah. Kalau tidak, bagaimana mungkin habib Thalib melihat betapa besar perjuangan mu meraih cintanya?" Dira mulai mendramatisir.
Ugh, mendengarnya saja membuat Aish meringis ngeri. Bisa-bisanya Dira mengungkapkan kata-kata bijaksana seperti itu dengan ekspresi konyol di wajahnya?
"Benar, Aish. Selain harus tetap terlihat anggun, kamu juga harus berdedikasi. Ingat, saat ini kamu sedang melakukan pengejaran, okay! Jadi kamu harus berjuang habis-habisan! Jangan mau kalah sama si putri salju. Jika dia bisa menggunakan taktik lemah lembut sok rapuh, maka kamu bisa menggunakan taktik cabe rawit." Kata Gisel menyahut.
"Cabe rawit?" Tanya Aish aneh.
"Walaupun kecil dan memiliki warna yang sangat norak penuh celaan, tapi cabe rawit adalah makanan terpedas di-"
"Alah enggak nyambung, meong. Cari perumpamaan yang bagus, lah." Potong Dira tidak habis pikir.
"Okay, jangan banyak bicara. Lebih baik kita susul mereka mumpung baru beberapa menit jalan. Pergi!"
Tanpa menunggu persetujuan Aish, mereka berdua langsung menariknya pergi tanpa mengucapkan pamit kepada satpam tua tersebut. Mereka berlari cepat menuju pintu samping pondok pesantren yang jaraknya lumayan jauh. Agar bisa cepat sampai ke sana, mereka bertiga sering mengangkat kain gamis setinggi-tingginya agar tidak menghalangi langkah mereka. Melihat ini, beberapa orang yang berpapasan dengan mereka akan menatap lucu dan beberapa lainnya lagi akan memalingkan wajah. Bagi santri laki-laki, mereka bertiga adalah gadis-gadis yang sangat pemberani dan tidak kenal takut.
Sesampai di gerbang samping pondok, Dira dan Gisel hampir berteriak putus asa melihat antrian panjang di gerbang. Dada mereka bernafas penuh sesak, memandangi barisan santriwati yang menunggu mendapatkan izin dari pengawas gerbang.
"Terobos aja!" Kata Dira tidak sabar.
Tapi Gisel segera menghentikannya,"Kamu akan ditugaskan di kamar mandi jika memaksa menerobos keluar. Lihat dong yang lain, mereka semua dengan sabar mengantri."
__ADS_1
Gisel menunjuk orang-orang itu dengan tatapan putus asa.
"Ah, habisnya ribet." Gerutu Dira tidak puas.
Mau bagaimana lagi, akses keluar untuk dibuka hanya satu gerbang sedangkan yang ingin keluar tidak bisa dihitung lagi dengan jadi saking banyaknya. Mereka semua punya tujuan yang sama. Yaitu keluar untuk berbelanja.
Aish sesungguhnya menyesali betapa banyak antrian orang-orang ini. Menurutnya setelah keluar dari sini ia mungkin tidak memiliki kesempatan untuk menyusul habib Khalid keluar. Hah, tapi tidak apa-apa. Toh, ujung-ujungnya mereka juga akan keluar pondok untuk membeli gamis tambahan di toko depan.
Aish diam-diam menelan ketidaknyamanan di dalam hatinya.
10 menit kemudian mereka akhirnya berhasil keluar. Meskipun telah menghabiskan banyak waktu di gerbang, ambisi Dira dan Gisel sama sekali belum surut. Mereka masih kukuh ingin mengejar keberadaan habib Khalid untuk memperjuangkan sahabat mereka. Pasalnya ekspresi sedih saat menatap kosong kepergian sang habib tadi begitu hidup di dalam benak mereka.
Aish itu kuat, jarang menangis atau menunjukkan ekspresi sedihnya. Di antara mereka bertiga, Aish adalah yang paling tangguh.
Dan saat melihat ekspresi kesakitan Aish barusan mereka juga ikut merasakan sakit. Mereka tahu pasti rasanya sangat tidak nyaman dan karena itulah mereka berdua sangat bertekad untuk menyusul sang habib.
"Ke arah sini." Dira memimpin jalan ke depan.
Semakin jauh mereka berjalan maka semakin sepi jalan yang mereka lewati. Sampai akhirnya mereka tidak melihat keberadaan santri dan santriwati lagi.
"Percuma, walaupun kita pergi menyusul kak Khalid, kita enggak akan pernah ketemu sama mereka. Selain itu kita mau nyusul pakai apa? Kita enggak punya mobil buat ke sana." Kata Aish berusaha menghentikan mereka pergi.
"Aku yakin mereka ke pasar itu jadi meskipun terlambat, kita masih bisa menyusul, kok. Dan jangan khawatir soal kendaraan. Tunggu saja beberapa menit dan kita akan bertemu dengan taksi." Kata Dira gampang.
"Iya, Aish. Udah kamu tenang aja. Kita pasti bisa sampai kok menyusul mereka." Kata Gisel juga sama santainya.
Aish menggelengkan kepalanya geli melihat betapa keras kepala kedua sahabatnya ini.
"Baiklah, terserah kalian." Ujarnya tidak perduli.
Ia berdiri sambil bersedekap dada di pinggir jalan, menonton keteguhan sahabatnya yang perlahan mulai surut dari wajah mereka. Ugh, terkadang kenyataan itu pahit tapi mau tak mau harus dihadapi.
__ADS_1
Beberapa menit sudah terlewati tapi belum ada satupun taksi yang lewat. Aish tidak tahu apakah harus bersyukur atau sedih di dalam hatinya karena ia tidak bisa menyusul sang habib pergi.