Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 19.5


__ADS_3

Sementara menunggu makan malam disajikan, alis dan kedua sahabatnya mengobrol dengan teman-teman kamar yang lain. Kebetulan malam ini teman-teman kamar yang lain duduk di meja yang sama dengan mereka bertiga. Dan karena itu meja makan mereka adalah meja yang paling ramai atau ribut di antara semua meja di kantin ini.


"Gimana sih tadi siang, aku nggak tahu jalan ceritanya. Aku denger kalian udah pulang aja?" Obrolan mereka tiba-tiba disela oleh gadis yang tidak dikenal. Gadis itu berasal dari meja sebelah. Mungkin karena meja mereka terlalu ramai perhatian Gadis itu jadi teralihkan.


"Nana, kamu nggak gabung sama teman-teman kamar kamu yang lain?" Ternyata nama Gadis itu adalah Nana berasal dari kamar paling ujung lantai 1 gedung asrama.


Dia tidak lain adalah ketua kelas Aira. Orang yang sempat menguji Aira tadi siang.


"Teman-teman kamarku duduk di meja-meja terpisah dan kamarku biasanya tidak makan di meja yang sama. Tapi ngomong-ngomong kelas kalian sangat kompak ya?" Ucap Nana dengan senyuman lembut di wajahnya.


Biasanya setiap tahun akan ada pemilihan kamar paling kompak dan terbaik di gedung asrama. Kamar yang terpilih adalah kamar yang memiliki penilaian terbaik dari kamar-kamar lainnya entah itu dari segi kebersihan, kedamaian, kekompakan, dan kesatuan. Kamar-kamar yang terpilih nantinya akan mendapatkan hadiah sejumlah uang yang dialokasikan langsung oleh pondok pesantren sebagai bentuk penghargaan.


"Nana jangan iri ya, penghargaan tahun ini akan diakuisisi oleh kamar kami." Ucap salah satu teman kamar Aish dengan nada bercanda.


Mereka tidak berharap banyak untuk penilaian tahun ini. Semua orang tidak lupa dengan beberapa kasus yang disebabkan oleh Aish dan kedua temannya, dengan kasus-kasus ini saja mereka akan memiliki poin nilai rendah. Jadi tidak ada yang berharap banyak. Mereka juga tidak menyalahkan Aish dan kedua temannya hanya karena masalah mereka membuat nilai poin kamar mereka rendah. Jujur saja sebelum mereka bertiga masuk, kamar mereka memang tidak pernah mendapatkan juara.


"Aku tidak akan iri, kok. Kalian belum menjawabku tadi, Aku ingin tahu kenapa Aish tidak jadi menjalankan hukumannya membajak sawah selama sehari. Dengar-dengar dia dipulangkan tadi siang." Nana kembali ke topik.

__ADS_1


Sebagai orang luar yang mengikuti masalah ini, dia ingin tahu alasan mengapa Aish dan kedua temannya dipulangkan tadi siang. Padahal Abah meminta mereka untuk membajak sawah sampai sore harinya sesuai dengan jam kerja para petani yang disewa oleh pondok. Dia bukannya berniat jahat sih, tapi dia lebih ingin tahu. Penasaran kenapa mereka bertiga bisa diringankan hukumannya. Dan dia tidak percaya bahwa Aish dan kedua temannya menggunakan uang untuk menyogok, sebab pondok pesantren pasti tidak akan menerimanya.


"Hukuman kami masih ada. Karena alasan tertentu pondok pesantren memutuskan untuk mengalihkan hukuman kami. Jadi bukan berarti kami bebas dari hukuman ini. Kak Khalid bilang kami diminta untuk menunggu selama beberapa waktu dan bila sudah siap, kak Nasha sendiri yang akan mengkonfirmasi kepada kami." Aish langsung angkat bicara menjawab rasa penasaran Nana.


Mata Nana bersinar kaget begitu mendengar panggilan akrab Aish kepada sang habib. Dia juga menyadari bahwa panggilan Aish dan Aira kepada sang habib berbeda. Karena seingatnya Aira mengatakan bahwa dia mengenal sang habib dan memiliki hubungan yang cukup dekat, lantas mengapa Aira masih memanggil sang habib dengan panggilan hormatnya sedangkan Aish justru memanggil sang habib dengan panggilan yang sangat akrab atau sebut saja ini intim.


"Oh, jadi begitu. Aku pikir kalian sudah menyelesaikan hukuman ini." Nana memasang senyum yang manis sembari berusaha menyamarkan kaget di wajahnya.


"Aish, apakah adikmu Aira?" Matanya menatap lurus Aish, diam-diam membuat penilaian di dalam hatinya.


Senyuman tipis di wajah Aish langsung meredup, dia menundukkan kepalanya berpura-pura memainkan tisu di tangannya. Aira, adalah saudaranya namun di saat yang bersamaan merupakan sebuah duri di dalam hidupnya.


"Ya, dia adikku, kenapa?"


"Bukan apa-apa. Aku hanya ingin memberitahumu bahwa adikmu itu sekarang tinggal di kamar yang ku pimpin. Kamu tidak perlu takut terjadi apa-apa kepada adikmu, karena aku yang akan menjaganya. Oh ya, tadi siang aku juga mendengar bahwa dia ingin bertemu denganmu. Katanya dia sangat merindukan kamu." Entah disengaja atau tidak, kata-kata Nana seolah memperingatkan Aish bahwa ada parasit yang ingin mendekat.


Nana seperti mengatakan bahwa dia harus menjauh dari parasit ini.

__ADS_1


"Tolong katakan kepadanya untuk jangan datang. Jika dia memang ingin memiliki hubungan yang baik dengan ku maka lebih baik untuk menjaga jarak. Tidak usah berpura-pura atau menggunakan sikap palsu, karena ini bukan rumah." Kata-kata Aish membuat mereka semua terdiam.


Aish adalah orang yang sangat berterus terang, bila dia tidak menyukai orang maka dia tidak kan suka dan bila dalam menyukai orang maka dia tidak perlu menunjukkan nya.


Dan dia sama sekali tidak takut hubungan buruknya dengan keluarga diketahui oleh banyak orang, dia tidak suka bersikap palsu. Namun ini akan berbeda jika menyangkut sang habib, di depannya dia suka bersikap palsu daripada memperlihatkan sisi menyedihkan nya.


"Setelah mendengar apa yang kamu katakan aku jadi lega, tenang saja aku akan menyampaikan apa yang kamu katakan."


Makan malam mulai disajikan. Para staf dapur umum berjalan berkeliling mengirim makanan ke setiap meja. Proses ini agak lambat karena santriwati yang diurus tidak hanya 100-200 tapi lebih dari 2000 orang. Kaki dan tangan mereka bergerak cepat tanpa mengendur, seolah dikejar oleh waktu.


Melihat staf dapur umum dapur bergerak, perhatian mereka hanya teralihkan beberapa detik saja.


"Kamu tahu, aku tidak perlu berbohong kepada mu. Bahwa adikmu itu sepertinya memiliki niat yang buruk kepada mu. Dia baru saja tinggal sehari di sini, tapi semua keburukanmu di rumah dulu dibeberkan olehnya kepada teman-teman kamarku. Jadi hati-hati." Ucap Nana blak-blakan.


Karena Aish berani blak-blakan maka sebagai orang luar dia juga tidak takut. Lagi pula ini juga demi kebaikan Aish sendiri.


Aish tersenyum tipis, melihat Nana,"Terima kasih."

__ADS_1


Teman-teman kamar yang lain bingung tidak tahu harus berkata apa karena ini juga masalah pribadi Aish. Tapi informasi dari obrolan singkat Nana dan Aish ini sangat besar untuk mereka. Dalam artian mereka tahu bahwa hubungan dengan saudaranya tidak baik. Dan saudaranya itu sepertinya memiliki niat yang tidak baik. Sebagai seorang teman walaupun tidak cukup dekat, teman-teman kamar Aish pasti lebih condong membela Aish. Mereka mempercayai Aish. Karakter Aish sudah menunjukkan bahwa dia orang yang tidak suka berbasa-basi, tidak suka ikut campur dalam urusan orang lain dan lebih suka diam meskipun dibicarakan buruk oleh orang lain. Dan Aish adalah tipe orang yang berteriak keras bila seseorang mengganggu teman baiknya.


__ADS_2