
Semuanya terjadi begitu tiba-tiba. Tanpa disadari sekarang dia sudah berdiri di depan pintu ruang perawatan di rumah sakit. Dia tidak sendirian karena bibi dan paman juga ikut menemaninya ke sini. Bahkan Abah dan Umi juga datang ke sini untuk melihat kondisi serta situasi habib Khalid.
Semua orang mengatakan ini tidak serius karena habib Khalid hanya pingsan. Tapi pandangan Aish berbeda. Selama dokter tidak mengatakan apa-apa, dia tidak akan mempercayai apa yang dikatakan oleh orang-orang.
Menghela nafas panjang. Aish lupa memberitahu kedua sahabatnya. Mungkin mereka sudah tahu tentang kejadian ini. Dia lupa berbicara dengan kedua sahabatnya- lebih tepatnya dia tidak memiliki kesempatan untuk berbicara dengan mereka. Karena setelah habib Khalid pingsan, tangannya tidak mau lepaskan tangan Aish. Gara-gara ini dia tidak bisa bergerak ataupun mencari kedua sahabatnya.
"Bibi, bagaimana dengan Kakekku di pondok pesantren?" Dia tidak punya waktu untuk menganalisis hubungan mereka berdua dan menerima begitu saja jika keluarga Mamanya datang.
Karena keluarga Mamanya datang, maka dia tidak punya alasan untuk menolak kedatangan mereka. Aish juga memikirkan pendapat Mamanya di alam sana. Dia pasti senang mengetahui bila keluarganya mau datang dan mengakui Aish i sebagai kerabat setelah sekian lama tidak bertemu.
"Kakak kamu baik-baik saja. Tanpa kita dia sudah memiliki orang-orang yang akan mengawasinya." Bibi menjawab Aish dengan nada suara yang lembut.
Memanfaatkan kesempatan ini, bibi mulai berbicara tentang latar belakang keluarga dan alasan kenapa mereka berpisah dulu. Harusnya Aish mendengarkan dengan serius karena ini masalah yang sangat penting, tapi karena situasi habib Khalid sekarang, dia tidak mau berbicara ataupun mendengarkan bibi bernostalgia.
Bibi melihat rasa bosan di mata keponakannya. Mendesah tertahan, dia mengangguk kecil kepada Aish dan pergi menghampiri suaminya. Paman tahu kesulitan yang dihadapi oleh istrinya, jadi dia menarik bibi ke dalam pelukan dan mengucapkan beberapa patah kata penghiburan.
15 menit kemudian dokter akhirnya keluar dari bangsal tempat habib Khalid dirawat. Kondisi habib Khalid sudah stabil setelah melewati masa-masa menegangkan.
"Obat-obatan yang diminum oleh pasien mengandung beberapa unsur yang tidak bisa ditanggung berlebihan oleh tubuh. Jika diminum terlalu banyak, akhirnya akan seperti pasien. Tubuhnya mengalami kelumpuhan dan kehilangan kemampuan untuk berpikir. Awalnya efek obat ini tidak akan merugikan tubuh adalah jika diminum sesuai dengan anjuran dokter ataupun pihak apotek. Tapi karena dosis yang diminum oleh pasien melebihi anjuran dan tanggungan kapasitas tubuh, pasien berakhir seperti ini. Untungnya kalian segera membawa pasien ke rumah sakit untuk segera ditangani. Jika terlambat, saya takut ada komplikasi serius kepada pasien." Di samping Aish mendengarkan dokter berbicara dengan paman dan bibi mengenai kondisi habib Khalid di dalam.
Aish mengepalkan tangannya menahan amarah. Kondisi habib Khalid persis dengan Aira saat dia menaruh beberapa tetes obat ke dalam minumannya beberapa bulan yang lalu. Namun kondisi Aira tidak terlalu parah karena Aish tidak kejam saat mengatur dosis obat di dalam minuman Aira.
__ADS_1
Kondisi habib Khalid lebih parah. Itu karena dosis obat yang diminum oleh habib Khalid cukup banyak hingga membuat tubuhnya tumbang.
Obat-obatan terlarang...
Dari mana habib Khalid meminum obat-obatan ini?
Sejak kapan itu dimulai- ah, sejak habib Khalid meminum air putih yang dibawa oleh dirinya ke ruang tamu. Air yang diberikan kepada habib Khalid sama dengan air yang dia minum di dalam dapur, tapi tidak terjadi apa-apa kepada dirinya. Namun mengapa terjadi sesuatu kepada habib Khalid setelah meminum air itu?
Dia menundukkan kepalanya berpikir keras. Mencoba mengingat-ingat bagian yang pernah dia lewatkan. Apakah dia telah melupakan sampai episode kecil?
Tapi seharusnya tidak karena dia sendiri yang mengambil air ke dalam gelas. Dia yakin bahwa tidak ada apa-apa di dalam kelas pada saat itu dan dia lebih yakin tidak ada apa-apa di dalam air.
"Aira?"
Dan apa tujuan mereka menaruh obat ke dalam minuman Aira dan habib Khalid?
Dia tidak merasa bahwa orang-orang di pondok pesantren selicik ini. Tidak, tapi memang tidak ada yang memiliki pikiran sekejam ini di pondok pesantren. Pondok pesantren juga ketat. Mereka mana mungkin membiarkan santri atau santriwati membeli obat-obatan terlarang apalagi sampai membawanya masuk.
Lalu, darimana obat ini berasal?
"Apa yang sedang kamu lakukan?" Saat berbalik Aish melihat Aira memegang gelas air putih yang ada di atas nampan.
__ADS_1
Aira tampak terkejut dan langsung melepaskan gelas itu dari tangannya.
"Aku tadi ngelap pinggiran gelasnya, kak. Tadi agak kotor." Jawabnya sambil mundur beberapa langkah menjauh dari nampan.
Gelagatnya agak aneh sangat aneh pada saat itu. Aish sekarang baru mengingatnya. Memang agak aneh melihat Aira tiba-tiba mengelap gelas yang sudah bersih dan tidak ternoda. Bodohnya dia tidak terlalu memikirkannya dan langsung membawa hari itu ke ruang tamu hingga berakhir diminum oleh sang habib.
Mengepalkan tangannya marah,"Apakah dia pelakunya?" Bisiknya dikuasai oleh amarah.
Jika Aira memang pelakunya maka semua ini tidak terlalu janggal. Coba pikirkan baik-baik. Aira dan habib Khalid meminum obat-obatan terlarang. Lalu, ada drama di mana Aira menuduh habib Khalid hampir saja menyentuhnya di kamar. Padahal orang yang dia tuduh adalah Nadira. Namun karena tidak bisa berpikiran jernih, Aira tidak mengenali bahwa dia menangkap orang yang salah. Maka semuanya sekarang logis. Semuanya sekarang bisa dipahami.
"Pantas saja Aira bersikap baik kepadaku. Padahal saat kami bertengkar di malam itu, dia secara terus terang menghinaku di depan Gisel dan Dira. Dia sudah merobek wajahnya di depan ku dan yang lainnya, maka dia tidak perlu lagi pura-pura baik di depan ku. Tapi tadi siang dia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Aku tertipu. Gara-gara aku habib Khalid hampir saja.... Aku menyakitinya." Aish menyalahkan diri sendiri karena ceroboh.
Bila dia bisa berpikir kritis dan tidak ceroboh, maka mestinya semua ini tidak terjadi. Kekasihnya tidak akan dilarikan ke rumah sakit dan tidak akan terjerat rasa sakit. Tapi karena kelalaian dirinya, habib Khalid harus menderita.
Ya Allah, ya Tuhanku. Aku tidak tahu apakah tebakan ini benar atau tidak. Karena hanya Engkau lah yang mengetahui rahasia ini. Namun terlepas dari benar atau tidaknya apa yang aku pikirkan tadi, aku berterima kasih atas perlindungan-Mu kepada kekasihku. Dengan perlindungan dan pertolongan dari-Mu, kak Khalid diselamatkan dari fitnah besar nan kejam ini. Ya Allah tanpa bantuan dari-Mu, aku tidak tahu akan seburuk apa kejadian hari ini. Terima kasih ya Allah, aku sungguh bersyukur atas pertolongan serta perlindungan dari-Mu. Batin Aish melambungkan rasa syukur dan terima kasihnya kepada Sang Maha Kuasa.
Semuanya kembali atas perlindungan dari sang Maha Kuasa. Jika benar Aira memang berniat jahat kepada kekasihnya, Allah tidak akan diam saja membiarkan kekasihnya dijebak dan berakhir dalam jeratan kejahatan Aira. Tapi bila semua ini bukanlah rencana jahat Aira, Allah tetap tidak akan membiarkan kekasihnya melalui kejahatan ini.
Benar saja,
"Seperti yang kak Khalid pernah bilang bahwa Allah subhanahu wa ta'ala tidak akan pernah mengecewakan hamba-hamba yang berserah diri kepada-Nya. Allah tidak akan pernah mengecewakan hamba yang Dia cintai, sungguh janji Allah itu pasti. Aku sangat bersyukur karena Allah menjaga kak Khalid dari marabahaya. Terima kasih ya Allah."
__ADS_1
"Nak, dokter bilang untuk sekarang hanya satu orang yang bisa masuk ke dalam. Apakah kamu mau masuk ke dalam untuk menemani habib Thalib? Disarankan lebih baik kamu masuk saja karena dia pasti ingin bertemu dengan kamu." Setelah berbicara dengan dokter bibi segera mencari Aish.
Soalnya Aish selalu khawatir dan memikirkan habib Khalid semenjak di bawa ke rumah sakit.