Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 8.10


__ADS_3

Kabar itu langsung menyebar luas ke seluruh penjuru pondok pesantren. Entah siapa yang telah dengan sengaja menyebarkannya, namun yang pasti sekarang hampir semua orang tahu bila ada gadis yang bernama Aisha Rumaisha, seorang gadis kota yang baru mengenal pondok kini sedang memulai pengejarannya kepada sang habib.


Ada berbagai macam rumor yang bertebaran. Salah satunya adalah bila Aish menggunakan cara-cara yang mencolok untuk mengejar sang habib seperti meminta sang habib membelikan sesuatu. Namun rumor ini dengan kukuh dibantah oleh beberapa orang yang mendengarkan kebohongan Aish hari itu. Mereka mengatakan bila makanan itu dititip oleh keluarga Aish yang kebetulan melewati kota ini.


Namun sulit untuk mempercayainya karena Aish sendiri sudah dikenal sebagai gadis yang buruk. Tempramen nya yang arogan dan sulit diatur adalah bukti valid yang paling sulit dihapus dari ingatan banyak orang.


Alhasil Aish kini menjadi orang yang paling diwanti-wanti oleh banyak orang karena sekalinya bergerak, habib Khalid akan terus terjerat!


"Gadis, kamu kok sekarang jarang main sama dia?" Suara cempreng seorang gadis menarik Gadis dari lamunannya.


Gadis mengangkat bahunya lemah.


"Dia kayaknya marah sama aku gara-gara enggak mau bantuin dia kerja waktu itu."


Mendengar alasan itu, teman gadis menjadi sangat marah dan semakin tidak puas dengan sikap Aish yang sok berkuasa.


"Lebih baik seperti ini, Gadis. Dia enggak akan nyari-nyari masalah sama kamu lagi." Kata temannya bersyukur.


Gadis tersenyum datar. Terus terang, dia sama sekali tidak bersyukur dengan jarak yang Aish gariskan kepadanya baru-baru ini. Sebab Aish memiliki terlalu banyak keuntungan yang tidak bisa dia dapatkan dari teman yang lain. Selain itu... dengan bersama Aish, dia setidaknya bisa memata-matai habib Khalid. Tapi apa yang sekarang terjadi?


Dia tidak bisa dekat dengan Aish dan dia bahkan tidak bisa memata-matai habib Khalid lagi.


"Eh, tapi ngomong-ngomong apa yang kamu bilang tadi itu benar yah, Gadis, soal Aish yang berani mengejar habib Thalib dan memaksanya untuk pergi membeli makanan?" Temanya meragukan kebenaran ini karena yang dia tahu habib Khalid tidak mudah untuk ditaklukkan.


Gadis langsung menjadi serius dan memperingatkan temannya dengan suara serius pula.


"Jangan sampai berita ini bocor. Kalau sampai bocor, pondok pasti akan menghukum ku."


Temannya langsung mengangguk serius sambil berjanji tidak akan membuka mulutnya kepada semua orang.


"Kamu adalah teman terbaikku jadi aku memutuskan untuk memberitahumu masalah ini." Kata Gadis lemah.


Apa yang harus Gadis lakukan? Dia sudah tidak tahan lagi dengan semua keberuntungan Aish. Awalnya Gadis tidak terlalu banyak bermimpi untuk mendapatkan habib Khalid dan dia cukup sadar diri dengan kualifikasinya yang tidak seberapa.


Tapi pikirannya langsung terbalik dalam waktu semalam. Malam itu dia melihat dan mendengar dengan jelas seberapa baik hubungan Aish dengan habib Khalid.


Mengobrol berdua di tengah malam, perlakuan ini tidak pernah santriwati manapun rasakan. Gadis cemburu.


Bila Aish yang dangkal dan bersikap buruk saja bisa mendapatkan perhatian habib Khalid, maka mengapa dia juga tidak bisa mendapatkannya?

__ADS_1


Logikanya, Gadis lebih baik berkali-kali lipat dari Aish karena itulah dia menghidupkan lagi mimpinya untuk mengejar habib Khalid.


"Astagfirullah...aku enggak nyangka dia sampai segitunya sama habib Thalib. Tapi aku heran, habib Thalib kok mau aja disuruh-suruh?" Heran temannya diam-diam meragukan cerita ini.


Gadis hanya tersenyum tipis dan tidak mengatakan apa-apa lagi.


...****...


Di dalam kamar asrama, Aish duduk termenung di atas ranjang. Menunduk ke bawah, matanya menatap skeptis pada surat mungil dan lucu yang ada di tangan kanannya. Surat ini belum dibuka sampai sekarang karena Aish terlalu sibuk dengan berbagai macam urusan dan barulah dia mengingat nya setelah selesai makan malam.


Aish mengambil nafas panjang dan mulai membuka setiap lipatan mungil kertas surat itu.


"Wahai Aisha Rumaisha..." Bisik Aish membaca namanya sendiri yang ditulis dengan huruf sambung yang indah dan cantik.


Seolah-olah namanya telah diukir dengan tangan yang hati-hati.


Belum pernah Aish merasa bila namanya ternyata sangat indah dan ia baru menyadarinya di atas guratan tangan yang indah pula ini.


"...aku senang melihatmu tinggal dan berbagi langit yang sama di tempat yang ini denganku. Khalid."


Bug


Bug


Bug


"Khalid..." Mata Aish menjadi basah.


"Aku senang melihatmu tinggal dan berbagi langit yang sama di tempat ini denganku..." Gumam Aish mengulangi isi kata-kata yang tertulis indah di atas kertas tipis itu.


Seketika Aish teringat dengan apa yang pernah habib Khalid katakan kepadanya sewaktu pulang pasar beberapa waktu yang lalu.


"Dan aku senang kamu tinggal bersamaku di sana..." Dengan suara rendahnya yang mengalun candu.


Kata-kata itu langsung terpatri di dalam hati Aish sejak hari itu. Dan ia sama sekali tidak menyangka bila Allah memberikannya kesempatan untuk mendapatkan kata-kata hangat lainnya, kata-kata yang tidak pernah dia harapkan selama ini.


Aish merasa dia akhirnya memiliki rumah. Tempat hangat yang sudah lama dia rindukan.


"Kak Khalid, tahukah kamu kata-kata ini sangat berbahaya. Wanita manapun yang membaca surat ini pasti akan menjadi salah paham. Lalu kak Khalid, apakah kamu tahu bila sepenggal kata-kata yang telah kamu tulis di dalam surat ini telah membuatku jatuh ke dalam rawa kesalahpahaman?" Melipat surat itu dengan hati-hati dan memegangnya dengan hati-hati, Aish kemudian menekuk lututnya, menjatuhkan kepalanya di atas lutut dengan kepala menyamping menatap kemilau bintang-bintang di luar sana melalui jendela kamarnya.

__ADS_1


"Kak Khalid, apa yang harus kulakukan sekarang? Aku mungkin sudah jatuh cinta kepadamu." Bisiknya manis dengan senyuman manis di wajah menawannya, semanis nektar di dalam hatinya yang masih belum surut.


"Kak Khalid..." Panggilnya merindu.


...****...


Pagi harinya semua orang kembali ke sawah untuk menyelesaikan panen terakhir. Setelah panen ini mungkin pondok pesantren harus menunggu 3 bulan lagi untuk menyelesaikan panen sayur yang lain. Dan setelah panen ini juga pondok pesantren tidak akan terlalu sering pergi ke pasar karena sebagian besar bahan dapur sudah ada di pondok.


Kecuali untuk membeli daging atau bumbu yang tidak bisa ditanam di pondok, pihak dapur tidak akan terlalu sering pergi ke pasar lagi.


Aish, Dira, dan Gisel berjalan-jalan di pinggiran sawah sambil mengamati apakah ada sayuran yang belum dipanen.


Saat sedang berjalan-jalan, tiba-tiba Aish berpapasan dengan Khalisa dan Meri. Aish meragukan pertemuan ini. Dia pikir mereka pasti sengaja menghadang mereka di sini.


"Kalian?" Khalisa menatap mereka bertiga dengan ekspresi kaget, sedetik kemudian dia tersenyum lembut,"Kalian mau kemana?" Tanyanya ramah.


Aish menatapnya datar.


"Piknik." Jawab Dira asal.


Meri langsung cemberut mendengar jawaban asal Dira. Tapi dia tidak bisa marah karena Khalisa sudah mengingatkannya dari sebelumnya agar tidak membuat masalah lagi.


"Piknik di sini juga bagus kok. Soalnya sawah pondok pesantren kita sejuk dan banyak pohon tempat untuk berteduh bila panas." Kata Khalisa tidak terganggu.


Aish mengangkat alisnya sambil berkata,"Kalau begitu kami tidak akan menggangu waktu santai mu. Ayo pergi." Kata Aish tidak mau memperpanjang pembicaraan.


Saat Aish, Dira, dan Gisel akan pergi, tiba-tiba Khalisa melangkah ke depan untuk menghalangi jalan Aish dengan ekspresi tegas di wajahnya.


"Ada apa?" Tanya Aish datar.


Khalisa tersenyum canggung,"Apa hubungan kamu dengan habib Thalib?" Tanyanya ragu-ragu.


Mendengar pertanyaannya, Aish langsung mengerti tujuannya di sini. Seperti tebakannya tadi, Khalisa dan Meri pasti sengaja mencegatnya di sini untuk menanyakan ini.


"Apa hubungan ku dengannya bukankah tidak ada hubungannya dengan mu?" Tanya Aish berpura-pura polos.


Bersambung...


Mahram Untuk Azira minta dikunjungi 🌺

__ADS_1


__ADS_2