
Pulang ke asrama mereka langsung berbagi belanjaan dengan teman-teman di kamar hingga semua yang dibeli habis dibagi rata. Melihat semua orang kini sibuk makan di kamar, Aish langsung beraksi. Ia mengeluarkan uangnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi sambil berbicara lantang memanggil semua orang.
"Teman-teman, tolong perhatikan aku." Teriak Aish dengan sejumlah uang di tangannya.
Benar saja, perhatian semua orang langsung jatuh kepadanya. Terlebih lagi ketika melihat uang merah di tangan Aish, sontak saja mata mereka berbinar terang. Di dalam hati mereka menduga-duga apakah Aish akan membagikan uang juga kali ini melihat saat ini ada sejumlah uang di tangannya.
"Ada apa, Aish?" Rina, bendahara kamar mengambil inisiatif untuk bertanya.
"Semalam ada pencurian di kamar ini." Kata Aish langsung mengagetkan semua orang.
Mereka bahkan lupa memakan makanan yang sudah terangkat di depan mulut mereka saking kagetnya.
Aish tersenyum acuh tak acuh melihat ekspresi kaget mereka. Diam-diam matanya melihat reaksi semua orang yang sebagian besar menunjukkan keterkejutan. Mereka pastinya tidak menyangka ada pencurian sebab kamar ini belum pernah mendapatkan kasus ini sejak awal mondok di sini.
"Pencurian?"
"Kok aku enggak tahu?"
"Barang siapa yang dicuri, mungkinkah milik Aish?"
"Kayaknya iya, sih. Soalnya Aish kan banyak uang."
Suara-suara pertanyaan dan kebingungan mulai bergema di dalam kamar. Aish tidak menghentikan mereka berbicara. Malah diam-diam dirinya menonton pertunjukan ini sambil mengawasi orang yang mungkin saja menjadi pelaku pencurian uang sahabatnya.
"Kamar kita enggak pernah ada kasus pencurian, deh. Selama ini kita aman-aman saja. Mungkinkah Aish lupa menaruh barangnya atau hanya asal bicara saja?" Gadis awalnya panik tiba-tiba mendengar Aish mengungkit soal pencurian semalam.
Tapi saat memikirkan tidak ada bukti dan saksi yang melihat, dia langsung menjadi tenang dan mulai mengorganisir situasi dirinya sendiri agar sebisa mungkin tidak disorot oleh Aish. Dia lalu mundur beberapa langkah ke samping teman tidurnya, berusaha meminimalisir keberadaannya dari orang-orang di kamar.
__ADS_1
Benar, dia lah pelaku yang telah mengambil uang Gisel. Bukan niat hatinya berbuat jahat namun dia melakukannya karena terpaksa. Selain itu dia merasa cemburu dengan Gisel karena mendapatkan perhatian yang sangat besar dari Aish. Seringkali otaknya berpikir jika dirinya lah yang harusnya mendapatkan semua itu dan diperlakukan dengan baik oleh Aish.
Aish, cek, tidak ada yang lebih menarik daripada uang ditangannya.
"Kamu ngomong apa, sih? Belum pernah terjadi bukan berarti enggak akan pernah terjadi. Kita enggak tahu isi hati semua orang dan kasus ini bisa saja terjadi karena terdesak. Aku sangat yakin kalau Aish memang kehilangan uang di kamar kita semalam." Kata teman tidurnya menyanggah.
Bagaimana mungkin Aish berbohong?
Aish bukan orang yang pelit dan suka berbagi. Namun suka berbagi berbeda dengan pencurian. Aish mungkin rela membagi makanannya tapi tidak suka di curi miliknya. Hem, siapapun pasti akan memiliki pikiran yang sama.
Sebab, pencurian adalah kejahatan.
"Oh...aku meragukannya." Kata Gadis cemberut.
"Aish, apakah ada barang mu yang hilang semalam? Mungkinkah kamu lupa menaruh barang mu dimana sehingga kamu jadi salah paham?" Tanya Rina hati-hati.
"Bukan barang-barang ku, tapi barang-barang Gisel. Sepulang dari kantin semalam dia tiba-tiba menemukan bila lemarinya berantakan seperti ada seseorang yang sudah menggeledahnya. Setelah diperiksa ternyata uang tabungan Gisel sebanyak 4 juta enam ratus dan beberapa batang coklat juga hilang dari dalam lemari. Sekarang dia tidak punya apa-apa lagi selain dua batang coklat yang tersisa di dalam lemarinya." Jawab Aish dengan suara lantang yang disengaja.
Ketika mendengar jumlah uang yang hilang, mata-mata para santriwati langsung membola kaget. Uang sebanyak itu adalah nominal yang sangat besar untuk mereka yang biasa memegang uang dibawah satu juta. Kehilangan uang beberapa ratus ribu saja sakitnya sudah mendarah daging apalagi jika sudah menyentuh angka jutaan? Mereka tidak bisa membayangkan betapa hancurnya hati mereka saat itu.
"Hampir 5 juta. Ya Allah, tega banget sih orang yang ngambil." Suara-suara prihatin mulai bergema lagi di dalam kamar.
Kali ini lebih ramai dan berisik daripada sebelumnya.
"Astagfirullah, kok bisa yah ada orang yang seperti itu? Kasian banget yang punya uang, Gisel pasti sedih sekarang uang tabungan nya hilang."
"Siapa yang enggak sedih. Uang sebanyak itu pasti sudah Gisel tabung dengan susah payah dan tiba-tiba hilang begitu saja, kalau itu aku...jangan ditanya lagi, reaksi pertama aku pasti nangis kejer. Pokonya enggak mau tahu uang itu harus dibaliki. Kalau enggak, aku akan lapor polisi!" Kata yang lain bersemangat.
__ADS_1
"Iya, kamu benar. Kasus pencurian ini enggak kecil dan harus segera dilaporkan ke polisi." Kata orang di sampingnya juga setuju.
Sementara itu Gadis, pelaku yang sedang dibicarakan teman kamarnya tidak bisa lagi tersenyum di wajahnya. Kulit wajahnya langsung memucat begitu mendengar ancaman orang-orang di sekitarnya.
Lapor polisi?
Dia menggelengkan kepalanya panik. Hati yang tadinya sempat tenang kini kembali gelisah. Tubuhnya mulai menggigil membayangkan dirinya dibawa ke kantor polisi. Jika dia tidak duduk di kasur saat ini, maka mungkin dia sudah lama jatuh merosot ke lantai.
"Enggak... enggak, enggak mungkin. Mereka enggak punya bukti apa-apa jadi polisi tidak akan bisa menangkap ku. Yah... mereka enggak punya bukti. Benar, apa yang perlu aku takutkan? Mereka sama sekali tidak punya bukti di sini." Bisiknya meyakinkan diri sendiri.
Dia meremat tangannya yang berkeringat dingin entah sejak kapan. Meremat nya kuat untuk melampiaskan rasa gugupnya.
Keanehan sikap Gadis tentu saja telah diperhatikan oleh teman tidurnya. Dia melihat Gadis dengan tatapan menyelidik sambil memikirkan kejadian semalam.
"Coklat?" Bisiknya curiga.
Semalam Gadis kembali dari luar dengan noda coklat di bibirnya.
"Kiriman uang?" Dan hari ini Gadis mentraktir beberapa teman di kamar saat sekolah tadi.
Belanjaannya cukup banyak dan cukup tidak biasa untuk orang yang sangat berhemat seperti Gadis.
"Dan hal yang paling mencurigakan adalah...kenapa staf pondok mengizinkan Gadis menelpon orang tuanya larut malam? Bukannya kantor udah tutup dari jam 5 sore?" Ini adalah keanehan yang masih terasa ganjal di dalam hatinya.
Bukannya dia meremehkan akhlak temannya itu, tidak. Hanya saja semua ini begitu kebetulan dengan berita kehilangan uang Gisel. Selain itu ada juga keanehan dari sikap Gadis semalam, bukan tak mungkin jika pelakunya adalah Gadis...
"Kenapa harus diributin sih, lagian uang itu juga tidak seberapa buat mereka yang berasal dari keluarga orang kaya." Gumam Gadis tidak puas.
__ADS_1