
"Aku bingung... kapan-kapan aku akan melihatnya bila ada kesempatan." Aish menggelengkan kepalanya mengesampingkan pikiran ini.
Fokusnya saat ini memperjuangkan kasus kehilangan uang sahabatnya. Ia tidak boleh memikirkan yang lain dulu.
"Okay, kita bisa melihatnya nanti." Dira melihat kebingungan di mata Aish dan dia percaya jika sahabatnya ini sungguh tidak tahu apa-apa tentang masalah ini.
Aneh, masalah ini sungguh aneh dan sayangnya mereka jauh dari kota tempat tinggal, jadi mereka tidak langsung mengkonfirmasi kebenarannya.
"Ayo pergi belanja. Hari ini kita harus membeli banyak makanan untuk merayakan misi kita." Kata Aish setelah menstabilkan suasana hatinya yang tadinya rumit.
Mendengar kata belanja, baik Dira dan Gisel langsung bersorak. Maka tanpa penundaan lagi mereka langsung menarik lengan Aish menuju kantin pondok pesantren. Kantin masih ramai seperti biasa karena ada banyak santriwati yang lalu lalang membeli banyak barang di kantin. Kemudian tidak jauh dari kantin tempat mereka berdiri, ada kantin pondok khusus untuk laki-laki dan sama ramainya. Suasananya sangat hidup tapi sayang kedua tempat ini dibatasi oleh pagar besi yang menghalangi pikiran beberapa orang yang ingin bercengkrama dengan lawan jenis.
Sungguh menyiksa.
"Jangan beli coklat di sini." Aish menghentikan Gisel menyentuh kemasan coklat.
"Kenapa?" Gisel cemberut.
Aish memutar bola matanya malas.
"Kualitas coklat ini enggak baik, jadi jangan dibeli. Kalau mau makan coklat mending belinya besok aja. Soalnya besok kan kita libur jadi bisa izin ke pasar." Bisik Aish tidak berani berbicara lantang takut di dengar oleh orang lain.
Barang-barang di sini tidak mahal dan pastinya berkualitas rendah, tentunya disesuaikan oleh kemampuan para santri dan santriwati dalam berbelanja jadi wajarlah Aish menolak membeli coklat di sini. Bukannya meremehkan tapi coklat ini untuk kesehatan dan baiknya memakan kualitas yang lebih baik untuk tubuh. Selain coklat, Aish enggak masalah kok melihat Gisel dan Dira membeli apapun yang mereka inginkan.
"Oh...okay, aku paham." Wajah cemberut Gisel hilang digantikan oleh ekspresi sumringah di wajahnya.
Ah, betapa senangnya.
"Belanja apapun yang kalian suka." Kata Aish tidak perduli.
Gisel dan Dira tidak segan. Mereka langsung memanjakan diri untuk membeli banyak makanan ringan dan gorengan. Pasalnya kemarin mereka baru saja di razia dan kehilangan semua makanan yang tersimpan. Tak puas, hari ini mereka memutuskan untuk meluapkan ketidakpuasan mereka untuk membeli banyak makanan enak.
Mereka membeli banyak barang, sedangkan Aish seperti biasa. Sejak awal ia hanya suka menonton kedua sahabatnya berbelanja tanpa niat untuk ikut berbelanja.
Saat sedang asik menonton, seseorang tiba-tiba mendekatinya.
"Aish, kamu datang lagi." Sapaan yang akrab dengan nada yang akrab pula.
Aish menoleh ke samping dan langsung tersenyum saat melihat Dimas kini sudah berdiri di dekatnya.
"Kak Dimas. Iya, aku datang lagi, kak. Teman-teman ku mau belanja setelah kena razia kemarin." Kata Aish sambil tersenyum.
Melihat begitu indah guratan senyum di wajah menawan Aish, hati Dimas mau tak mau langsung meleleh. Dia menatap Aish gugup, memandangi wajahnya adalah sebuah nikmat yang menyentuh hati terdalamnya. Jujur saja, dia ingin sekali memandangi keindahan wajah ini berlama-lama untuk memuaskan kerinduan hatinya.
"Kak Dimas, enggak apa-apa, kan?" Tanya Aish merasa aneh dengan Dimas.
Sudah beberapa detik berlalu, namun Dimas masih terpaku memandangi wajahnya. Apa...apa ada sesuatu yang aneh dengan wajahnya?
"Oh..." Dimas tersadar dari lamunannya,"Kamu ngomong apa tadi?" Tanya gelagapan.
__ADS_1
Aish masih tersenyum,"Kak Dimas kenapa? Kok ngelamun?"
Dimas tersenyum malu. Dia menundukkan kepalanya sebentar sebelum terangkat kembali memandangi wajah tersenyum Aish.
"Aku enggak apa-apa, kok. Eh ngomong-ngomong kamu kok bisa belanja sebanyak itu? Emang kantin enggak ngelarang?" Tanya Dimas heran.
Setiap kali Aish belanja, pasti dia membeli banyak barang dan selalu dibiarkan pergi oleh kantin. Padahal normalnya kan enggak boleh karena jika membeli terlalu banyak barang sama saja melanggar peraturan pondok pesantren.
Ah, sejujurnya tidak masalah Aish membeli banyak barang karena dia bisa membantu. Tapi melihat kedua sahabat Aish yang sibuk menghamburkan uang, Dimas tahu hari ini dia tidak memiliki peluang untuk membantu Aish. Tapi tidak masalah, berbicara dengan Aish sekarang sudah melegakan hatinya.
"Kantin izinin kok. Soalnya aku pakai kartu kamar kami. Ketua kelas bilang kami enggak apa-apa bawa kartu ini karena teman-teman di kamar jarang belanja. Jadi daripada kartunya dibiarkan menjamur, lebih baik kami gunakan saja. Toh, manfaatnya dapat dinikmati bersama-sama." Kata Aish menjelaskan.
Pondok memang tidak mengizinkan belanja yang berlebihan, tapi aturan ini untuk individu saja dan tidak berlaku untuk kamar. Karena itulah kartu kamar ini ada. Selama kartu ini dibawa, maka artinya kartu ini melambangkan bahwa semua belanjaan ini adalah milik kamar yang bersangkutan. Maka wajar saja setiap pemegang kartu diizinkan belanja banyak. Ini kelebihannya. Dan kekurangannya adalah, kartu ini hanya digunakan sekali seminggu!
Ugh, sangat menyiksa.
"Maka semuanya masuk akal. Enggak heran belanjaan kalian begitu banyak." Ujar Dimas mengerti.
Aish hanya tersenyum saja tanpa mengatakan apapun. Sejujurnya ia tidak suka banyak bicara, terlebih lagi kepada orang yang baru dikenal. Seperti sekarang, ia sudah bosan dan mengalihkan perhatiannya kembali kepada sahabatnya yang mulai menghitung semua belanjaannya dengan kalkulator kantin.
Sayang sekali, Dimas masih ingin berbicara banyak dengannya dan tidak melihat ketidaknyamanan yang Aish rasakan.
"Aish, kamu sekarang sudah kelas 12, kan? Jadi sebentar lagi kamu akan lulus di sini." Dimas tiba-tiba mengungkit masalah ini.
Aish menghitung, mungkin beberapa bulan lagi ia akan lulus setelah melewati serangkaian ujian di sekolah. Hem, tidak lama lagi.
Dimas mengepalkan tangannya gugup. Wajahnya yang selalu tersenyum tiba-tiba menjadi kaku seiring dengan detak jantungnya yang mulai membuat keributan di dalam dadanya.
"Kamu... apakah akan melanjutkan sekolah di sini lagi atau langsung pergi untuk kuliah di luar? Atau mungkin saja...kamu berniat memulai rumah tangga dengan seseorang?" Tanya Dimas berharap-harap cemas.
Aish termenung. Di antara pilihan yang Dimas tanyakan, ia lebih suka yang ketiga. Tentu saja bila Allah ridho, ia ingin sekali membina rumah tangga dengan sang habib. Em, meskipun usianya masih 18 tahun, tapi secara mental Aish sangat siap ke jenjang itu.
"Aku pikir akan- kak Khalid!" Aish berseru kaget melihat habib Khalid juga ada di sini.
Sebenarnya habib Khalid masuk lewat pagar besi pembatas bersama dengan beberapa orang. Mungkin sang habib sibuk dengan proyek barunya di pondok pesantren. Dan Aish sangat bersyukur dengan keputusan untuk segera datang ke sini.
Sementara itu Dimas merasa rumit di dalam hatinya.
Kak Khalid? Batin Dimas aneh.
Bingung sekaligus penasaran, Dimas langsung menoleh ke belakang. Dia melihat habib Khalid sedang berjalan ke arah mereka. Gugup, dia segera mundur beberapa langkah jauhnya dari Aish untuk menjaga jarak.
"Kak Khalid!" Tanpa menunggu habib Khalid datang, Aish buru-buru menghampirinya.
Langkahnya sangat riang dengan senyum ceria di wajahnya. Langkah habib Khalid tiba-tiba menjadi lebih ringan melihat tingkah manis Aish.
"Belanja?" Tanya habib Khalid sambil tersenyum.
Aish mengangguk cepat. Tingkahnya terkesan manja di depan sang habib, berbanding terbalik saat berbicara dengan Dimas. Melihat ini Dimas tiba-tiba menyadari bahwa Aish tidak berbeda dengan santriwati di sini. Karena sebagian besar santriwati di sini diam-diam mengidolakan sang habib!
__ADS_1
"Iya, kak. Hari ini suasana hati sahabat ku sedang buruk jadi aku ingin memanjakan mereka dengan makanan. Enggak apa-apa kan, kak?" Aish bertanya malu-malu. Takutnya habib Khalid berpendapat buruk tentang hal ini.
Habib Khalid tersenyum geli,"Enggak masalah asal jangan berlebihan."
Aish melambaikan tangannya menyangkal.
"Enggak berlebihan. Mereka beli banyak karena mau dibagiin ke teman-teman yang lain juga. Jadi mereka enggak makan banyak sebenarnya."
"Oh ya, kalau begitu kalian sangat baik." Puji habib.
Hati Aish rasanya langsung membumbung tinggi saking senangnya.
"Lalu apa yang sedang kamu lakukan dengannya?" Suaranya bertanya kepada Aish tapi matanya secara sengaja melirik ke arah Dimas.
Dimas tiba-tiba merasa bila punggungnya agak dingin. Dia tersenyum canggung dan mengangguk ringan sebagai sapaan sopan kepada sang habib.
Habib Khalid masih tersenyum dan membalas anggukannya. Benar, wajahnya masih tersenyum tapi entah kenapa Dimas tiba-tiba merasa jika senyuman ini tidak sampai kepadanya. Adakah ini hanya perasaannya saja yang terlalu paranoid?
"Ah, ini kak Dimas, kak. Dia pernah nolongin aku bawain barang belanjaan ku beberapa hari yang lalu. Dia sangat baik." Aish buru-buru memperkenalkan Dimas kepada sang habib untuk menunjukkan betapa sopan dirinya dan betapa berbudi luhur dirinya.
Oh, ia bukanlah orang yang tidak tahu berterima kasih, cek. Untuk mengejar sang habib, ia harus membangun citra gadis yang baik di depan sang habib!
"Tidak...tidak, ini hanya bantuan kecil saja." Kata Dimas menyanggah.
Dia tiba-tiba langsung panik melihat senyuman sang habib kian lebar ketika melihat ke arahnya. Aneh, Aish hanya memuji sedikit saja tapi perasaan yang habib Khalid berikan kepadanya agak berbahaya. Mengapa?
Harusnya sang habib senang jika dia membantu orang yang kesulitan?
Tapi mengapa habib Khalid sepertinya tidak... senang?
"Sangat bagus. Aku dengar kamu sudah mengajukan pemindahan tugas tapi tidak pernah disetujui. Dan setelah hari ini aku pribadi yang akan memindahkan kamu menjadi pengawas di asrama laki-laki. Aku tahu, kamu pasti lelah bertugas di sini." Habib Khalid berjanji dengan tulus dan serius.
Aish sangat senang mendengar kabar baik ini. Ia tidak menyangka jika habib Khalid akan menyetujui impian Dimas setelah diceritakan olehnya betapa baik Dimas saat menolongnya saat itu.
"Kak Khalid adalah orang yang pengertian." Bisik Aish memuji.
Pipinya memerah terang di bawah tatapan lembut sang habib. Ia gugup sejujurnya, namun kegugupan kali ini di dominasi oleh keberaniannya.
Em, sejak sang habib mengizinkannya mengejar Aish percaya bahwa ini adalah kesempatan yang sangat berharga untuknya dan hanya dirinyalah satu-satunya orang yang mendapatkan kesempatan itu!
"Selama untuk kamu, apapun aku lakukan." Balas sang habib berbisik, suaranya begitu kecil hingga Aish tidak terlalu jelas di dalam pendengarannya.
"Kak Khalid tadi ngomong apa?" Aish merasa telah melewatkan sesuatu yang sangat penting.
Habib Khalid terkekeh ringan,"Bukan apa-apa." Dia menolak untuk mengulangi.
Melihat interaksi ambigu mereka berdua, Dimas tiba-tiba merasa diabaikan juga sedih karena Aish langsung melupakan keberadaannya saat bertemu dengan sang habib.
"Itu, habib Thalib.." Dimas memanggil dengan sopan.
__ADS_1